Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

BELAJAR MENJADI TULUS HATI SEPERTI ST. YOSEPH

0 0

Pada Pesta Tiga Malaikat Agung, St. Mikhael, St. Gabriel, dan St. Rafael, Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael kembali merayakan 30 tahun berdirinya lembaga pendidikan calon imam ini, sekaligus bersyukur atas usia Imamat yang ke-25 dari salah satu pembina dan pendidiknya, RD. Theodorus Silab. Bersama keluarga dari RD. Theodorus Silab dan beberapa umat yang hadir, Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael menyatukan rasa syukur ini dalam Perayaan Ekaristi bersama pada hari Rabu, (29/9/2021), pukul 17.00 WITA di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang.

Dalam pengantarnya, Romo Theo yang menjadi selebran utama dalam Perayaan Ekaristi ini berujar bahwa melalui kerendahan hati, dia sungguh menyadari keterbatasan dan kerapuhan dirinya dalam menjawab panggilan Tuhan. “Hanya Tuhan yang memanggil, memilih, dan menyatukan saya dalam jalan panggilan ini. Bertepatan juga dengan Pesta Family Seminari Tinggi yang mengambil tema: Belajar Menjadi Tulus Hati Seperti St. Yoseph, saya merasakan bahwa ini bukan kebetulan melainkan kepastian cinta Tuhan yang setia menyertai saya dan lembaga ini dimana saya telah membaktikan diri selama 15 tahun untuk masa depan Gereja,” ujar Romo Prefek para Fratres Keuskupan Atambua ini. Rentang waktu 25 tahun disadari sebagai waktu yang cukup lama. Romo Theo yang mengambil motto Tahbisan: “Aku Senantiasa Menyertaimu (Matius 28:20),” menyadari bahwa kadang timbul kelelahan, kebosanan, bahkan godaan ketidaksetiaan, tapi Tuhan tetap Setia, yakni setia menyertai jalan imamat Romo Theo.

Para Frater menyambut Romo Theo, didampingi Romo Herman dan Romo Kornelis dengan tarian adat
Para Pembina, para Frater, dan tamu undangan dalam acara resepsi

Praeses Seminari Tinggi St. Mikhael, RD. Herman Punda Panda, dalam homilinya menyatakan dengan sedikit kelakar bahwa tidak mudah menyatukan tiga moment penting ini, “St. Mikhael, St. Yoseph, Romo Theo”. “Benang merah yang bisa kita tarik-tarik dari tiga moment ini adalah dibawah lingkup Gereja Universal dengan St. Yoseph sebagai pelindungnya,” ujar Romo Herman. Mengutip ucapan St. Yohanes Krisostomus, Romo Herman melanjutkan bahwa dalam Pesta Tiga Malaikat Agung, kita harus menyadari bahwa para malaikat berada di sekeliling Imam yang merayakan Ekaristi, dan seluruh ruangan dalam gereja dipenuhi dengan kuasa Surgawi untuk menyembah sujud Dia yang hadir di atas Altar. “Kita sedang berjuang melawan kuasa setan, bukan dengan kekuatan manusiawi namun dengan bantuan Kuasa Surgawi. Dalam perang ini kita memaksimalkan akal budi dan kehendak kita, dengan memilih yang baik dan menghindar yang jahat. Maka sebagai satu Komunitas, kita adalah Laskar St. Mikhael yang akan diutus sebagai malaikat yang adalah pembawa pesan Tuhan (Messenger of God), dimana saja kita diutus. Romo Theo juga adalah pembawa pesan Tuhan (Messenger of God) selama 15 tahun perutusannya di lembaga ini sebagai Prefek para Fratres Keuskupan Atambua, Wakil Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, dan Dosen Teologi Dogmatik. Romo Theo telah menempuh Jalan Malaikat, dengan tetap berupaya setia dalam pelayanan dan ketulusan hati seperti St. Yoseph,” ucap Romo Herman mengakhiri homilinya.

Para Frater Tingkat IV dan Suster berfoto bersama Yubilaris

Ketua panitia Pesta Family, RD. Kornelis Usboko, sebelum Perayaan Ekaristi berakhir, menyampaikan laporan tentang kegiatan perlombaan selama Pesta Family ini. “Para Frater dibagi dalam 6 kelompok yang mengambil keutamaan-keutamaan dari St. Yoseph, yakni Sincerus (Tulus Hati), Operarius (Pekerja), Fidelis (Setia), Protector (Pelindung), Exemplum (Teladan), dan Ministrare (Melayani), ujar Romo Kornelis dalam laporannya. Romo Kornelis pun mengundang Para Romo, Frater, dan tamu undangan yang hadir untuk mengikuti resepsi bersama di Kamar Makan Fratres. Dalam acara resepsi bersama ini, diumumkan bahwa Kelompok Operarius keluar sebagai juara pertama dalam perlombaan, disusul juara kedua sampai keenam yaitu kelompok Ministrare, Protector, Fidelis, Sincerus, dan Exemplum.

Leave a comment