Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Hati yang Mengampuni

0 5
  • Ada ungkapan “to err is human, but to forgive is divine” (Melakukan kesalahan itu manusiawi, tetapi mengampuni itu ilahi). Kesalahan itu dikatakan manusiawi dalam batas-batas kerapuhan manusia yang memang tidak sempurna. Namun, bukan berarti kesalahan yang sama boleh dilakukan berulang kali untuk menyembunyikan diri di balik ungkapan “kerapuhan manusiawi.” Namun, mengampuni tentu melampaui sikap manusiawi, sebab orang yang mengampuni melampaui hukum kesetimpalan manusiawi: yang buruk harus mendapatkan yang buruk, yang baik harus mendapat yang baik. Orang yang mengampuni mengambil “keserupaan dengan Tuhan” (ilahi) sebab dasar utama dari pengampunan adalah kasih. Dan Allah sendiri adalah kasih.
  • Bacaan-bacaan Minggu Biasa XXIV ini menggaungkan tema pengampunan sebagai tema yang khas Kristiani.
  • Alasan pengampunan adalah karena Allah telah lebih dahulu mengampuni. Bacaan Injil memberi gambaran iman bahwa dasar utama pengampunan adalah karena Allah telah terlebih dahulu berinisiatif untuk mengampuni. Sikap hati sang raja yang rela mengampuni si hamba yang berhutang besar kepadanya (10.000 talenta= 60 juta dinar) bertolak belakang dengan sikap hati si hamba yang begitu keras menghukum teman sesama hamba lain yang hanya berhutang 100 dinar. Perbandingan hutang yang begitu jauh: 100: 60.000.000. Padahal, keduanya sama-sama bersujud dan memohon untuk bersabar sampai dilunaskan hutangnya. (Bdk. rumusan ayat 26 dan 29 itu sama persis). Mengapa si hamba pertama tidak mengampuni hutang si hamba kedua, padahal si hamba kedua melakukan apa yang baru saja ia lakukan kepada Sang Raja? Jawabannya adalah karena si hamba “tidak memiliki hati yang tergerak oleh belas kasihan” (Ay. 27) seperti Sang Raja. Ungkapan “tergerak hati oleh belas kasih” ( splagchnizomai) adalah ungkapan biblis yang khas untuk menggambarkan sikap hati Allah.
  • Hati yang tidak mengampuni akan dikuasai dendam. Bacaan I memberikan nasihat konkret tentang pentingnya pengampunan. Orang yang sulit mengampuni dijajah dendam dan amarah. Pengampunan akan menyelamatkan 2 jiwa sekaligus: jiwa orang yang diampuni dan jiwa orang yang mengampuni. Ketika orang mengampuni, jiwanya akan selamat dari kuasa dendam dan amarah yang bekerja seperti racun bagi jiwa itu sendiri.
  • Orang yang mengampuni dekat dengan Kristus. Bacaan II memberikan dasar teologis dalam kebersamaan. “Tidak ada orang yang hidup untuk dirinya sendiri…” Manusia tidak lepas dari lingkaran kebersamaan. Tetapi, Rasul Paulus menegaskan lebih jauh “jika kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan.” (ay.8). Orang yang tidak hidup untuk dirinya sendiri berarti hidup bagi Tuhan. Orang yang gagal mengampuni berarti menutup hati untuk dirinya sendiri dan tentu hati yang tertutup itu juga akan jauh dari Tuhan. Orang yang mengampuni akan terbuka hatinya. Dan hati yang terbuka akan dekat dengan Tuhan.
  • Terkadang seperti Petrus, kita sering hanya sampai pada kalkulasi kesalahan, tapi sulit untuk melampaui kalkulasi itu dengan ukuran Tuhan “70×7” sebagai ungkapan “kesempurnaan” dalam mengampuni. Untuk sampai pada ukuran Tuhan memang butuh perjuangan. Sulit bukan berarti mustahil untuk diperjuangkan.
Leave a comment