Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

KASIH KEPADA TUHAN DAN SESAMA

0 135

Sesungguhnya wajah dunia kita kini sedang dibalut aneka masalah: pengrusakan lingkungan hidup, pemanasan global, kekeringan yang berkepanjangan, bahaya banjir, penyusutan ketersediaan pangan, kemiskinan, korupsi-kolusi-nepotisme, kekerasan, pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan lain-lain.  Di mana-mana manusia hidup dalam konflik, permusuhan dan peperangan yang menimbulkan kecemasan, ketakutan dan ketidaknyamanan; memudarnya sikap toleransi, kerukunan, perdamaian dan cinta-kasih. Bangsa yang satu melawan bangsa yang lain;  suku yang satu melawan suku yang lain; agama yang satu melawan agama yang lain. Tragedi perang antara Israel dan Palestina yang sedang berlangsung, telah menelan ribuan korban jiwa, sekaligus meninggalkan trauma dan derita mendalam, khususnya bagi para warga sipil, teristimewa para ibu dan anak-anak yang tidak bersalah. Berhadapan dengan aneka masalah global seperti ini, ketika kita sendiri melihat dan menyaksikan derita mereka, masihkah kita berpikir, “Ah, mereka kan bukan keluargaku; bukan orang dekatku; bukan kaum sebangsa, sesuku, atau seagama denganku. Untuk apa peduli dan prihatin? Jika memang ini yang terjadi, di manakah rasa cinta, solidaritas, dan belarasa kita sebagai sesama umat manusia?”

Percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi dalam Injil hari ini (Mat 22:34-40) dimulai dengan niat yang jahat dari pihak pemuka agama Yahudi. Maksud mereka yaitu ingin mencobai Yesus. Tetapi Yesus memakai kesempatan ini untuk menegaskan kembali prinsip dasar hidup manusia, baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungan antar manusia.

Pertanyaan orang-orang Farisi: “Manakah hukum yang terutama dalam hukum Taurat?”. Sebenarnya mereka sudah tahu jawabannya, karena sebagai ahli agama, mereka tentu tahu apa yang telah tertulis dalam Hukum Taurat. Bahkan sebenarnya hampir semua umat Yahudi menghafal betul hukum utama itu, karena merupakan bagian dari doa harian mereka, yang disebut Shema (suatu pujian untuk Allah dan penyerahan diri manusia yang total kepada cintakasihNya). Doa ini tertulis dalam kitab Ulangan 6:4-5 “Dengarlah hai Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa; kasihilah Dia dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Tentu penegasan Yesus ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka, bahkan juga mempermalukan mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu, padahal itu sudah menjadi doa harian mereka; semacam credo/syahadat/pengakuan iman bangsa Israel. Karena itulah maka setelah mendengar jawaban Yesus, mereka tidak bisa komentar apa-apa lagi.

Namun, penegasan Yesus tidak berhenti di situ. Bahwa cinta kepada Allah itu bukanlah sesuatu yang tertutup dan bersifat khayalan belaka. Yesus memperluas wawasan dan pemahaman mereka, bahwa cinta kepada Allah hanya bisa terungkap dalam praktek cinta terhadap sesama. Karena itu, Yesus lalu melanjutkan: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Di sini Yesus mau menunjukkan bahwa hukum kedua ini sama dengan hukum pertama. Artinya, hubungan cinta manusia dengan Allah haruslah tercermin dan terlihat dalam hubungan cinta-kasih antar manusia. Itulah hal baru yang Yesus ajarkan, sekaligus  untuk menunjukkan bahwa pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi.”

Kita tahu bahwa kaum Farisi dan kebanyakan orang Yahudi sampai dengan zaman Yesus sangat sempit pemahaman mereka tentang sesama. Bagi mereka, sesama artinya yang sebangsa, sesuku dan seagama; di luar itu, dianggap orang asing,  kafir dan bahkan musuh atau lawan yang harus disingkirkan. Karena itu, tidak heran kalau dalam bacaan pertama dari kitab Keluaran 22:21-27, kita mendengar bagaimana Allah dengan keras melarang umat Israel menindas dan menekan orang-orang asing di sekitar mereka. Secara lebih tajam dan radikal, dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk, 10:25-37), Yesus mau menunjukkan kepada kaum sebangsaNya sendiri, bahwa yang mereka anggap asing, kafir, musuh dan lawan, yaitu orang Samaria, justru telah menunjukkan kebajikan cinta-kasih yang mengatasi semua bentuk pengkotak-kotakan yang sering dan biasa dibuat manusia.

Memang benar bahwa mengasihi Allah dengan sepenuh-penuhnya, adalah hukum yang pertama. Tetapi Yesus juga menyetarakan kasih kepada sesama dengan kasih kepada Allah. St. Yohanes malah berkata: “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya; jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20). Dalam kasih kepada sesama, menjadi nyatalah kasih kepada Allah. Dengan kata lain, kasih kepada sesama merupakan ekspresi atau ungkapan kasih kepada Tuhan, “Barangsiapa mengasihi sesama manusia, ia sudah memenuhi hukum; kasih adalah kepenuhan hukum” (Rm 13:8.10). “Seluruh hukum terpenuhi dalam satu firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Gal 5:14).  Karena itu juga pada akhir zaman, orang akan diadili menurut apa yang telah dibuatnya terhadap sesama: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Pada saat itu, orang tidak akan ditanya, “berapa sering kamu menyebut nama Tuhan; atau berapa kali kamu menghadiri ibadat/misa hari Minggu; atau berapa kali kamu berdoa dalam sehari; atau berapa banyak devosi yang kamu lakukan, dan seterusnya”. Semuanya ini memang perlu, tetapi belum cukup, kalau belum dikonkretkan dalam tindakan kasih yang nyata kepada “sesama” (termasuk lawan dan musuh sekalipun), sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan yang tidak kelihatan.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kita bahwa:

  1. Cinta kepada Allah berarti meletakkan-Nya di tempat pertama, menghormati Nama-Nya, dan menjadikan Hari-Nya [Hari Sabat; atau hari Minggu bagi kita] sebagai suci. Mencintai Allah berarti pengabdian seluruh diri kepada kehendak-Nya, meletakkan-Nya di tempat pertama dalam pikiran dan hati, berbicara dengan hormat tentang-Nya, dan menjadikan Hari-Nya sebagai hari doa dan rekreasi yang sejati, sebuah hari untuk mematuhi Hukum-Nya. Cinta kepada Allah mengubah kehidupan setiap saat sepanjang hari (KGK, No. 2083)
  2. Cinta terhadap sesama berarti menghormati orang lain, hubungan mereka, reputasi mereka, dan properti mereka. Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18 menunjukkan cinta dalam tindakan. Mencintai sesama seperti diri sendiri berarti melihat dan memperlakukan orang lain dengan penghargaan yang Allah berikan kepada mereka. Cinta ini dimulai di rumah dengan orangtua kita. Kemudian, cinta ini meluas kepada orang lain di luar keluarga dan teman-teman kita, bahkan kepada orang asing, terutama kepada yang miskin, yang sakit, dan yang berdosa. Cinta terhadap sesama tidak mengenal batas nasional, perbedaan kelas, atau hambatan apa pun, karena Allah tidak mengenal hambatan tersebut (KGK, No. 2196).

Seorang penulis Inggris, G. K. Chesterton, pernah mengamati bahwa “Alkitab mengatakan kepada kita untuk mencintai sesama kita, dan juga untuk mencintai musuh kita, mungkin karena mereka biasanya adalah orang yang sama!” Yesus menegaskan prinsip bahwa kita harus mencintai sesama kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri karena kita semua adalah ciptaan Allah, dan menghormati gambaran Allah berati menghormati Allah sendiri. Kasih Allah memiliki prioritas dan merupakan sumber kasih kita terhadap sesama. Dalam diri sesama, kita melihat sesuatu dari Allah: makhluk-Nya, gambaran dan keserupaan-Nya, serta anak angkat-Nya. Jika kita mencintai Allah, maka kita juga harus mencintai gambaran-Nya, karya tangan-Nya. Allah melakukan kontak harian dengan kita melalui orang-orang di sekitar kita. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa kasih terhadap sesama merupakan sebuah tindakan, dan bukan sekadar perasaan belaka, di mana kita berbagi dengan orang lain kasih yang gratis dan tanpa syarat yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Inilah kasih terhadap sesama yang diperintahkan Allah dalam hukum-Nya. Karena orang-orang Yahudi menganggap bahwa yang dimaksudkan dengan sesama  adalah kaum sebangsanya saja, maka Yesus dalam Injil Lukas (10:25-37) menyampaikan perumpamaan tentang orang Samaria yang Baik, untuk menunjukkan kepada mereka siapa sesungguhnya yang Allah maksudkan dengan “sesama”. Kiranya perintah utama cinta-kasih kepada Tuhan dan sesama sebagaimana dimaksudkan Yesus dapat  hayati dalam hidup kita setiap hari. Mudah-mudahan….Amin.

 

 

Leave a comment