Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Kedatangan Emanuel Menghancurkan Skeptis dan Apatis

0 10

Kamis Pekan Prapaskah V 

HR Kabar Sukacita

Bacaan I          : Yes.7:10-14.8:10

Bacaan II         : Ibr: 10: 4-10

Bacaan Injil     : Luk.1:26-38

 

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan pesan kepada Raja Ahas untuk meminta suatu tanda yang bisa meyakinkan dia. Namun karena iman Ahas yang begitu teguh, maka ia menolak untuk meminta kepada Tuhan. Ahas sendiri mempunyai pemahaman bahwa meminta suatu tanda kepada Tuhan, merupakan suatu tindakan yang menggambarkan bahwa ia tidak mempuyai iman kepercayaan akan kuasa Tuhan di tengah kehidupan manusia. Sehingga, seakan-akan melalui permintaan, ia telah mencobai Tuhan. Penolakan Ahas dalam membuat permintaan kepada Tuhan, di tanggapi oleh Yesaya sebagai suatu tindakan yang sangat baik dan patut dicontohi dalam kehidupan umat beriman. Yesaya mengungkapkan bahwa cukuplah sudah menggunakan sifat manusia yang sering menyusahkan Tuhan. Sifat manusia yang sering menyusahkan Tuhan ialah sifat skeptis. Skeptis sendiri tumbuh menjamur dalam diri manusia oleh sebab kurang percaya dan ragu-ragu dalam menanggapi akan suatu hal sebelum melihat secara nyata. Sifat Skeptis juga muncul karena manusia lebih banyak mengandalkan indra penglihatan dari pada menggunakan batin sebagai pengolah iman. Keteguhan iman kepercayaan Raja Ahas akan kedatangan Imanuel telah meyakinkan Nabi Yesaya sehingga keputusan akhir adalah keputusan dari Tuhan sendiri dalam memberikan tanda. Raja Ahas dan Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengajak kita untuk percaya akan kedatangan dan kehadiran Sang Imanuel dalam kehidupan manusia, tanpa tanda dari Tuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas menceritakan kedatangan Imanuel yang dikabarkan melalui malaikat Gabriel kepada seorang wanita di Nazaret yang bernama Maria. Allah telah memperhitungkan segalanya sebelum menetapkan Maria sebagai ibu yang melahirkan Imanuel dalam rupa Yesus Kristus. Melalui Maria Allah mewujudkan tanda-Nya secara nyata akan kehadiran Imanuel.  walau sempat ada keraguan pada Maria karena belum bersuami, namun Malaikat Gabriel meneguhkan dia bahwa kuasa Allah akan bekerja melalui karya Roh Kudus. Pada situasi demikian, bukan hanya Maria sendiri yang mengalami kuasa Allah tetapi ada juga saudaranya Elisabet yang terlebih dahulu telah mengalami hal demikian. Maria menerima kenyataan itu sebagai berkat terhadap dirinya selaku seorang hamba Tuhan. Maria menjadi seorang tokoh ibu yang sangat taat pada keputusan Tuhan tanpa memperhitungkan besarnya tugas yang diberikan terhadapnya. Ia menjadi cerminan hidup bagi kita dalam menjalankan tugas yang diberikan Tuhan pada kita tanpa mempersoalkan besar kecilnya tugas yang diterima.

Kenyataan dalam kehidupan sekarang, banyak dari antara kita lebih cenderung bersifat skeptis dan apatis. Orang suka ragu-ragu mengenai kehadiran Imanuel dalam pewartaan Injil karena tidak pernah melihat secara nyata rupa sang Emanuel. Akibat dari keragu-raguan banyak dari antara kita yang tidak percaya lalu masa bodoh dengan tugas dan talenta yang telah Tuhan wariskan kepada kita untuk mengembangkan Gereja. Kita lebih banyak mencari kesenangan tidak mau mederita memikul salib bersama Yesus untuk mewujudkan karya keselamatan-Nya terhadap dunia. Kita membuat diri kita tidak berguna dihadapan Tuhan dan dunia. Seakan-akan kita adalah babu yang diperbudak oleh dosa skeptis dan apatis. Marilah bersama Bunda maria kita menciptakan solusi yang mampu membentuk kepribadian kita menjadi orang yang beriman dengan percaya, menerima, dan menjalankan tanggung jawab kita sebagai orang yang berguna bagi masa depan gereja, negara , dan dunia. Menjalankan tanggung jawab dengan mengandalkan Tuhan secara total tanpa memperhitungkan besar dan kecilnya masalah yang dihadapi, merupakan jalan keluar mencapai kesuksesan dalam hidup.

Leave a comment