Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

KOMUNIKASI DI ERA POST-TRUTH : Tantangan Menjelang Pemilu 2024 di Indonesia

Fr. Antonius Rivaldo Hani (Ketua BEM FF Unwira).

0 76

Dewasa ini, ada begitu banyak pendapat subjektif dan emosional atau bernuansa perasaan yang mempengaruhi opini publik, sehingga tidak bisa membedakan antara opini dan yang betul-betul fakta (Kurniawan 2018). Hal ini yang secara terminologi disebut post-truth. Istilah post-truth hampir sama pengertian dengan hoax, tetapi hoax lebih pada berita bohong atau informasi yang tidak benar atau tidak valid yang menyebar di dalam masyarakat secara luas baik itu informasi secara langsung maupun informasi yang disampaikan melalui plattform media sosial. Komunikasi merupakan fondasi utama dalam pembentukan pandagan dan pemahaman masyarakat terhadap dunia (Alfiyani 2018). Namun, di era post-truth yang semakin mengemuka belakangan ini, tantangan dalam komunikasi menjadi semakin kompleks, terutama menjelang Pemilu 2024 di Indonesia.

Ada begitu banyak informasi yang diterima oleh masyarakat publik menjelang Pemilu 2024. Informasi-informasi yang diterima bertebaran dalam bentuk informasi secara langsung maupun melalui plattform media sosial berupa tindakan menjelekkan serta membandingkan-bandingkan, sehingga informasi itu merajalela dan mempengaruhi pandagan masyarakat. Informasi yang menyebar di media sosial sering kali mengandung judul yang menarik perhatian dan fitur berbagi yang menguntungkan untuk menjadi viral dalam waktu singkat. Hal ini berdampak pada banyaknya orang yang langsung menerima, mempercayai, dan memberikan informasi tersebut tampa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu. Situasi demikian menimbulkan dampak negatif dalam pandagan masyarakat yakni penurunan kepercayaan public. Masyarakat menjadi semakin skeptis terhadap informasi yang mereka terima karena adanya penyebaran informasi yang tidak benar. Hal ini dapat menghambat kepercayan publik terhadap institut, media, pemerintah dan dapat menyebabkan rentannya komunikasi yang berbasis kebenaran antar sesama. Sebagian orang tidak lagi melakukan komunikasi dengan alasan bahwa yang dibicarakan itu merupakan suatu perasaan atau emosi yang dengan sengaja mempengaruhi opini publik.

Post-truth adalah fenomena di mana opini dan emosi lebih berpengaruh daripada fakta dan kebenaran dalam membentuk pandangan politik publik (Kurniawan 2018). Politisi, media dan bahkan masyarakat umum seringkali memanfaatkan informasi yang tidak akurat atau bahkan bohong untuk mencapai tujuan politik mereka. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam hal pembedaan antara fakta dan opini, sehingga masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi dan disinformasi.

Dalam konteks Pemilu 2024 di Indonesia, komunikasi yang terpercaya dan jujur menjadi krusial dalam memastikan proses demokrasi berjalan dengan baik. Dalam situasi di mana disinfromasi merajalela, upaya untuk membagun wawasan yang akurat menjadi sangat penting. Peran media, baik media konvensional maupun sosial media, sangat signifikan dalam menyebarluaskan informasi yang benar dan terverifikasi. Media harus mengedepankan integritas dan profesionalisme dalam menyajikan berita, tanpa campur tangan politik atau kepentingan bisnis.

Selain media, politisi dan partai politik juga memegang peranan penting dalam membangun komunikasi yang berbasis pada kebenaran dan nilai-nilai demokrasi. Mereka harus menjaga etika politik dengan tidak menyebarkan berita bohong atau menyalahgunakan data. Transparansi, akuntabilitas, dan debat berdasarkan argumen yang komprehensif harus juga menjadi fokus dalam komunikasi politik.

Namun tanggung jawab ini tidak hanya pada media dan politisi. Masyarakat juga memiliki peran yang penting dalam menghadapi tantangan komunikasi di era post-truth. Pendidikan media dan literasi menjadi sangat penting untuk membantu masyarakat dalam mengenali dan mengkritisi informasi yang mereka terima. Semakin peka dan cerdas masyarakat akan disinformasi, semakin sulit disinformasi tersebut untuk diterima dan menyebar dalam kehidupan bermasyarakat.

Di era post-truth, komunikasi menjadi tantangan kritis, khususnya dalam konteks menjelang Pemilu 2024 di Indonesia. Dalam situasi di mana informasi yang tidak benar dan disinformasi sangat meluas, media, politisi, dan masyarakat memiliki peranan yang sangat krusial dalam membangun komunikasi yang jujur, bertanggung jawab, dan berbasis pada fakta. Hanya dengan upaya bersama, kita dapat melawan disinformasi dan memastikan Pemilu berlangsung dalam suasana yag terbuka, adil, dan demokratis.

 

Fr. Antonius Rivaldo Hani

(Ketua BEM FF Unwira).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENJALARNYA POST-TRUTH

DALAM KOMUNIKASI POLITIK

 

Pada masa sekarang, manusia masuk dalam situasi di mana kebenaran tunggal diabaikan atau ditolak sama sekali. Tidak ada lagi kebenaran yang universal, tidak ada lagi keyakinan yang umum. Yang ada hanyalah kebenaran yang bersifat partikular, kebenaran yang diakui berdasarkan konteksnya atau kebenaran yang sifatnya personal. Inilah suatu bentuk transisi dari masa modern ke masa post-modern. Dalam masa post-modern ini, setiap orang menjalani kehidupan dalam suatu relativisme yang amat kental dan menuju pada kondisi radikal. Masa yang penuh dengan kebebasan berekspresi dan menentukan pilihan hidup menjadikan setiap orang bergerak dalam ruang dan waktu yang tidak lagi sama. Masing-masing punya ruang dan waktu idealnya sendiri. Keyakinan akan kebenaran yang umum tidak dapat lagi menjadi konsensus komunal. Setiap orang hidup sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Segala hal yang dilakukan dan dihayati dalam hidup amat bergantung pada peran emosional yang muncul. Hal ini mengakibatkan adanya kebenaran yang tidak lagi mutlak dan tetap, karena setiap orang hidup dan menjalani kehidupan berdasarkan dorongan emosional dan mental.

Keyakinan yang muncul karena adanya dorongan emosional dan mental inilah bentuk paling nyata dari post truth. Post truth tidak berarti bahwa kebenaran menjadi hilang atau tidak ada sama sekali, namun kebenaran yang ada ditolak secara mentah-mentah. Kebenaran ditolak dan yang diterima ialah keyakinan pribadi untuk mempercayai suatu hal. Hal ini berarti bahwa keyakinan yang dianut murni memiliki unsur subjektif. Kebenaran yang objektif diingkari dan kebenaran yang diyakini berdasarkan dorongan emosional dan mental diterima dan diklaim sebagai sesuatu yang tepat. Masyarakat Indonesia saat ini juga sedang hidup dalam bayang-bayang post truth, di mana media sosial menjadi sarana paling ampuh untuk melanggengkan suburnya ‘bursa transfer’ spirit post truth. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh akun website“We are Social” pada April 2023, dikatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat secara signifikan, dan diperkirakan akan terus berkembang hingga mencapai 215 juta pengguna pada tahun 2023. Dari total penduduk dunia yang berjumlah 8,01 milyar, terdapat sejumlah 5,16 milyar pengguna internet yang mana di antaranya terdapat sejumlah 4,76 milyar pengguna media sosial aktif. Dan menariknya, ditemukan bahwa alasan utama penggunaan internet terbanyak ialah untuk menemukan informasi dengan jumlah presentase 83,2 % (wearesocial.com). Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa internet dan media sosial menjadi sarana yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak sampai lansia.

Satu pertanyaan yang perlu didalami berkaitan dengan fakta post truth ialah mungkinkah ada ancaman yang timbul dari sikap tidak menerima kebenaran mutlak dan menerima kebenaran yang hanya keluar dari kesadaran dan dorongan emosional? Dalam masa-masa politik yang mewarnai setiap segi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, apakah post truth memiliki pengaruh? Adakah cara yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan menggelegarnya post truth dalam tubuh komunikasi perpolitikan di Indonesia?

Post- Truth Merongrong Jantung Komunikasi Politik

Dalam konteks perpolitikan di Indonesia saat ini, kebenaran yang ditebarkan melalui media sosial menjadi plural. Sama sekali tidak ada kebenaran tunggal yang dapat dijadikan rujukan. Gianni Vattimo, seorang pemikir asal Italia sebenarnya menaruh simpatik pada adanya media sosial. Media sosial memiliki peran yang baik dalam kehidupan bersama, karena banyak informasi (sebagai kebenaran) yang dapat disebarkan secara luas. Hal ini memberi pengaruh positif, karena semua orang dapat mengetahui kebenaran yang dimaksud. Namun, apakah dalam konteks perpolitikan di Indonesia seperti keadaan menjelang Pemilu saat ini, informasi-informasi yang dianggap sebagai kebenaran berdasarkan emosi yang disebarkan secara umum oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu dapat dibenarkan? Bukankah ini sebuah ancaman? Karena tentu setiap kelompok yang beroposisi memiliki kepentingan dan tujuannya masing-masing untuk menyuburkan kelompoknya dengan cara menyebarkan informasi tertentu yang sebenarnya perlu dipertanyakan kebenarannya. Kebenaran yang dikondisikan tersebut sengaja dibuat untuk membentuk atau memainkan emosional masyarakat luas demi mendapat keyakinan bahwa kelompok mereka paling benar dan mengabaikan kebenaran yang objektif.

Mereka yang merupakan pelaku utama pembuat kebenaran yang terkondisikan dan para konsumen yang dikondisikan ini bagi Jean Lyotard disebut sebagai korban dari paralogi dalam lingkup pemikiran post modern. Paralogi dapat diartikan sebagai suatu gerakan yang menentang cara penalaran yang mapan. Dalam hal ini, terjadi suatu produksi ide. Lyotard membedakan antara produksi ide dan kebenaran. Produksi ide selalu berarti adanya kedinamisan dalam kehidupan. Sementara produksi kebenaran selalu dalam pengertian yang statis, artinya kebenaran selalu bersifat tetap. Dalam kehidupan, ide selalu mengalami perubahan sesuai konteks. Atau, dalam kaitannya dengan pengkondisian kebenaran demi tujuan tertentu dalam dunia perpolitikan, ide terus diproduksi sedemikian rupa agar sejalan dan seirama dengan usaha pencapaian tujuan yang dimaksud. Lyotard mengatakan bahwa adanya paralogi ini merupakan akibat dari penggunaan komputer yang masif. Dalam komputer atau internet terdapat semua hal yang dapat diperoleh secara instan oleh manusia. Maka, manusia tidak perlu melakukan kerja otak yang maksimal untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Cukup dengan mencarinya dalam komputer, maka semuanya dapat diperoleh. Bagi Lyotard, hal ini merupakan suatu bentuk penghinaan bagi manusia, karena manusia itu sendiri sebenarnya sudah terasing dari dirinya sendiri yang seharusnya memiliki kapasitas untuk mengurai atau menciptakan sendiri apa yang telah diberikan atau didapat dari komputer atau internet. Dalam internet, setiap orang dapat memberikan informasi dan menerima informasi. Transaksi informasi seperti inilah terkadang menjadi lahan subur bagi pertumbuhan paralogisme. Penalaran yang mapan, cara memproduksi pengetahuan yang objektif tidak lagi diperhatikan. Setiap orang menciptakan suatu informasi baru yang lebih menekankan seni persuasif untuk bisa mempengaruhi orang lain. Orang lain berusaha dipengaruhi dengan berbagai manipulasi data dan sebagainya, sehingga di sini bukan lagi produksi kebenaran yang diutamakan melainkan performativitas. Performativitas di sini dimaksudkan Lyotard sebagai suatu keadaan di mana profesionalitas seseorang tidak lagi digunakan untuk menjalankan tugasnya sesuai profesi melainkan hanya untuk melayani kepentingan kekuasaan. Sebagai contoh, pengamat politik atau seorang hakim dihadirkan bukan lagi untuk menemukan kebenaran melainkan untuk melayani kekuasaan.

Permainan politik di Indonesia tentu memiliki jaringan siaran televisi atau media massa-nya masing-masing yang kemudian menjadi sarana untuk menarik simpati masyarakat. Hal ini menggambarkan adanya peperangan halus dalam media massa atau internet untuk memenangkan emosi masyarakat dan membentuk kebenaran yang terkondisikan agar dapat diterima oleh masyarakat umum. Dalam situasi seperti inilah kebanyakan masyarakat Indonesia jatuh dalam realitas post truth, yakni ketika kebenaran yang dikondisikan tersebut menyentuh emosinya sehingga ia tertarik dan terjerumus untuk menjadikannya sebagai keyakinan yang dipegang teguh. Kebanyakan masyarakat Indonesia hanya bisa memantau perkembangan perang politik yang terjadi melalui internet atau media massa. Tidak semua masyarakat punya akses yang memadai untuk mencapai informasi yang benar. Bahkan ada yang hanya mendengarkan informasi lewat tetangga atau kenalan yang kebetulan menyaksikannya di televisi atau media online lainnya. Kembali pada Gianni Vattimo yang menaruh optimisme pada kehadiran media massa, sebenarnya media massa dan internet memang sangat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi. Namun, di satu sisi ada keraguan tentang cara masyarakat dalam mencerna informasi yang diterimanya. Ketika informasi menyentuh emosi yang merupakan suatu aspek sangat pribadi dari manusia, maka akan sulit bagi seseorang untuk menerima kebenaran yang objektif. Merebaknya berbagai informasi ke berbagai pelosok negeri menjadikan kebenaran bernuansa estetis, yakni kebenaran berdasarkan penafsiran masing-masing orang. Dari satu informasi saja, masing-masing orang bisa menafsir dengan caranya sehingga kebenaran yang ditimbulkan menjadi kebenarannya sendiri.

Realitas post truth merupakan candu sekaligus racun bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Disebut candu karena setiap orang ketagihan untuk menerapkannya. Post truth ‘memberikan’ kewenangan penuh pada masing-masing pribadi untuk menentukan kebenaran sesuai kesadaran emosionalnya dan menolak untuk mengakui adanya kebenaran objektif. Setiap orang lebih memilih hidup berdasarkan kebenaran yang diyakininya sendiri dan mengabaikan kebenaran yang objektif. Di sisi lain, post truth juga menjadi racun karena akan mengaburkan kebenaran-kebenaran umum atau objektif. Pengabaian terhadap kebenaran objektif sama saja dengan pengingkaran terhadap kehidupan bersama yang berjalan teratur. Dalam posisi seperti ini, setiap orang mestinya mampu membatasi diri dalam memberikan penafsiran terhadap berbagai informasi yang ada sehingga tidak terlampau melewati batas kapasitasnya sendiri untuk memahami informasi tersebut. Perlu memberi batasan yang tegas dalam menyikapi setiap informasi untuk dicerna dan ditafsirkan. Jika ada sebuah informasi yang memang berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, maka alangkah baiknya untuk mengurungkan niat untuk menafsirnya sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang keliru dan cenderung condong pada keadaan emosional, yang pada akhirnya melahirkan kebenaran atau keyakinan yang semu dan bertolak belakang dengan kebenaran objektif.

 

Fr. Irenius Bhoko

Pengurus BEM FF Unwira,

Anggota KOPI (Komunitas Pikiran) Fakultas Filsafat Unwira

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENANGGAPI FENOMENA POST-TRUTH:

Tinjauan Etika Joseph Butler

 

Manusia pada hakekatnya tidak pernah puas dengan apa yang sudah diperoleh,. Ketidakpuasan ini juga merambah pada bidang pengetahuan dan juga pada proses pencarian kebenaran. Ilmu pengetahuan terus saja tumbuh secara dinamis dan berjalan ke arah yang lebih kompleks. Tentu ini tidak terlepas dari adanya ketidakpuasan dalam diri manusia yang akhirnya membawa perubahan karena banyaknya persoalan dan juga kebutuhan. Masa ini disebut sebagai era postmodernisme. Era postmodernisme muncul karena adanya  kegagalan modernisme dalam mengangkat martabat manusia. Bagi modernisme, kebenaran bersifat mutlak dan objektif, tidak adanya nilai dari manusia.[1] Sedangkan bagi postmodernisme, kebenaran itu relatif karena ilmu pengetahuan tidaklah objektif tetapi subjektif. Dan akhirnya, paham ini melahirkan suatu kebenaran baru yang dikenal dengan post truth

Kebenaran bukanlah hal yang baru lagi. Pada tataran yang sempit, kebenaran adalah lawan dari kesalahan, kepalsuan. Kebenaran secara singkat bisa berarti persesuaian antara ide dan realitas. Namun untuk bisa menemukan korenspondensi antara keduanya, perlu ada pengetahuan yang memadai. Kebenaran selalu berhubungan dengan pengetahuan, dan untuk menjamin suatu kebenaran sebagai turunan dari pengetahuan, maka pengetahuan yang kita peroleh harus juga berasal dari sumber yang benar.

Dalam bidang ilmu filsafat, terjadi silang pendapat antara idealisme dan realisme, antara rasionalisme dan juga empirisme. Ketidaksesuaian pendapat ini merupakan evolusi dari pikiran manusia dalam merumuskan kebenaran.[2] Siklus seperti ini memang akan terus berlanjut tanpa titik akhir. Oleh karena itu, dibentuklah abstraksi dari kebenaran yang dilihat dari berbagai aspek dan juga perspektif. Ada beberapa teori yang kita kenal dan sering digunakan oleh khalayak yakni, teori korespondensi, teori koherensi, teori pragmatis, teori performa, dan juga teori konsensus. Teori-teori yang ada, menjadi pandangan yang bersifat objektif dan menjadi tolak ukur menilai suatu kebenaran. Lalu apa itu kebenaran di era postmodernisme?

Post Truth (Pasca Kebenaran)

Secara etimologis, post truth berasal dari bahasa Inggris; post berarti pasca atau setelah, dan truth artinya kebenaran. Kedua kata ini jika disatukan menjadi post truth memiliki arti pasca kebenaran atau setelah kebenaran. Lalu muncul pertanyaan, apa itu pasca kebenaran? Ada banyak asumsi liar yang berkembang dewasa ini, di mana emosi dan keyakinan mengalahkan argumentasi berbasis data, di mana kebenaran dan kebohongan menjadi samar-samar. Apakah ini yang dimaksud dengan pasca kebenaran?[3]

Kondisi zaman dewasa ini disebut sebagai era postmodernisme. Lalu apa Postmodernisme itu? Postmodernisme adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut sebuah pandangan, kerangka pemikiran, atau aliran filsafat yang berkaitan dengan sikap dan cara berpikir yang muncul di abad dua puluh dari para pemikir dunia yang tentu saja keberadaannya sangat mempengaruhi perkembangan dan kebudayaan manusia. Tentu kehadirannya untuk mengkritisi pandangan-pandangan yang telah ada sebelumnya serta menawarkan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh manusia hari ini.

Sampai sekarang istilah postmodernisme masih belum jelas dan masih kontroversial, tetapi perkembangan postmodernisme sudah dan tetap akan merambah sampai meruntuhkan asumsi-asumsi dasar yang sudah dibangun oleh masyarakat sebelumnya. Asumsi-asumsi dasar yang dimaksud ialah: pertama, nilai kebenaran bersifat relatif karena setiap individu bebas menafsirkan fenomena yang dilihat dan dirasakan sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya, sehingga kebenaran tidak bersifat objektif. Kedua, pemikiran terdahulu tidak dapat mengatasi krisis sosial-kultural saat ini.

Kehadiran post truth tidak terlepas dari berkembangnya postmodernisme. Kamus Oxford mendefinisikan pasca kebenaran sebagai berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan kepercayaan pribadi.[4] Dengan adanya defenisi ini, teori kebenaran yang sudah ada menjadi runtuh karena fakta digantikan dengan emosi dan kepercayaan pribadi. Pasca kebenaran menjadi gambaran kondisi kebenaran saat ini.

Post truth menjadi payung yang menaungi beberapa konsep di antaranya: 1) simulakra, yaitu situasi di mana batas-batas antara kebenaran dan kepalsuan semakin sulit dan kabur untuk dibedakan. Realitas yang ada adalah realitas yang semu dan realitas hasil simulasi, 2) pseudo-event, yaitu sesuatu yang dibuat dan diadakan untuk membentuk citra dan opini publik, padahal bukan realitas sesungguhnya dan 3) pseudosophy, yaitu upaya menghasilkan sesuatu realitas sosial, politik dan budaya yang sekilas tampak nyata padahal sebenarnya adalah palsu. Masyarakat lalu dikondisikan untuk lebih percaya pada ilusi yang dihasilkan daripada realitas yang sesungguhnya.

Post truth memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan kebudayaan sebelumnya. Ciri-cirinya demikian: menyebar fitnah, ungkapan bernada tendensius yang bernuansakan hate speech, berita palsu, berita aneh, atau hoaks bertebaran dan mengotori ekosistem informasi, atau pertengkaran antara seorang warga net dengan netizen lain menjadi pemandangan yang biasa. Namun karena selalu dipraktikkan akhirnya menjadi pengondisian dalam kognisi publik hingga menjadi kebiasaan dan cara yang hidup dalam zaman post truth.[5] Perkembangan  post truth tersebar melalui media sosial seperti hoax, dll.

Persoalan media tentu saja berpampak pada bidang-bidang lain seperti di bidang politik. Sekarang saja sudah banyak narasi mengenai pemilu di tahun 2024. Paradigma pasca kebenaran ini sudah menciptakan sebuah narasi atau opini publik mengenai Pemilu yang terus berkembang yang kemudian memungkinkan banyaknya kebohongan-kebohongan yang terjadi dalam realitas objektif. Hal ini menjadi mungkin karena media sosial dapat diakses oleh siapapun, kapan pun dan di mana pun yang menyebabkan keseluruhan konten (yang benar maupun yang tidak benar) sampai pada masyarakat begitu saja. Hal ini menyebabkan masyarakat era pasca kebenaran lebih percaya dengan berita apa saja terutama yang memiliki keterkaitan emosi dengan dirinya dan juga keyakinannya.[6]

Etika Joseph Butler: Konsep Cool Self Love

Etika merupakan hal penting yang sangat diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu dari kata ethos (dalam bentuk tunggal) yang artinya kebiasaan, perasaan, watak, adat, akhlak, cara berpikir. Sedangkan bentuk jamaknya adalah ta etha yang artinya adat kebiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata etika dapat diartikan sebagai ilmu tentang baik buruk atau biasa disebut teori tentang nilai. Selain istilah etika dan moral digunakan pula istilah akhlak artinya tingkah laku, budi pekerti.[7]

Secara terminologis, etika adalah cabang Filsafat yang bersangkutan dengan cara hidup dan berperilaku, baik dan buruk, benar dan salah menurut aturan moral tertentu.[8] Pandangan baik buruk dan hakikat nilai kehidupan bertopang pada 3 dasar, yaitu: 1) Cara berpikir yang melatarbelakangi perilaku manusia. 2) Cara berbudaya yang menjadi fondasi norma sosial. 3) Cara memilih sumber nilai yang dijadikan tujuan pokok ketika bertindak.[9]

Joseph Butler lahir di Wantage, Berkshire, pada 18 mei 1692. Ia adalah anak terakhir dari 8 bersaudara dan ayahnya bernama Thomas Butler. Sebelum Butler lahir ayahnya adalah seorang tukang kain di kota itu dan telah melepaskan bisnis tersebut sebelum kelahiran anak terakhirnya. Meskipun begitu mereka tetap tinggal di Wantage tepatnya di sebuah rumah yang disebut biara. Joseph Butler adalah seorang bishop atau uskup dari Durham, Inggris. Ia adalah salah satu pemikir yang mendalam di Durham, setara dengan Newton, Locke, dan Bacon.[10] Joseph Butler bukan seorang filsuf yang terkenal, ia tidak menulis uraian tentang etika tetapi ada beberapa pandangannya mengenai filsafat dan juga struktur dalam manusia yang langsung relevan bagi etika.

Bagi Butler ada dua macam pengalaman batin. Pertama, dorongan-dorongan spontan. Kedua, kemampuan untuk mempertimbangkan dorongan-dorongan tesebut. Perasaan merupakan dorongan spontan. Menurut Butler, moralitas tidak termasuk ke dalam perasaan tersebut, namun moralitas-lah yang menilai dan mempertimbangkan dorongan-dorongan spontan dan hal lainnya yang dialami manusia. Jadi, moralitas bukan dorongan-dorongan spontan melainkan kemampuan menilai dorongan tesebut, kemampuan tersebut sering berupa suara yang mengatur untuk mengikuti atau menolak suatu dorongan spontan, dan kemampuan tersebut disebut refleksi atau suara hati (hati nurani).[11]

Setiap manusia memiliki keinginan akan kebahagiaannya sendiri, dan juga memiliki ragam kasih sayang, nafsu, dan gairah terhadap objek eksternal tertentu. Pertama, Cinta Diri (self love); adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari semua makhluk yang berakal, yang dapat merenungkan diri mereka sendiri dan minat atau kebahagiaan mereka sendiri, sehingga memiliki objek yang dimasukkan ke dalam pikiran mereka. Adapun objek yang dikejar agak internal yaitu kebahagiaan, kenikmatan, kepuasan diri sendiri. Objek yang terakhir adalah hal-hal eksternal, yang cenderung dituju oleh kasih sayang, dan yang selalu memiliki ide atau persepsi tertentu. Cinta diri tidak pernah mencari sesuatu yang eksternal, tetapi hanya sebagai sarana kebahagiaan atau kebaikan; kasih sayang khusus terletak pada hal-hal eksternal itu sendiri. Semua nafsu dan gairah tertentu juga menuju pada hal-hal eksternal itu sendiri, berbeda dari kesenangan yang timbul darinya. Tidak akan ada kenikmatan, kalau bukan karena kesesuaian antara objek dan gairah sebelumnya.[12]

Tanggapan kritis

            Jika dikaji lebih jauh lagi, Butler tidak melawan paham post truth. Butler hanya menyimpannya dalam kurung untuk kemudian membedakan mana dorongan spontan dan mana kemampuan untuk merefleksikan dorongan spontan tersebut. Jika post truth mengatakan bahwa kebenaran itu bersifat subjektif, maka Butler hadir untuk menyatakan secara tegas bahwa manusia bukan binatang. Binatang berlaku sesuai kodratnya. Bahwa binatang mengikuti instingnya saja. Jika manusia berlaku mengikuti dorongan batinnya saja, manusia telah melawan kodratnya. Adalah khas bagi kodrat manusia entah itu lahiriah maupun batiniah, manusia selalu mengambil jarak untuk berefleksi dan menggunakan hati nuraninya yang bertugas menilai situasi itu dan memberi tahu tindakan mana yang benar dan salah.

Sebagai penikmat, fenomena post truth bukanlah hal yang salah. Ia benar jika dipandang dari sisi yang positif. Post truth bisa diidentikan dengan sikap egois manusia. Sikap egois banyak kali dimengerti sebagai sikap yang selalu menomorsatukan kepentingan diri. Bagi Butler, sikap egois bukanlah hal yang salah. Kalau egois dimengerti dengan tepat, egois berarti sikap positif yang menunjang kepribadian yang matang.[13] Konsep etika Butler cool self love sebenarnya ingin mengatakan demikian: tidak salah orang mengejar kepentingannya asalkan dia tidak membiarkan dirinya dibawa oleh perasaan dan hawa nafsu. Ketika kita bersikap positif terhadap diri sendiri, kita mudah bersikap positif terhadap orang lain.

 

Fr. Martinus Oeleu

Mahasiswa Semester VIII dan Anggota BEM FF Unwira Kupang

 

[1] Setiawan, J., & Sudrajat, A., Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya Terhadap Ilmu Pengetahuan, (Jurnal Filsafat. 28 (1), 2018) hlm. 27

[2] Kant, I., Critique of Pure Reason, (Cambridge: Cambridge University Press. 2000) hal. 82

[3] Casentino, G., Social Media and The Post-Truth World Order: The Global Dynamic of Disinfrmation, (Switzerland: Palgrave Macmillan, 2020) hal.2

[4]Mcyntire, L., Post Truth, (Massachusetts, MIT Press, 2018) hal. 4

[5] Taufik. M. C dan Suryana. N., Media, Kebenaran dan Post Truth, (Bandung: Widiana Bakti, 2022) hal. 33

[6] Ulya., Post-Truth, Hoax dan Religiusitas di Media Sosial. (Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 6 (2), 2018), hlm. 299

[7] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[8]M. Nur Prabowo S, Albar Adetary Hasibuan., Studi Etika Kontemporer Teoritis dan Terapan, (Malang: UB Press, 2017) hal 2

[9] Novi Nurazizah, skripsi: Etika Sunda (studi naskah sanghyang siksakandang karesian), (Semarang; Uin Walisongo, 2016), hal 17

[10] Joseph Butler, The Analogy of Religion, Natural and Revealed, to the Constitution and Course of Nature, to which are added two brief dissertations on personal identity, and the nature of virtue, Edited by Rev. Joseph Cummings, DD., LL. D. (New York; Nelson & Phillips, 1875) h. 05

[11] Franz Margis Suseno, 13 Tokoh Etika, (Yogyakarta:Kanisius, 1997), hal 112-113

[12] Joseph Butler, Fifteen Sermons Preached at the Rolls Chapel, Fourt Edition, London; Printed for John and Paul Knapton, in Ludgate –Street, 1875, hal 205-206

[13] Franz Margis Suseno, 13 Tokoh Etika, (Yogyakarta:Kanisius, 1997), hal 116

Leave a comment