Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Melawan Sikap Stereotip

0 125

Hari Biasa Pekan Prapaskah IV
Bacaan I : Yer : 11:18-20
Mzm : Mzm 7:2-3.9b-10.11-12
Bacaan Injil : Yoh 7:40-53

Sikap Stereotip adalah konsepsi sifat suatu golongan atau atau orang lain berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Sikap stereotip akan membuat kita tidak dapat melihat apa yang harus kita lihat dan menghalangi kita untuk menemukan apa yang mesti kita temukan. Kita membiarkan diri dipasung oleh praduga yang belum dibuktikan kebenarannya. Informasi dan pengalaman yang singkat sangat berpotensi untuk menumbuhkan sikap stereotip dalam mengambil suatu sikap penilaian terhadap orang lain. Karena itu, penilaian kita mesti berdasarkan pengamatan dan pengalaman serta pendalaman jiwa. Lihat, dengar, cermati baru menarik kesimpulan. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Jangan-jangan yang salah adalah kita sendiri.

Dalam bacaan Injil yang kita dengar hari ini, mau menunjukan sikap stereotip dari orang-orang Farisi, Ahli-ahli Kitab, dan para Imam yang ingin menangkap Yesus untuk membunuh-Nya. Mereka dilanda oleh kebencian yang membabi buta. Tindakan penangkapan belum terealisasi, karena pro kontra orang banyak terhadap ajaran Yesus. Penjaga-penjaga yang ditugaskan untuk menangkap Yesus, termasuk Nikodemus percaya akan kata-kata dan karya Yesus. Hanya orang-orang yang membuat penilaian dan memgambil keputusan dengan cara melihat, mendengar, mencermati dapat mengambil keputusan yang benar dan tepat, seperti para penjaga dan Nikodemus yang datang melihat, mendengar, dan mencermati perkataan, ajaran serta karya Yesus membuat mereka percaya bahwa Yesus harus diterima dan tidak pantas dihukum.

Di sinilah suara hati sangat berperan dalam mengambil keputusan atau kesimpulan. Sikap stereotip juga sudah terjadi sebelum Yesus datang ke dunia seperti yang dialami oleh Nabi Yeremia. Orang-orang Anatot bekerja sama untuk membinasakan Nabi Yeremia dari dunia ini. Namun, Tuhan menyelamatkan Nabi Yeremia dari rencana jahat mereka yang hendak membunuh dan mempermalukan Nabi Yeremia. Orang-orang ini juga tidak memahami nubuat-nubuat dari Nabi Yeremia sehingga mereka mengambil keputusan untuk melenyapkan seluruh ajaran termasuk nyawa Nabi Yeremia. Tapi, Tuhan menyelamatkan Nabi Yeremia dari rencana pembunuhan itu. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang-orang hidupnya jujur dan benar. Dari bacaan-bacaan suci hari ini, kita belajar untuk tidak menilai orang sekedar prasangka praduga. Kita harus belajar seperti Nikodemus yang yang berani membela Yesus dihadapan umum. Kita telah melihat, mendengar, dan belajar tentang siapa itu Yesus sebenarnya. Yesus adalah Tuhan yang datang untuk menyelamatkan orang-orang yang mengimani-Nya sebagai Tuhan dan Penyelamat.

Untuk itu, kita harus percaya dan yakin bahwa Yesus akan selalu membantu kita, asalkan kita menjadikan Yesus sebagai sumber air hidup yang memberikan kesegaran dan kehidupan bagi kita. Hal kecil yang dapat kita lakukan ialah berani menunjukan bahwa kita ini adalah pengikut Kristus, dengan tidak malu membuat Tanda Salib + ketika berada di tempat umum. Semoga. Amin.

Leave a comment