Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Pembaptisan Bayi dan Peran Penting Orang Tua Seturut Kanon 868 § 1 Kitab Hukum Kanonik 1983

0 191

Unsur -unsur Kanon 868 § 1

Dalam kanon ini, terdapat unsur-unsur pokok yang harus diperhatikan yakni, Orang Tua, Penjamin, Pembaptisan, kanak-kanak (Bayi), Licit, Iman dan Hidup Kristiani.

Orang Tua

                   Orang tua adalah persatuan dua individu menjadi satu dalam kehidupan bersama yang memiliki tanggungjawab dalam membentuk serta membina anak-anak baik dari segi psikologis maupun teologis. Tujuan yang dilakukan orang tua ini adalah mengarahkan dan mendidik anak- anak agar dapat berkembang dengan baik. Bakat dan talenta yang dimilikinya dapat menjadikan mereka generasi-generasi yang kreatif, unggul sesuai dengan tujuan hidup manusia.

Penjamin

Penjamin adalah orang beriman katolik yang berani memberikan jaminan bahwa kanak-kanak ini pantas diterima dalam gereja katolik dan akan dididik dalam iman katolik. Oleh karena itu, keberadaan penjamin hanya berkaitan dengan kasus-kasus khusus agar bayi tersebut dapat dibaptis; misalnya keberadaan kanak-kanak yang tidak diketahui siapa orang tuannya atau keberadaan kanak-kanak yang berasal dari perkawinan yang tidak sah atau karena kehamilan di luar nikah atau pada saat pembaptisan orang tuanya tidak dapat hadir karena alasan berat.

Kanak-Kanak (Bayi)

 Dalam kitab Hukum Kanonik kanak-kanak diartikan sebagai orang yang belum dewasa sebelum berumur tujuh tahun, disebut anak-anak dan belum dapat menguasai diri: tetapi setelah berumur genap tujuh tahun diandaikan dapat menggunakan akal budinya. Dari uraian ini, dapat dikatakan bahwa kanak-kanak adalah pribadi yang masih belum mampu mengurus diri sendiri dan hidupnya serta masih membutuhkan uluran tangan orang dewasa untuk mengurus dirinya menuju diri yang dewasa dan utuh.

Pembaptisan

Sakramen Pembaptisan adalah sakramen dasar “kelahiran kembali” yang menjadikan seseorang warga Gereja dan pintu masuk menuju sakramen-sakramen yang lain.

Licit

Kata licit berasal dari kata latin licitus (licet) yang berarti diizinkan; diperbolehkan. Dalam terjemahan bahasa Inggris Licit (lawful) berarti sah, menurut hukum. Sah berarti sesuai dengan peraturan, berdasarkan hukum yang berlaku. Sesuatu tentang amalan keagamaan yang diakui kebenarannya, resmi, diakui dan diakui oleh pihak resmi.

Iman dan Kehidupan Kristiani

Iman adalah tanggapan yang bebas, bertanngung jawab dan utuh kepada Allah. Dengan dan karena iman orang bebas dapat mengakui kebenaran mengenai pewahyuan Ilahi. Pembaptisan adalah sakramen iman, dengannya berkat penerangan Roh Kudus, orang dapat menanggapi injil Kristus. Dengan pembaptisan dan karena iman akan Kristus, Gereja dapat menjalankan tugas dasarnya yakni dengan menunjukan kepada semua orang beriman iman yang benar.  Setiap orang beriman hanya dapat beriman dalam iman Geraja, maka yang dituntut dari iman akan baptisan kanak-kanak adalah iman Gereja itu sendiri yakni iman orang tua. Bantuan orang tua dan juga wali baptis sangat penting dalam mendampingi kanak-kanak supaya rahmat pembaptisan terus berkembang.

Syarat Licitnya Pemaptisan Kanak-Kanak

  1. Orang tuanya atau salah satu dari mereka setuju
  2. Adanya jaminan anak akan dididik dalam iman katolik
  3. Menggunakan materi dan forma yang benar

Pentingnya Orang Tua dalam Pembaptisan Kanak-Kanak

Kanon 868 $ 1 pada poin ke dua mensyaratkan adanya harapan cukup beralasan bahwa anak itu akan dididik dalam agama Katolik. Pada poin ini orang tua mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin licitnya pembaptisan kanak-kanak. Di mana orang tua dituntut untuk mampu mmberikan harapan bahwa anak tersebut akan mendapatkan pendidikan katolik.

Pembaptisan saja tanpa pendidikan iman sulit dipertanggung jawabkan. Pembaptisan anak menuntut pendidikan iman. Sakramen pembaptisan mendapat arti sepenuhnya, jika kanak-kanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu. Dasar pendidikan iman itu ialah sakramen pembaptisan yang telah diterima. Maka kanak-kanak harus dibina agara semakin mengenal rencana Allah dalam Kristus. Dengan demikian mereka sendiri lama kelamaan dapat menyetujui dan meneguhkan iman pembaptisan mereka. Sehingga di sini dapat ditemukan adanya peranan yang sangat penting dari orang tua dalam pelaksanaan pembabtisan kanak-kanak.

Fr. Etho Sebagai Pemateri Membacakan Abstraksi Materi Diskusi

[1] Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 325.

[2] E. Martasudjita, Pr, Sakramen-sakramen Gereja, Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 235.

[3] KHK 1983 Kan. 226 § 2

[4] KGK., No. 1250

 

Referensi:

Konferensi Wali Gereja Indonesia. 1996.  Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

Martasudjita, E. 2003. Sakramen-sakramen Gereja, Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.

Yohanes Paulus II, Paus (Promulgator). 2006. Codex Iuris Canonici. M. Dcccc. LXXXIII, Rubiyatmoko R. D. (editor), Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: Grafika Mardi Yuana.

____________.1995. Katekismus Gereja Katolik diterjemahkan oleh Herman Embuiru. Ende: Arnoldus.

Leave a comment