Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

SALIB DAN KEMULIAAN

Hari Minggu Prapaskah V/B.

0 40

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang orang banyak yang datang ke Yerusalem menjelang hari raya Paskah Yahudi dengan tujuan untuk mengikuti ibadat di Bait Allah. Di antara orang banyak itu, ada juga orang-orang Yunani, yaitu mereka yang secara etnis bukan Yahudi. Mereka ini berasal dari berbagai bangsa, namun dengan latar-belakang pendidikan Yunani, yang pada waktu itu merupakan kebudayaan trans-nasional yang sangat terkenal dan dikagumi dunia (Sejarah mencatat, bahwa filsafat yang berarti cinta akan hikmat/kebijaksanaan, lahir dari peradaban dan budaya Yunani). Di antara mereka ini, ada yang mengikuti ibadat Yahudi, ada yang menjadi simpatisan Yesus, dan ada juga yang nantinya menjadi pengikut Kristus. Di kota suci Yerusalem itu, mereka mendengar banyak berita tentang hidup, karya dan pengajaran Yesus. Salah satu berita yang mereka dengar ialah mengenai tindakan simbolis Yesus membersihkan Bait Allah menjelang hari raya Paskah Yahudi serta pernyataan Yesus bahwa Ia akan meruntuhkan Bait Allah itu dan membangunnya kembali dalam tempo tiga hari. Bagi mereka, tindakan simbolis dan pernyataan Yesus ini tentu punya hubungan dengan pewartaan Yesus sendiri mengenai jalan salib dan kematian yang harus ditempuhNya demi keselamatan banyak orang. Berita-berita semacam inilah yang membuat mereka penasaran. Karena itu mereka minta kepada Filipus untuk perkenalkan mereka kepada Yesus. Selanjutnya Filipus beritahukan permintaan ini kepada Andreas, dan keduanya lalu menyampaikannya kepada Yesus. Dalam hal ini, Filipus dan Andreas seakan berperan seperti petugas humas (yang menghubungkan orang-orang Yunani dengan Yesus).

Yang menarik ialah serangkaian tanggapan dan pernyataan Yesus yang berisikan hal-hal paling dasariah mengenai diriNya sebagaimana kita dengar dalam kutipan Injil tadi. Yesus mengawali pernyataanNya dengan bersabda, “Telah tiba saatNya Anak Manusia dimuliakan….Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”. Untuk memahami pernyataan-pernyataan Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Yunani yang sebenarnya tergolong para pendatang baru atau orang-orang asing ini, kiranya kita perlu lebih dahulu memahami pandangan umum kaum Yunani mengenai salib, sebagaimana dirumuskan Santo Paulus dalam 1Kor 1:23-24: “……kami memberitakan Kristus yang disalibkan, yang untuk orang Yahudi merupakan batu sandungan, dan untuk orang-orang bukan Yahudi adalah kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah”. Dalam Injil Yohanes, persoalan yang dihadapi orang Yahudi tercermin dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus (sebagaimana kita dengar di dalam Injil minggu lalu), sedangkan yang dihadapi orang-orang Yunani muncul dalam bacaan Injil tadi. Dengan ini Yesus ingin tegaskan, bahwa logika dunia sungguh bertentangan dengan logika salib. Demikian pun hikmah Allah yang nampak dalam salib, sungguh bertolak belakang dengan hikmah duniawi yang digandrungi kaum Yunani pada umumnya. Logika dan hikmah dunia menganggap salib/derita sebagai kebodohan, justru karena ia menghalangi manusia untuk sampai pada kemuliaan, kejayaan dan kepenuhan diri. Logika dunia mengajarkan bahwa dengan hikmah yang dimilikinya, manusia mestinya berjuang untuk sedapat mungkin menghindari dan menyingkirkan salib demi kejayaan, keagungan, kemuliaan dan kepenuhan dirinya, dan bukan sebaliknya untuk menanggung dan memikulnya. Sebaliknya, logika salib dan hikmah Allah yang nampak dalam salib mengajarkan bahwa tiada kemuliaan tanpa derita; tiada Tabor tanpa Golgotha; tiada kehidupan tanpa kematian. “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia menghasilkan banyak buah….”. Ini berarti bahwa salib, derita dan kematian Yesus merupakan satu-satunya jalan terbaik yang ditempuh Yesus demi ketaatanNya yang total kepada kehendak BapaNya serta demi komitmenNya yang paripurna akan misi penyelamatan yang diembanNya. Akan tetapi, pada titik ini tentu kita akan temukan persoalan dilematis teramat serius menyangkut kebebasan manusiawi Yesus di satu pihak, serta keharusan ketaatanNya yang ketat terhadap kehendak dan perintah BapaNya. Bukankah derita dan kematian Yesus di salib sebagai konsekuensi logis ketaatanNya yang total kepada kehendak dan perintah BapaNya, sekaligus merupakan pengingkaran, bahkan “pelecehan” terhadap kehendak manusiawiNya yang sejati?

Untuk dapat menjawab persoalan dilematis ini, kiranya kita perlu pahami kebebasan manusiawi melalui suatu pendekatan baru. Bahwasanya, inti dari kebebasan tidak terletak pada aktualisasi kemampuan memilih. Karena jika demikian, maka dalam segala hal, kebebasan dan keharusan ketaatan tampaknya saling bertentangan dan bertolak belakang. Sebaliknya, kebebasan mesti dipahami sebagai kesempurnaan keberadaan seorang pribadi yang diwujudkan dalam berbagai cara dan tingkatan. Kebebasan merupakan  penentuan diri sendiri yang membentuk harkat dan martabat pribadi seseorang. Inti kebebasan terletak dalam kegiatan-kegiatan seseorang yang berasal dari dirinya sendiri, dan sungguh-sungguh merupakan kegiatannya sendiri. Setiap pribadi bertanggungjawab atas kegiatan-kegiatannya, karena dan sejauh kegiatan-kegiatan itu berasal dari penentuan dan penguasaan atas diri sendiri. Dalam hal ini, kebebasan bukanlah sekadar pembatasan diri sendiri, melainkan penyatuan antara pembatasan diri sendiri dan proses menjadi diri sendiri melalui penentuan/penguasaan atas diri sendiri dengan tujuan untuk menjadi diri yang ideal dan paripurna. Hal ini berarti juga bahwa kebebasan bukanlah terutama suatu hak istimewa yang dimiliki, melainkan suatu kesempurnaan yang harus diraih, ke arah mana manusia mesti bertumbuh. Dengan demikian, kebebasan adalah panggilan hidup, suatu anugerah sekaligus tugas. Kebebasan manusiawi semacam inilah yang dihayati Yesus, ketika Ia memilih Salib sebagai wujud ketaatanNya yang total kepada kehendak BapaNya, sekaligus komitmen dan kesetiaanNya yang paripurna atas misi penyelamatan umat manusia yang diembanNya. Dengan demikian, Salib bukanlah tanda kelemahan atau pun kebodohan Yesus; juga bukanlah tanda penyangkalan apalagi pelecehan terhadap kebebasanNya yang sejati, melainkan justru merupakan lambang kekuatan dan hikmat Allah di satu pihak,  sekaligus perwujudan paling sempurna dari kebebasan manusiawi Yesus di pihak lain.

Jika direnungkan secara saksama, jalan Salib yang ditempuh Yesus dalam pengertian seperti inilah, yang menjadi persoalan serius, bukan hanya bagi orang-orang Yunani kala itu, melainkan juga bagi kita sekarang dan di sini, yang hidup dalam era post-modern yang sedikit-banyaknya ditandai oleh paham liberalisme atau kebebasan yang salah kaprah. Sekian sering kita pahami kebebasan sekedar sebagai  aktualisasi kemampuan memilih sekian banyak tawaran yang disodorkan dunia ini, yang nampaknya sungguh menggiurkan, menjanjikan dan menjamin masa depan hidup kita. Dengan pemahaman sempit semacam ini, kita cenderung mengelak dari setiap bentuk tantangan dan kesulitan, dan lebih suka memilih jalan yang serba instan dan gampang-gampangan dalam meraih suatu kesuksesan. Bagi kita, salib dan semua yang serba sulit, justru dianggap sebagai hambatan atau rintangan dalam menggapai suatu tujuan. Demikian pun, komitmen dan ketaatan pada salib, lalu dilihat sebagai pelecehan terhadap kebebasan pribadi, sebagai kebodohan yang bertentangan dengan hikmah dan kebijaksanaan dunia ini, dan karena itu juga patut disingkirkan, dengan konsekuensi yang sering justru membuat manusia semakin terpuruk. Dalam situasi seperti inilah, logika salib menantang kita, untuk memilih yang terbaik dalam hidup kita. Bahwasanya, tiada kesuksesan tanpa pengorbanan; tiada kebahagiaan tanpa derita; juga tiada kemuliaan dan kepenuhan diri tanpa penyangkalan dan pengorbanan diri. Mudah-mudahan….Amin.

Leave a comment