Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Pujaan Jadi Hujatan Salib

0 6

Hari Minggu Palma (Mengenangkan Sengsara Tuhan Yesus Kristus)

Bacaan I         : Yesaya 50: 4 – 7

Bacaan II       : Filipi. 2 :6 – 11

Injil               : Markus. 14: 1 – 15:47

 

Hari ini, kita mengenangkan peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem. Peristiwa ini merupakan awal dari perayaan paskah sebagai kenangan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Peristiwa Yesus masuk ke kota Yerusalem ini menandakan kesiapsediaan Yesus untuk menanggung sengsara yang telah menantiNya, sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah bagi umatmanusia. Yesus diterima dan dielu-elukan bagai seorang raja dengan lambaian daun Palma dan seruan “Hosanna! Terpujilah yang datang atas nama Tuhan, Raja Umat Israel!”. Akan tetapi teriakan penyambutan akan segera berganti teriakan penyaliban dan teriakan sorak-sorai berganti teriakan penghujatan. Yesus Sang hamba Yahwe yang setia memasuki kota Yerusalem menunjukkan kesetiaan dan ketaatan bahwa diri-Nya bersedia untuk menanggung sengsara dan wafat di Kayu Salib. Ia tak takut menyerahkan tubuh-Nya untuk disiksa dan darah-Nya untuk ditumpahkan di Kayu Salib agar manusia memperoleh keselamatan. Maka dari itu, bersama Yesus, marilah kita persembahkan pula seluruh hidup dan karya kita ke dalam tangan Tuhan dengan iman yang teguh bahwa Allah senantiasa menyertai kita dan senantiasa memberkati seluruh perjuangan hidup kita.

Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama, menggambarkan kepada kita keteguhan iman dan hati seorang hamba Yahwe. Hamba Yahwe yang setia ini berpegang teguh pada imannya. Yahwe tak akan meninggalkan dirinya dalam setiap kesulitan yang dihadapinya. Ia siap sedia menerima setiap penderitaan. Selanjutnya dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat di Filipi kerendahan hati yang dimiliki oleh Yesus. Meskipun putera Allah, Yesus merendahkan diri dan bersedia menderita dan wafat di salib. Akhirnya penginjil Markus mengetengahkan kepada kita kisah sengsara Tuhan sebagai tanda kesediaan-Nya menghadapi sengsara dan wafat yang ditanggungkan oleh orang-orang yang mengelukan-Nya sebagai raja, ketika memasuki kota Yerusalem.

Kehidupan kita sebagai orang beriman, menuntut adanya suatu sikap kerendahan hati, untuk selalu siap menderita, berjuang dan setia pada perjuangan itu. Satu hal  penting yang harus diingat bahwa, kerelaan diri kita ini tidak hanya demi kepentingan diri sendiri, tetapi harus seperti Yesus yang kita imani yakni kebahagiaan dan keselamatan orang lain juga. Suatu hal miris yang sering terjadi dalam kehidupan kita ialah banyak orang yang ingin mencapai atau mengalami suatu kebahagiaan dan keselamatan tanpa mau melewati suatu usaha atau proses. Kita seringkali menghindari kerja keras dan penderitaan. Hal lain lagi, karena jabatan atau status tertentu, kita sulit sekali memberi diri, rela berkorban demi orang lain. Maka melalui bacaan ini, sudah sepantasnya kita belajar dari teladan Yesus sendiri. Sekalipun Yesus adalah Raja, Putra Allah, tetapi Yesus tidak semena-mena menggunakan status dan kuasa-Nya untuk melewati penderitaan salib ini.Yesus justru dengan taat dan setia mau menyerahkan diri dan melewati segala proses penderitaan demi mencapai keselamatan umat manusia. Semoga kita semkin sadar bahwa tidak pernah  ada kesuksesan tanpa usaha, tidak pernah ada kebahagiaan tanpa perjuangan, tidak pernah ada keselamatan tanpa memikul salib.

Leave a comment