Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

TUHAN ANDALANKU

0 18

Pekan Prapaskah V, Sta. Ludgerus; St. Ireneus. 

Bacaan I         : Yeremia 20:10-13

Bacaan Injil   : Yohanes 10:31-42

 

Setiap kita tentu memiliki teman atau sahabat yang selalu kita andalkan dalam situasi tertentu. Sahabat adalah orang kepercayaan kita dalam situasi sulit, orang selalu mengerti dengan keadaan kita dan siap untuk membantu kita melalui masa-masa sulit. Namun, ada kalanya sahabat justru menjadi pengintai kehidupan kita dan dapat menjatuhkan kita ke dalam masalah yang lebih serius. Dalam bacaan pertama, Nabi Yeremia membagikan pengalamannya bersama dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai sahabat yang justru berbalik menjadi musuhnya. Yeremia dianiaya bukan oleh orang-orang yang jauh darinya tetapi dari setiap orang yang selalu bersama dan mendengar dia. Orang-orang yang relasinya jauh mau mengadukannya. Orang-orang yang selama itu bersahabat justru mengintai apakah ia bisa tersandung dan jatuh.

Pengalaman yang dialami oleh Nabi Yeremia juga dapat kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pengalaman tersebut dapat datang dari orang-orang di sekitar kita. Terkadang kita mengandalkan orang-orang tertentu di sekitar kita dan berpikir bahwa merekalah yang dapat menolong kita dengan tulus padahal bukan demikian. Ada juga yang justru memanfaatkan kebaikan kita untuk tujuan yang tidak baik. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Tetapi perlu kita sadari bahwa, hanya Tuhanlah sahabat terbaik manusia. Ia tak pernah meninggalkan kita saat kita membutuhkan pertolongan-Nya. Ia tak pernah berpaling dari kita saat kita ingin menyampaikan keluh kesah kita kepada-Nya. Hal inilah yang dilakukan Nabi Yeremia saat menghadapi situasi sulit. Ia tak pernah putus harapan. Ia selalu mengandalkan Tuhan. “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan suaraku”. Hal yang terpenting adalah kepasrahan kepada Tuhan. Orang berserah diri ke dalam tangan Tuhan dan membiarkan Tuhan berkarya di dalam dirinya. Pengalaman Nabi Yeremia membantu kita untuk selalu mengandalkan Tuhan, bertahan dalam cobaan dan selalu percaya kepada Tuhan.

Dalam Injil hari ini, Yesus membantu kita untuk memahami pengalaman keras dalam hidup. Ia berusaha menjelaskan identitas-Nya kepada orang-orang Yahudi melalui pekerjaan-pekerjaan Bapa yakni mukjizat melalui perkataan atau firman-Nya, tetapi mereka juga belum percaya. Mereka malah kembali melempari-Nya dengan batu karena dianggap menghujat Allah. Namun, Yesus justru meminta mereka sekurang-kurangnya percaya kepada pekerjaan-pekerjaan itu karena Ia melakukan pekerjaan Bapa. Dengan sendirinya mereka akan percaya kepada-Nya karena Bapa ada di dalam Dia dan Dia juga di dalam Bapa.

Tuduhan bagi Yesus adalah bahwa Ia menghujat Allah. Konsekuensi menghujat Allah adalah dimatikan dengan cara melemparinya dengan batu hingga tewas. Namun tuduhan tersebut merupakan tuduhan yang tidak benar. Tuduhan yang datang dari orang-orang yang sama sekali tidak mengenal-Nya sebagai Putera Allah. Yesus adalah Putera Allah dan Dia berkomunikasi dengan Bapa sebagai Putera. Dia berada di pihak Allah bukan menghujat Allah. Orang-orang yang menuduh-Nya adalah orang-orang yang sama sekali tidak memahami, bahkan hingga saat ini.

Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk selalu mengandalkan Tuhan manakala kita mengalami penderitaan dan kemalangan. Nabi Yeremia percaya bahwa Tuhan menyertainya dan ia akan luput dari para musuh. Harapan Nabi Yeremia dapat menjadi harapan gereja saat ini untuk berkembang. Apa pun tantangannya, jangan pernah mundur. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Nabi Yeremia dan Yesus sama-sama menginspirasi kita untuk maju dengan berani karena Tuhan menyertai kita. Amin. (Fr. Marno Meme)

Leave a comment