Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Pesan Perdamaian dan Pertobatan

0 13

Perayaan Ekaristi Kudus Minggu Palma merupakan salah satu momentum yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Katolik di seluruh belahan dunia. Dengan Palma di tangan sambil menyanyikan “Hosana Putra”, ada sukacita tersendiri yang akan didapatkan di sana. Tahun ini, walaupun dalam situasi pandemi, umat kembali merayakan perayaan Minggu Palma dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hal serupa juga terjadi di Lapas Kelas llA, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 28/03/2021, pukul 07.30 Wita, dengan dihadiri sekira 80 orang warga binaan, 2 orang Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) dan 3 frater STSM calon imam Keuskupan Agung Kupang.  Perayaan ini dipimpin oleh RD. Patris Neonnub sebagai selebran utama dan RD. Andreas D. Kabelen sebagai konselebran. Pada perayaan Ekaristi Kudus Minggu Palma kali ini,  dijalan dengan proses yang sedikit berbeda. Para warga binaan langsung mengambil Palma yang disediakan di dekat pintu masuk Kapela baru diberkati pada upacara pembukaan. Ini tentu demi tetap menjaga protokol kesehatan.

Sebagai pengkhotbah, RD. Andreas Kabelen, mengajak para warga binaan yang hadir untuk sejenak kembali ke Kitab Suci Perjanjian Lama. Mengapa harus Palma? Dalam peristiwa Nabi Nuh dan air bah, ada kejadian unik dan menarik. Ketika Nuh ingin memastikan bahwa air sudah surut, ia melepaskan seekor merpati dan menjelang senja merpati itu kembali dengan membawa sehelai daun zaitun yang segar. Ini merupakan tanda bawah masih ada kehidupan dan bahwa air bah sudah berkurang dari atas bumi. Tujuh hari kemudian, merpati itu dilepaskan lagi dan tidak kembali. Artinya, air sudah kering dan waktunya bagi Nuh untuk membuka pintu bahtera. Dalam kaitannya dengan daun Palma, Romo Ande menegaskan bahwa ada simbol kedamaian di sana. Disinggung pula bahwa Yasser Arafat, seorang pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina pernah membawa daun zaitun untuk perdamaian dengan Israel dalam sebuah pertemuan dengan pihak Israel. Ini menandakan bahwa simbol perdamaian di balik daun zaitun atau Palma yang ada di tangan para warga binaan bukanlah hal sepeleh. Selain membawa damai, ada ajakan untuk pertobatan terus menerus.

Di akhir kotbahnya, Rm Ande berpesan agar jangan lama-lama dalam pengkhianatan seperti yang dilakukan Yudas Iskariot yang mengkhianati Tuhan, gurunya sendiri. Semua harus mampu membangun sikap tobat dalam diri demi kehidupan yang lebih baik dan lebih layak terutama ketika pergi dari Lapas dan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat umum. WT

Leave a comment