Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Bunda Maria Inspirasi Pemberdayaan Perempuan

0 8

Dewasa ini santer dibicarakan mengenai pemberdayaan perempuan. Banyak peran sosial dipercayakan kepada perempuan. Dan terbukti hasilnya baik. Peran itu, entah sebagai pemimpin maupun apa saja yang vital untuk kehidupan bersama, sungguh membuktikan bahwa perempuan tidak dapat disepelekan dalam komunitas sosial manapun.

Pemberdayaan perempuan menjadi entri poin kebangkitan kesadaran baru dalam masyarakat bahwa subordinasi perempuan dalam kiprah sosial tak lagi relevan dalam zaman kini yang mengedepankan kemampuan atau kompetensi, apapun jenis kelaminnya. Pemberdayaan perempuan menjadi niscaya untuk kesamaan derajat dan kesempatan berkarya dalam ruang publik bagi kepentingan bersama. Fenomena dewasa ini memperlihatkan adanya presiden perempuan, perdana menteri perempuan, gubernur perempuan, bupati/walikota perempuan, dan seterusnya. Begitu pula dalam jenjang kepemimpinan karier publik, entah di pemerintahan maupun swasta, tidak sedikit perempuan dipercaya untuk mengemban peran itu dengan hasil yang luar biasa.

Perempuan dalam perspektif alkitabiah

Dalam perspektif iman kristiani, Tuhan menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, sebagai makhluk yang setara, sepadan, saling melengkapi. Manusia laki-laki dan perempuan secitra dengan sang Pencipta. Allah memiliki rencana abadi bagi manusia laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan rencana itu dalam kehidupan manusia. Pewahyuan rencana itu dilaksanakan dalam sejarah, khususnya sejarah Israel yang secara budaya memiliki sistem patriarkal, di mana kaum laki-laki lebih tinggi kedudukan sosialnya atas perempuan. Secara bertahap pewahyuan rencana Allah terwujud hingga berpuncak pada Yesus Kristus, PutraNya. Dalam babak sejarah sebelum Yesus, Allah menghadirkan tokoh-tokoh perempuan tertentu yang mengambil peran penting dalam pewahyuan rencanaNya. Tercatat dalam Alkitab, nama-nama seperti Hawa, Maryam, Rahab, Deborah, Rut, Hana, Batsyeba, Ester, Yudit, Elisabet, Maria.
Nama terakhir ini, yaitu Maria, memiliki peran istimewa karena dialah yang mengandung dan melahirkan Yesus, Putra Allah yang mahatinggi.
Setiap tokoh perempuan dalam kitab suci memiliki peran tertentu sesuai rancangan ilahi. Dan peran paling penting dalam sejarah keselamatan diemban oleh Maria, yang dipilih Allah Bapa untuk mengandung Allah Putra dengan kekuatan Allah Roh Kudus, dan melahirkanNya bagi dunia. Peran ini dijalani Maria dalam spirit ketaatan iman yang total. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Fiat Maria ini mengungkapkan kerelaannya untuk melaksanakan peran istimewa yang dipercayakan Allah kepadanya.

Hari raya Maria Assumpta

Setiap tanggal 15 Agustus, Gereja merayakan Hari Raya Maria Assumpta, Maria Diangkat ke Surga. Gereja percaya bahwa Bunda Maria setelah meninggal dunia, diangkat dengan jiwa dan raga ke surga. Pengangkatan ini adalah ganjaran rahmat baginya yang telah bersedia menjadi ibu yang mengandung dan melahirkan Yesus, Putra Allah.
Allah menghargai fiat Maria dan seluruh hidup yang dipersembahkan kepada kehendak Allah. Pengangkatannya ke surga merupakan wujud penghargaan Allah untuk menganugerahkan kepadanya kebahagiaan kekal bersama Yesus Putranya yang telah bangkit dan naik ke surga.
Maria dalam kehidupan insaninya telah melaksanakan peran sebagai putri pilihan Allah Bapa, bunda Allah Putra dan mempelai Allah Roh Kudus dalam totalitas iman. Ia telah memberdayakan seluruh potensi dirinya untuk mengemban tugas mulia yang dipercayakan Allah. Maka “assumpta” adalah anugerah yang layak diterimanya dalam ketaatan iman.

Pemberdayaan Sebagai “Assumpta”

Permenungan mengenai peran Maria dalam perspektif pemberdayaan mengantar kita untuk melihat apa yang tertulis dalam Luk 1:39-56. Perikop ini terbagi atas dua bagian. Pertama, mengenai kisah Maria mengunjungi Elisabeth. Kedua, mengenai nyanyian pujian Maria. Keduanya ditempatkan setelah perikop Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel dan menyatakan fiatnya untuk melaksanakan kehendak Allah.
Sesudah Maria bersedia menerima rencana Allah, ia mengunjungi Elisabeth saudarinya. Dua ibu bertemu. Dua tokoh keselamatan yang dikandung keduanya juga bertemu. Yohanes kegirangan melihat “buah kandungan” Maria. Maria mempertemukan Yesus dan Yohanes sejak dalam kandungan. Maria dalam tuntunan Roh Kudus melaksanakan apa yang direncanakan Allah untuk keselamatan manusia melalui anak yang dikandung Elisabeth maupun terutama Anak yang dikandungnya.
Nyanyian pujian Maria adalah ungkapan jiwa seorang hamba Tuhan yang dipilih Allah untuk mengerjakan tanggung jawab besar. Karya agung Allah ini menjungkirbalikkan logika umum yang menempatkan kaum berkuasa dan orang kaya di posisi atas. Tangan kuat Allah menurunkan mereka, mengusir mereka. Sebaliknya ia mengangkat yang hina dina sehingga para bangsa tercengang dan menyebut yang hina dina pilihan Allah ini bahagia. Karya Allah melampaui pikiran manusia.
Maria, dalam nyanyian pujian itu mengungkapkan tindakan Allah yang menyelamatkan manusia melalui orang kecil dan sederhana. Hal ini menunjukkan betapa Allah sanggup mewujudkan rencanaNya bukan secara logika kecenderungan umum manusia, tetapi justeru melalui orang beriman yang kecil dan tak punya nama dalam kancah pergaulan sosial.
Kepercayaan Allah ini diterima Maria dengan totalitas iman dan penyerahan diri. Tak ada keraguan sedikitpun ketika ia menyatakan fiatnya. Ia siap untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Apapun risikonya. Karena ia percaya, Allahlah yang bekerja melalui dirinya.
Modal iman inilah yang memampukan Maria untuk memberdayakan dirinya sebagai seorang perawan yang siap mengandung, melahirkan, membesarkan dan mengantar Yesus, Anak Allah, menuju kancah perwujudan karya keselamatan Allah dalam dunia. Maria dalam kesederhanaan diri dan hidup, berupaya melaksanakan kehendak Allah. Tentu tidak mudah. Ada banyak tantangan. Dari yang kecil dan ringan, hingga yang besar dan berat. Dari pergunjingan orang tentang perkandungannya, hingga kenyataan tragis kematian Putranya di kayu salib. Semua itu tidak menyurutkan langkahnya untuk menapaki jalan yang telah ditentukan Allah. Hingga tuntas.
Hidup dan karya sebagai ibu Yesus, Anak Allah, tentu saja tidak gampang. Maria harus berjuang memberdayakan dirinya dalam segala situasi hidup. Menjadi ibu yang mengabdi dengan tulus dan total, untuk sang Anak yang unik dan istimewa. Banyak hal yang tak dimengerti dan menimbulkan aneka pertanyaan. Tetapi Maria mengolah semuanya dengan cara “menyimpan semua perkara itu dalam hatinya”. Maria memberdayakan seluruh dirinya, hati dan pikirannya, untuk melaksanakan seluruh kehendak Allah.
Spiritualitas Maria adalah kekuatannya untuk pelayanan bagi rencana Allah. Relasinya dengan Tuhan menjadi sumber kekuatannya untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Pemberdayaan dirinya terwujud. Dan hal ini “mengangkat” dia menjadi seorang perempuan istimewa dalam rencana keselamatan Allah. Hidup dan karyanya di bumi sebagai perwujudan kehendak Tuhan sesungguhnya telah menjadi sebuah “assumpta” dan menjadi alasan bagi segala bangsa menyebutnya bahagia.
Kiprah dan peran Maria menjadi model keberimanan dan pemberdayaan hidup untuk bermakna di hadapan Tuhan. Ia telah menjadikan diri dan  hidupnya berarti bagi Tuhan dan manusia. Keberartian itu adalah pemberdayaan. Dan pemberdayaan itu adalah sebuah “assumpta”, sebuah pengangkatan harkat dan martabat manusia yang terlaksana dalam diri Putranya. Anak Allah menjadi manusia, agar manusia menjadi anak-anak Allah. Inkarnasi menjadikan martabat manusia mengalami “assumpta” ke tataran tertebus. Maria menjadi orang pertama yang ditebus Kristus, berkat kesediaannya menjadi ibu Yesus. Dalam hidupnya, ia telah mengalami “assumpta”, dan dalam kematiannya ia juga mengalami assumpta jiwa raga menuju kemuliaan surga.

Inspirasi “Assumpta”

Istilah “assumpta” atau terangkat mengungkapkan sebuah gerakan ke atas. Terangkat ke surga adalah karya Allah yang mengangkat Maria ke tataran kemuliaan. Namun sebagaimana telah dipaparkan di atas, sewaktu masih hidup di dunia pun Maria telah memberdayakan dirinya untuk bergerak ke atas, ke tataran hidup manusiawi yang unggul. Dia telah berjuang menjadi ibu Yesus dalam keluarga kudus Nazaret dengan penuh cinta kasih. Iman, pengharapan dan cinta kasihnya menjadi modal spiritual yang kokoh dalam ikhtiar pemberdayaan diri sebagai perempuan, sebagai ibu rumah tangga, sebagai orang pilihan Allah.
Keteladanan dalam perjuangan pemberdayaan diri ini menjadi inspirasi bagi perempuan dan laki-laki zaman kini. Bagaimana pun setiap kita memiliki panggilan dan perutusan dalam hidup di dunia ini. Allah punya rancangan istimewa bagi setiap kita. Sebagai murid Kristus, kita semua, perempuan dan laki-laki kristiani, diutus untuk memberdayakan hidup pribadi dan bersama ke tataran yang sekaligus manusiawi dan kristiani. Kita diutus untuk menghadirkan situasi “assumta” dalam kehidupan bersama. Itu berarti teladan Maria Assumpta tetap relevan bagi kehidupan kristiani masa kini. Dinamika ikhtiar pemberdayaan hidup pribadi dan bersama tetap bergerak menuju tataran ideal. Semakin kita memberdayakan diri dan hidup melalui panggilan dan profesi hidup kita selaras kehendak Tuhan, semakin kita menghadirkan “assumpta” dalam kehidupan bersama yang makin manusiawi dan kristiani.
Tuhan melihat dan memberkati.

RD.Siprianus S. Senda
Ketua Komisi Kitab Suci KAK

Leave a comment