Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

VIVA, CHRISTO REI!

0 16

Konon, pada tahun 1920-an, rezim totaliter menguasai Meksiko dan mencoba untuk menekan Gereja. Untuk melawan rezim itu, banyak orang Kristen berseru, Viva Cristo Rei!, yang artinya, “Hiduplah Kristus Raja!”. Mereka menyebut diri mereka Cristeros, yang berarti “para laskar Kristus”.  Cristero paling terkenal adalah seorang imam Yesuit muda bernama Padre Miguel Pro. Dengan berbagai penyamaran, Padre Pro melayani orang-orang di kota Meksiko. Namun pada akhirnya, pemerintah menangkapnya dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya pada 23 November 1927. Presiden Meksiko (Plutarco Elias Calles) berpikir bahwa pada saat eksekusi, Padre Pro pasti akan gentar dan membujuk para eksekutor untuk membatalkan eksekusinya.  Untuk itu, dia mengundang pers untuk menyaksikan serta mengabadikan momen yang sangat mendebarkan dan menegangkan itu. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Padre Pro malah berlutut sambil berdoa dengan memegang salib. Setelah selesai berdoa, dia mencium salib itu lalu berdiri. Sambil memegang salib di tangan kanannya, dia mengangkat tangan dan berseru, Viva Cristo Rei! (“Hiduplah Kristus Raja!”). Pada saat itu juga, para tentara menembaknya.

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Bacaan-bacaan suci pada hari ini berkisar pada adegan Penghakiman Terakhir Yesus Kristus yang datang dalam segala kesemarakan kemuliaan dan kuasa.

Dalam bacaan pertama (Yeh 34:11-12, 15:17), Nabi Yehezkiel menghibur orang-orang Yahudi yang dibuang ke Babel. Ia menjelaskan bahwa pengasingan mereka disebabkan oleh ketidaktaatan dan ketidaksetiaan para Raja dan Pemimpin Agama terhadap Allah. Mereka telah menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang untuk meninggikan diri mereka sendiri. Karena itu, sebagai ganti para Raja dan Pemimpin Agama itu, Nabi bernubuat bahwa Allah sendirilah yang akan menjadi Gembala Israel yang menuntun, memberi makan, menyembuhkan, dan melindungi kawanan domba-Nya. Nubuat sang Nabi tentang Allah yang akan menjadi Gembala Ilahi bagi umatNya ini pada akhirnya terpenuhi dalam diri Yesus, Mesias dan Almasih Terjanji yang, sambil melakukan segala macam pelayanan kasih, Ia berkata: “Akulah gembala yang baik” (Yoh 10: 11). Yang juga menarik ialah Firman Allah yang ditujukan kepada para dombaNya, yakni bahwa Ia sendiri akan menjadi Hakim di antara domba dengan domba, serta di antara domba jantan dan kambing jantan. Firman ini menunjuk pada saat penghakiman terakhir, di mana Putera Manusia akan datang kembali sebagai Hakim pada akhir zaman, untuk mengadili manusia berdasarkan perbuatan-perbuatannya.

Dalam bacaan kedua (1 Kor 15:20-26, 28),  rasul Paulus berusaha menjawab persoalan yang dikemukakan jemaat Korintus: “Jika Yesus hidup di antara kita melalui kebangkitanNya, bagaimana Dia mempengaruhi hidup kita?” Dalam hal ini, banyak orang Korintus percaya pada ajaran Plato bahwa awalnya manusia adalah roh atau jiwa murni yang hidup di hadapan Allah. Namun karena dosa, manusia dihukum, di mana ia harus membawa-serta dalam dirinya, tubuh,  yang merupakan penjara bagi manusia selama hidupnya di dunia fana ini.  Tubuh itu akan ditinggalkan pada saat kematian, dan dengan itu,  manusia (sebagai roh atau jiwa murni) dibebaskan untuk kembali ke asalnya, bersatu dengan Allah dalam kebahagiaan abadi. Dengan demikian, jemaat Korintus tidak dapat memahami, bagaimana Yesus telah dibangkitkan dengan tubuh yang dimuliakan. Karena itu, Paulus menjelaskan bahwa sebagaimana Allah Bapa telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, demikian juga Yesus akan membangkitkan mereka yang percaya pada-Nya. Dengan kata lain, misi pertama Kristus yang bangkit sebagai Raja adalah memberi kita hidup kekal dengan membangkitkan tubuh kita dari kematian, sehingga membatalkan konsekuensi utama dosa Adam, manusia pertama. Dengan itu terpenuhilah kata-kata Yesus sendiri: “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh 10: 11). Selanjutnya, misi terakhir Kristus Sang Raja adalah menaklukkan semua kekuatan kosmik kepada-Nya, dan kemudian kepada Allah Bapa-Nya.

Perikop Injil Matius hari ini (Mat. 25: 31- 46) berkisah tentang Pengadilan Terakhir. Kristus datang pada akhir zaman sebagai Raja dan Hakim untuk mengadili seluruh umat manusia. Hukum utama yang berlaku dalam Kerajaan Kristus ialah hukum cintakasih. Maka satu-satunya pokok pertimbangan Sang Hakim pada saat itu ialah “apakah orang melakukan tindakan kasih atau tidak”. Kepada mereka yang diselamatkan Ia berfirman: “Marilah kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan…Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum…”. Pada saat itu menjadi nyata bahwa nilai hidup setiap orang di hadapan Tuhan hanya ditakar atas dasar perbuatan kasih, sekecil apa pun, yang dilakukan untuk orang yang miskin papa, yang hina dina, orang asing, penderita sakit, mereka yang terkurung dalam penjara … semua itu diperhitungkan sebagai bukti kasih kita kepada Kristus sendiri: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Hari ini, di penghujung tahun liturgi A, Gereja sejagat merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam. Ordo Fransiskan, dengan mengikuti jejak para teolog besar abad ketiga belas seperti Santo Bonaventura dan Beato Duns Scotus, sangat berperan dalam menetapkan Perayaan Kristus Raja dan memperluas perayaan ini ke Gereja-gereja lokal lainnya. Namun baru pada tahun 1925, dalam ensikliknya Quas Primas (“Aturan Utama”), Paus Pius XI secara resmi menetapkan Perayaan Kristus Raja bagi Gereja Universal. Penetapan Hari Raya oleh Sri Paus ini bertujuan untuk membawa kembali Kristus sebagai Penguasa dan juga nilai-nilai Kristiani, ke dalam kehidupan umat Kristen, masyarakat, dan politik. Perayaan ini menjadi pengingat bagi pemerintahan totaliter Mussolini, Hitler, dan Stalin, bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Raja yang berdaulat. Meskipun biografi para Kaisar dan Raja-raja banyak ditulis dan ditemukan dalam buku-buku sejarah, namun kita masih tetap dan terus menghormati Kristus sebagai satu-satunya Raja Semesta Alam dengan menulis, mengukir, dan memahat namaNya, bukan terutama di dalam buku apapun, melainkan di dalam hati kita, dan menyerahkan hidup kita kepada Allah. Perayaan Kristus sebagai Raja Semesta Alam ini bukanlah sekadar sebagai akhir tahun Gereja,  melainkan merupakan ringkasan dari kehidupan kita sebagai orang-orang Kristen. Perayaan ini menantang kita untuk melihat Kristus Raja dalam diri setiap orang, terutama mereka yang dianggap tidak penting oleh masyarakat kita, dan untuk memperlakukan setiap orang dengan cinta, belas kasihan, dan kemurahan hati, sama seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus, sang Raja dan Gembala Baik.

Ada beberapa pesan yang dapat ditarik dari perayaan meriah Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Alam Semesta, bagi hidup kita sehari-hari:

Pertama: kita perlu mengenal dan menghargai kehadiran Kristus dalam diri kita dan menyerahkan hidup kita kepada pemerintahanNya. Karena Kristus, Raja kita tinggal di dalam hati kita dengan Roh Kudus serta mengisi jiwa kita dengan rahmatNya, kita perlu belajar menyerahkan hidup kita kepadaNya, hidup dalam Kehadiran-Nya yang Kudus, dan melakukan kehendak Allah dengan membagi kasih pengampunan-Nya kepada orang lain di sekitar kita. Menyadari kehadiran-Nya dalam Kitab Suci, dalam Sakramen-sakramen, dan dalam komunitas yang menyembah Tuhan, kita perlu mendengar dan berbicara dengan-Nya.

Kedua, kita perlu belajar menjadi pelayan. Karena Kristus adalah Raja Pelayan, kita pun diundang untuk menjadi warga kerajaan-Nya yang setia, dengan memberikan pelayanan rendah hati dan dengan membagikan kasih serta pengampunan Kristus kepada orang lain.

Ketiga, kita perlu menggunakan kewenangan kita untuk mendukung pemerintahan Yesus. Perayaan ini merupakan undangan bagi semua orang yang memiliki kekuasaan atau kewenangan di ranah publik maupun pribadi untuk menggunakannya bagi Yesus, dengan menjadi saksi-Nya dalam cara hidup kita. Para orang tua diharapkan menggunakan kewenangan yang diberikan Tuhan kepada mereka untuk mendidik anak-anak mereka dalam nilai-nilai dan cara hidup Kristen yang berkomitmen. Demikian pun pemerintah dan para pejabat publik, diharapkan menggunakan kuasa dan wewenangnya untuk menciptakan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Keempat, kita perlu menerima Yesus Kristus sebagai Raja Kasih. Dia yang datang untuk mewartakan Kabar Baik megenai kasih dan keselamatan Allah kepada kita semua, memberikan kita perintah-Nya yang baru tentang kasih: “Kasihilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13:34), dan menunjukkan kasih itu dengan mati bagi kita yang berdosa. Kita menerima Yesus sebagai Raja Kasih ketika kita mencintai orang lain seperti Yesus sudah mencintai kita dengan kasih agape, tanpa syarat dan pamrih apapun.

Hanya dengan melakukan semuanya ini, maka Kristus akan  tetap meraja dalam hidup kita, dan pada saat kedatanganNya kembali sebagai Raja dan Hakim pada akhir zaman, Ia akan bersabda, “Marilah kamu semua yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan….”. Mudah-mudahan…Amin!!!

Leave a comment