“Seperti Allah yang Peduli”: Rekoleksi Mahasiswa UNDANA di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui

Penfui, Mikhael News – Sebanyak 103 mahasiswa Semester II Program Studi Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara Universitas Nusa Cendana (UNDANA) mengikuti kegiatan rekoleksi yang dipandu oleh Romo Leo Mali di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.00 WITA.

Rekoleksi ini merupakan bagian dari tugas akhir penilaian soft skill sebelum mahasiswa mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik yang diampu oleh Drs. Herman Yosep Utang, L.Phil.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Romo Leo Mali yang mengangkat tema “Seperti Allah yang Peduli”, terinspirasi dari Injil Matius 9:36–10:8. Dalam refleksinya, Romo Leo mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa Allah senantiasa peduli terhadap kehidupan manusia. Kepedulian itu tampak dalam diri Yesus yang tergerak oleh belas kasih ketika melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala.

Menurut Romo Leo, Yesus tidak hanya melihat kerumunan orang banyak, tetapi memandang setiap pribadi dengan segala pergumulan, luka, harapan, dan kebutuhan hidupnya. Karena itu, belas kasih Allah bukan sekadar rasa iba, melainkan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Kita memberi karena terlebih dahulu telah menerima. Kita mengasihi karena terlebih dahulu dikasihi. Kita peduli karena terlebih dahulu dipedulikan oleh Allah,” tegasnya.

Romo Leo juga mengingatkan bahwa kepedulian sejati selalu dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Mengacu pada perutusan para murid oleh Yesus, ia menjelaskan bahwa kepedulian tidak pertama-tama diwujudkan dalam hal-hal besar, melainkan melalui perhatian dan tindakan nyata kepada keluarga, komunitas, sahabat, serta sesama yang dijumpai setiap hari.

“Kepedulian yang sejati selalu konkret. Tanpa tindakan nyata, kepedulian hanya akan menjadi kata-kata indah atau bahkan sekadar sandiwara,” lanjutnya.

Lebih jauh, Romo Leo mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa pengalaman menerima kasih dan perhatian Allah tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Pengalaman tersebut harus diteruskan kepada sesama melalui sikap peduli, terbuka, dan siap melayani, sehingga setiap orang dapat menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi mereka yang membutuhkan.

Setelah sesi materi, para peserta dibagi ke dalam sepuluh kelompok untuk mengikuti sesi sharing yang didampingi oleh sepuluh frater tingkat V sebagai fasilitator. Dalam kelompok-kelompok kecil tersebut, para peserta diajak merefleksikan pengalaman hidup mereka melalui dua pertanyaan panduan: “Apakah saya sungguh menyadari bahwa Allah peduli kepada hidup saya?” dan “Siapakah yang sedang membutuhkan kepedulian saya saat ini?”

Sesi sharing berlangsung dengan penuh keterbukaan dan partisipasi aktif. Para peserta dengan antusias membagikan pengalaman hidup, pergumulan, luka batin, serta berbagai tantangan yang mereka hadapi. Melalui sharing tersebut, mereka saling belajar, saling menguatkan, dan menemukan kembali jejak kepedulian Allah yang senantiasa hadir dalam perjalanan hidup masing-masing.

Rangkaian rekoleksi ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat di Kapela Seminari. Perayaan dipimpin oleh Romo Leo Mali, sementara koor dibawakan oleh para peserta dan diiringi oleh para frater sebagai pemusik. Setelah perayaan, seluruh peserta, Romo, dan para frater mengabadikan momen kebersamaan melalui sesi foto bersama.

Salah seorang peserta, Wawan Sunarka dari Program Studi Ilmu Administrasi Negara Semester II, mengungkapkan bahwa rekoleksi ini membantunya semakin menyadari kehadiran dan kepedulian Tuhan dalam hidupnya.

“Melalui tema ‘Seperti Allah yang Peduli’, saya semakin menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kami, terutama di tengah berbagai kecemasan dan tantangan. Rekoleksi ini juga mengajak kami untuk lebih peduli terhadap sesama,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Samson Ardian dari Program Studi Ilmu Komunikasi Semester II membagikan pengalaman reflektif yang diperolehnya selama mengikuti rekoleksi.

“Melalui rekoleksi ini saya semakin menyadari bahwa kasih dan kepedulian Allah selalu hadir dalam perjalanan hidup saya. Saya juga belajar untuk mewujudkan pengalaman itu melalui kepedulian nyata kepada sesama,” tuturnya.

Kegiatan rekoleksi ini menunjukkan bahwa Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga menjadi sarana pembinaan iman, pembentukan karakter, dan pengembangan kepekaan sosial mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.

(Laporan: Frater Angga Sai)