Membuka Hati, Menyuburkan Panggilan – Lukas 8: 4-15 II Renungan Novena St. Mikhael Hari ke-1. Oleh: Fr. Addryanus J. Ndau

Injil hari ini menampilkan perumpamaan yang sangat akrab bagi kita, yaitu perumpamaan tentang penabur. Yesus menceritakan bahwa ada seorang penabur keluar untuk menaburkan benih. Benih yang sama jatuh di berbagai jenis tanah dengan hasil yang berbeda-beda: ada yang tumbuh di pinggir jalan, ada yang layu di tanah berbatu, ada yang terhimpit semak duri, dan ada yang akhirnya berbuah berlipat ganda di tanah yang baik. Yesus sendiri menerangkan metafora  dari perumpamaan ini, bahwa benih itu adalah firman Allah, tanah itu adalah hati manusia, dan hasilnya ditentukan oleh cara kita menanggapi firman.

Perumpamaan ini muncul dalam konteks pelayanan Yesus yang semakin dikenal banyak orang. Orang berbondong-bondong mengikuti Dia, tetapi tidak semua datang dengan hati yang terbuka. Ada yang sekadar ingin melihat mukjizat, ada pula yang sungguh mencari kebenaran. Karena itu Yesus berbicara dengan perumpamaan, agar kebenaran Kerajaan Allah tersingkap bagi mereka yang terbuka, tetapi tetap tersembunyi bagi mereka yang menutup hati (Luk. 8:10). Dengan demikian, perumpamaan ini tidak hanya mengajarkan isi firman, tetapi juga menguji motivasi hati pendengar.

Semua penabur benih, tentu ingin supaya benih yang ditaburinya tumbuh subur. Tetapi nyatanya ada benih yang tidak tumbuh sesuai misi penabur. Begitu pula dalam menebarkan kebaikan dan kebenaran, Tuhan yang adalah penabur injil ingin agar injil yang Ia ajarkan tumbuh dan berbuah. Tetapi kenyataannya tidak semua orang menanggapi sabda Yesus dengan hati yang lapang dan terbuka. Perumpamaan ini bukan bertujuan menjelaskan “teknis” cara Tuhan menabur, melainkan menekankan respons hati manusia yang berbeda-beda. Gambaran “benih yang jatuh di berbagai jenis tanah” adalah cara Yesus menggambarkan realitas pelayanan firman di dunia ini: firman diberitakan kepada semua orang, tetapi tidak semua akan menerimanya dengan benar. Jadi, bukan berarti Tuhan “sengaja” membuang firman ke tempat yang sia-sia, melainkan bahwa pemberitaan firman itu inklusif, menjangkau semua orang, dan hasilnya tergantung pada respons manusia. Allah dalam kedaulatan-Nya memberikan kebebasan kepada manusia untuk menolak atau menerima firman itu. Inilah yang menyebabkan sebagian benih tidak berbuah.

Dalam konteks kita para calon imam yang sementara menjalani panggilan Tuhan di Seminari, kiranya injil hari ini menjadi titik balik refleksi kita dalam membentuk diri di lembaga pendidikan calon imam ini. Seminari adalah ladang tempat Tuhan menaburkan firman-Nya. Dalam arti tertentu kita adalah benih yang dibiarkan jatuh dan bertumbuh di tempat ini agar berkembang dalam hal karakter dan spiritual yang baik. Tetapi kita juga adalah tanah yang memberi diri kita untuk menumbuhkan iman, harapan dan kasih sebagai buah pelayanan bagi banyak orang. Melalui injil hari ini, mari kita melihat kembali diri kita, melihat kualitas tanah hati kita, apakah kita sudah menyediakan tempat yang subur bagi pertumbuhan firman dan kebenaran Allah?

Saat ini kita sedang berada dalam euforia perayaan ulang tahun seminari Tinggi st, Mikhael yang ke-34. Momentum ulang tahun seminari bukan sekadar perayaan, tetapi momen refleksi bersama: apakah komunitas ini sungguh menjadi tanah yang subur bagi benih panggilan? Tema pesta Family kita tahun ini, “Merajut Persaudaraan, Menyebarkan Harapan” perlu dihayati sebagai jalan pembentukan kualitas ladang Tuhan. Benih firman tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga kepada komunitas. Hati yang subur menghasilkan buah nyata dalam hidup bersama. Seorang calon imam yang setia pada firman akan sanggup merajut persaudaraan: membangun hubungan yang tulus, menghargai perbedaan, saling menolong dalam kelemahan, dan meneguhkan dalam perjalanan panggilan. Persaudaraan yang terjalin dengan kasih Kristus itulah tanda bahwa benih firman sungguh hidup di tengah komunitas.

St. Yohanes Paulus II pernah mengungkapkan bahwa Seminari adalah ‘sekolah Injil’, tempat hati ditempa agar menjadi tanah yang baik. Lewat aturan yang ada: Kuliah, studi, berdoa, olahraga dan kerja, kita dibentuk untuk menjadi tanah yang baik dalam menumbuhkan benih kebenaran Tuhan. Jika kita sudah terlanjur melihat diri kita sebagai tanah yang keras dan berbatu dalam menanggapi kebenaran Tuhan, maka kita perlu berjuang untuk membentuk hati kita menjadi tanah yang subur. Kesuburan tanah ditentukan oleh kerja sama antara rahmat Allah dan keterbukaan pribadi kita. Marilah di moment pesta Family ini, kita membuka diri terhadap rahmat Allah, untuk membentuk kita menjadi tanah yang baik, yang setia dan tidak gampang menyerah menumbuhkan benih panggilan maupun benih kebenaran, demi kemuliaan Tuhan dan sesama. Semoga St. Mikhael pelindung kita, menjaga tanah hati kita agar tetap bertahan dan berkanjang dalam iman dan prinsip yang benar di dalam Tuhan. Amin