Para Romo dan para frater yang terkasih dalam Kristus.
Garam dan terang merupakan analogi konkrit, sederhana namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Nilai kegunaan garam dan terang tidak perlu diiklankan, namun semua orang mengetahui manfaatnya. Garam dapat dipakai untuk mengawetkan, memberi cita rasa pada makanan, menyuburkan tanaman dan sebagainya. Demikian pun terang. Tanpa terang kita tidak dapat melihat bahkan melakukan segala sesuatu. Terang itu walaupun hanya sebesar nyalanya lilin tetapi berguna untuk menerangi tempat yang gelap. Makna garam dan terang merupakan analogi yang dipakai Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang begitu penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat merupakan kehidupan yang sia-sia dan tak layak dijalani. Sebab apa artinya bila hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan, dan penderitaan bagi sesama.
Para Romo dan para frater yang terkasih dalam Kristus.
Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan merupakan bagian dari khotbah di bukit, salah satu ajaran Yesus yang terkenal. Setelah menyampaikan ucapan bahagia (Matius 5:1-12), Yesus melanjutkan dengan penegasan identitas murid-murid-Nya sebagai garam dan terang dunia. Pada zaman Yesus, garam memiliki berbagai fungsi: sebagai pengawet makanan, penyedap rasa, bahkan dalam beberapa ritual keagamaan Yahudi. Sedangkan terang melambangkan kebenaran, kemurnian, dan kehadiran Allah, terutama dalam budaya Yahudi yang sangat simbolis.
Ada beberapa poin yang dapat kita renungkan:
- Menjadi garam yang memberi rasa
Yesus menyebut kita garam dunia. Dalam pembicaraan-Nya tentang garam, Yesus tidak mau membicarakannya secara ilmiah. Yesus memberi kepada kita para pengikut-Nya suatu pengetahuan spiritual, kebijaksanaan, “jalan hidup”, supaya kita dapat mempertahankan mutu dunia ini. Serupa dengan garam, kita sebagai pengikut Kristus tidak boleh menghancurkan apa pun di dunia yang sudah baik. Kita justru harus berusaha supaya yang baik di dunia ini jangan mengalami proses pembusukan. Hal ini dapat dilakukan bila kita berperan sebagai saksi yang setia dalam memberi kesaksian tentang Kristus kepada sesama. Maka, sebagai orang yang percaya, kita dipanggil untuk membawa “rasa” Kristus ke dalam dunia yang hambar secara rohani dan juga menahan kerusakan moral dengan hidup yang benar, jujur, setia melayani dan penuh kasih. Sebab garam itu baru bermanfaat ketika ia memberikan rasa bagi sesuatu yang di luar dirinya. Ia tidak memiliki arti apa-apa untuk dirinya sendiri. Namun Yesus memberi peringatan: jika garam menjadi tawar, maka ia kehilangan fungsinya, sehingga tidak ada gunanya. Garam yang tawar merupakan gambaran orang percaya yang kehilangan nilai dan kekuatan rohaninya karena kompromi, ketidakpedulian, kehilangan identitas dan tidak lagi berdampak bagi dunia di sekitarnya. Karena itu, kita dipanggil untuk menjadi garam yang memberi rasa, yang berdampak bagi sesama dengan hidup dalam kejujuran, kesederhanaan, dan kesetiaan dalam pelayanan.
- Menjadi terang yang memberi cahaya bukan terang yang disembunyikan
Yesus juga berkata, “Kamu adalah terang dunia”. Terang berfungsi untuk menerangi kegelapan, menunjukkan jalan, dan memberikan pengharapan. Sebagai terang, hidup kita seharusnya menunjukkan Kristus melalui perbuatan baik, perkataan yang membangun, integritas dalam bekerja, dan kasih kepada sesama. Terang tidak bisa disembunyikan. Sebab, terang akan berarti ketika menghalau kegelapan yang berada di sekitarnya. Maka kita tidak dipanggil untuk hanya berdiam di kamar atau di kapela, tetapi untuk masuk ke dunia dan memancarkan terang Kristus di tengah-tengah dunia. Oleh karena itu, ketika Yesus meminta kita untuk menjadi garam dan terang itu berarti kita mesti menjadi pribadi yang berguna dan bermakna bagi orang lain. Di sini Tuhan memberikan dimensi baru tentang apa artinya mengikuti Dia. Bahwa mengikuti Dia bukan dengan cara memupuk kesalehan pribadi semata, tetapi bagaimana iman personal itu bermanfaat dan berguna bagi orang lain. Itu berarti kita hendaknya menjadi seperti garam yang mampu memberikan kebaikan bagi yang lain dan menjadi terang yang mampu menjadi cahaya bagi sesama. Dengan demikian kadar kepantasan kita mengikuti Tuhan diukur sejauh mana kita menjadikan Kristus sebagai sumber kekuatan yang menggarami dunia dan sumber cahaya yang membawa terang bagi dunia.
Para Frater yang terkasih dalam Kristus
Dalam konteks kita sebagai calon imam, sebagaimana garam yang menambah rasa pada makanan dan terang yang menyinai kegelapan, kita dipanggil untuk membawa kebaikan, kasih, dan kehidupan rohani bagi semua orang. Kita dipanggil untuk membawa cita rasa Kerajaan Allah ke dalam dunia yang seringkali terasa hambar dan tanpa harapan. Cita rasa ini diwujudkan melalui kasih, belas kasihan, kegembiraan, dan keadilan kepada orang-orang di sekitar kita. Maka, sebagai calon imam yang sedang dalam masa pembinaan kita perlu merenungkan bahwa kita harus memperkuat fondasi spiritual kita dengan secara aktif memupuk relasi dengan Tuhan melalui ekaristi, doa, dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya agar kita tidak menjadi garam yang tawar dan terang yang tersembunyi melainkan menjadi garam yang senantiasa memberi rasa pada makanan dan terang yang senantiasa memancarkan cahayanya.
Para Romo dan para frater yang terkasih dalam Kristus.
Selama kurang lebih satu bulan, kita telah melaksanakan berbagai kegiatan perlombaan dan pertandingan dalam rangka menyongsong perayaan pesta pelindung seminari kita di bawah tema: “Merajut kebersamaan, menyebarkan harapan”. Di tengah-tengah kesibukan kita, sebagai satu komunitas, kita perlu menyadari bahwa kita tidak dipanggil untuk hidup sendiri, tapi terlibat dan menyatu dalam kehidupan bersama. Sebagaimana garam yang tidak bekerja dalam isolasi tetapi ia harus bercampur agar bisa memberi rasa dan terang yang selalu dibutuhkan saat keadaan gelap. Demikianpun kita dipanggil untuk terlibat dan menyatu dalam kehidupan bersama. Kita dipanggil bukan untuk hidup terpisah tapi terhubung. Dalam keterhubungan itu, kita saling memberi rasa, saling menerangi, dan saling menopang. Maka tidak cukup hanya “baik secara pribadi”. Tetapi kita dituntut untuk berbaur dan menyatukan (merajut kebersamaan) serta hadir dan menyinari (menyebarkan harapan) dalam hidup berkomunitas. Karena itu, marilah kita merajut kebersamaan di komunitas kita yang tercinta ini dengan terlibat dan menyatu dalam kehidupan bersama. Mari kita menjadikan komunitas kita sebagai komunitas cinta dan harapan. Dan mari kita jadikan komunitas kita sebagai ladang garam dan sumber terang yang senantiasa berdampak serta menyebarkan harapan dan cinta kepada semua orang. Sebagaimana yang dikatakan St. Theresia dr Kalkuta: “Tebarkanlah cinta ke manapun engkau pergi. Jangan ada seorangpun yang datang menemuimu tanpa menjadi lebih bahagia ketika meninggalkanmu”.

