Kupang, Mikhael News – Para frater Seminari Tinggi St. Mikhael (STSM) Penfui turut ambil bagian dalam kegiatan Expo Panggilan se-Kota Kupang yang diselenggarakan di Paroki St. Fransiskus dari Asisi BTN, Kolhua. Kegiatan ini mengangkat tema “Mendengarkan Suara Tuhan di Tengah Arus Digital”, yang mengajak umat, khususnya kaum muda, untuk semakin peka terhadap panggilan Tuhan di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat. Expo panggilan ini berlangsung pada Rabu, 29 April hingga Minggu, 3 Mei 2026 di area lapangan futsal depan Paroki BTN, Kolhua, dan diikuti oleh 17 lembaga hidup bakti, termasuk Komunitas STSM.
Partisipasi para frater tampak melalui kehadiran stand panggilan yang informatif, yang bekerja sama dengan komunitas Leko dalam menjual buku-buku, serta keterlibatan aktif dalam mengisi rangkaian acara. Pada Kamis, 30 April 2026, para frater membawakan penampilan ansambel musik dengan tiga nomor lagu, yakni La Palloma, Canon Rock, dan Veronika. Penampilan ini disajikan dengan baik dan berhasil menarik perhatian umat yang hadir. Musik menjadi sarana pewartaan yang sederhana, meghadirkan sukacita dan mengajak umat, khususnya kaum muda, untuk semakin terbuka dalam menanggapi panggilan Tuhan. Bakat dalam memainkan alat music pun menjadi jalan untuk melayani dan memuliakan-Nya.
Kehadiran frater STSM kembali mewarnai jalannya expo pada malam puncak yang berlangsung Sabtu, 2 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, pertunjukan Teater Bayangan dan Fragmen secara khusus dibawakan oleh para frater tingkat I program filsafat dengan pendampingan dari frater tingkat V program teologi.
Melalui permainan Cahaya, adegan dramatik, dan pembacaan monolog, penampilan ini mampu memainkan emosi dan menghipnotis penonton yang hadir. Umat tampak terpukau dan serius menyaksikan setiap adegnapertunjukan ini mengangkat realitas manusia modern yang kerap terjebak dalam hiruk-pikuk dunia digital. Kisah yang ditampilkan berfokus pada perjalanan batin seorang frater yang hidup di tengah koneksi maya, namun mengalami keterasingan dalam kehidupan nyata. Bunyi notifikasi dan kilauan layar ponsel digambarkan sebagai distraksi yang perlahan menjauhkan manusia dari relasi yang hangat dengan sesama, serta dari keheningan yang memungkinkan perjumpaan dengan Tuhan.
Pertunjukan ini menjadi refleksi sekaligus ajakan bagi umat untuk merenungkan kembali prioritas hidup. Di tengah kemudahan akses digital, manusia diajak untuk tidak kehilangan kepekaan hati, menjaga relasi dan menyediakan ruang hening untuk mendengarkan suara Tuhan.
Salah satu pemeran, Frater Aril yang berperan sebagai frater dalam pertunjukan tersebut, mengungkapkan bahwa pementasan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ruang refleksi bagi umat.
“Kami ingin mengajak semua orang untuk melihat kembali bagaimana dunia digital memengaruhi hidup kita. Kadang kita begitu sibuk dengan layar, sampai lupa mendengarkan Tuhan yang hadir dalam keheningan,” ungkapnya.
Sementara itu, Frater Ito Naimnanu sebagai salah satu penanggung jawab acara menegaskan bahwa teater bayangan ini secara khusus ingin merefleksikan tema yang diangkat dalam expo panggilan tahun ini sekaligus menjadi ajakan bagi kaum muda.
“Melalui pertunjukan ini, kami mau menunjukkan bahwa di tengah kebisingan dunia digital, manusia sering merasa jauh dari Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah jauh; Ia selalu hadir dan setia menanti kita untuk kembali mendengarkan suara-Nya. Karena itu, kami pun mengajak kaum muda untuk berani mendengarkan dan menjawab panggilan khusus dari Tuhan dalam hidup mereka,” jelasnya.
Mey Rambu, salah satu penonton, turut menyampaikan kesannya setelah menyaksikan pertunjukan teater bayangan yang dibawakan para frater.
“Menyaksikan penampilan para frater, saya sungguh terkesan dengan kreativitas yang mereka tampilkan. Teater bayangan ini menghadirkan interpretasi yang mendalam tentang dinamika peran setiap orang dalam mendengarkan suara Tuhan, sekaligus mengingatkan pentingnya merawat relasi, baik terhadap Tuhan dan sesama ciptaan di tengah arus digital yang semakin pesat. Sebagai seorang pengamat, saya melihat teater ini bukan hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga menjadi jembatan untuk menyampaikan isu-isu penting dengan cara yang segar dan menarik,” ungkapnya, yang juga merupakan Ketua OMK Paroki St. Yosef Penfui Kupang.
Melalui partisipasi ini, para frater STSM menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung karya Gereja, khususnya dalam menumbuhkan kesadaran akan panggilan hidup bakti di kalangan generasi muda. Melalui kreativitas dan keterlibatan aktif ini, para frater tidak hanya menampilkan bakat seni, tetapi juga menghadirkan pesan iman yang relevan dan mendorong kaum muda untuk berani menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan mereka.

















