Dalam rangka memperdalam tradisi intelektual komunitas, para frater Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang, kembali mengadakan diskusi akademik pada Sabtu (07/03/2026), pukul 08.00-09.30 WITA. Kegiatan ini diikuti oleh frater dari Tingkat I hingga Tingkat IV yang dibagi dalam beberapa kelompok diskusi.
Kelompok-kelompok diskusi tersebut kemudian menempati berbagai tempat di sekitar lingkungan seminari, seperti lopo-lopo di sekitar unit, beberapa aula, kamar makan, hingga ruang-ruang kelas. Diskusi akademik ini merupakan kegiatan rutin bulanan yang diprogramkan untuk menjadi wadah bagi para frater dalam menyalurkan gagasan, melatih kemampuan berargumentasi, serta menumbuhkan sikap berpikir kritis dan reflektif terhadap realitas kehidupan.
Tema diskusi kali ini bertitik tolak dari pemikiran filsuf Jerman abad ke-20, Martin Heidegger, khususnya mengenai konsep Dasein, Mitsein, dan Das Man. Heidegger dikenal sebagai salah satu filsuf besar yang pemikirannya memberi pengaruh luas, tidak hanya dalam filsafat tetapi juga dalam teologi, sastra, psikologi, hingga ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Melalui karya monumentalnya Sein und Zeit (Ada dan Waktu, 1927), Heidegger berusaha menggali kembali pertanyaan mendasar tentang makna keberadaan manusia.
Dalam pemikirannya, Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yang secara harfiah berarti “ada-di-sana”, yakni makhluk yang sadar akan keberadaannya sendiri dan mampu merefleksikan hidupnya. Dasein tidak hidup secara terisolasi, melainkan selalu berada dalam relasi dengan orang lain. Karena itu, Heidegger memperkenalkan konsep Mitsein, yang berarti “ada-bersama”, untuk menunjukkan bahwa keberadaan manusia sejak awal selalu terarah kepada kehidupan bersama dengan sesama.
Salah satu kelompok diskusi yang diketuai oleh Frater Tista Siki mengangkat tema “Relevansi Pemikiran Martin Heidegger tentang Mitsein sebagai Landasan Kehidupan Bersama di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui.” Kelompok ini mencoba mengaitkan pemikiran Heidegger dengan realitas hidup para frater yang setiap hari menjalani kehidupan dalam satu komunitas.
Dalam pemaparan kelompok tersebut dijelaskan bahwa hidup berkomunitas menuntut adanya relasi dan keterlibatan aktif antaranggota komunitas. Kehadiran seseorang dalam komunitas tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga perlu diwujudkan melalui interaksi sosial yang nyata, sikap saling peduli, dan keterbukaan terhadap sesama.
Di sisi lain, Heidegger juga mengingatkan tentang konsep Das Man, yakni keadaan ketika seseorang hidup hanya mengikuti pola umum atau arus kelompok tanpa refleksi pribadi. Dalam konteks kehidupan komunitas, sikap seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan keaslian diri atau hidup secara tidak autentik.
Diskusi tersebut juga menyinggung tipologi kepribadian introvert dan ekstrovert yang kerap ditemukan dalam kehidupan bersama. Kedua kecenderungan ini dipahami sebagai variasi cara manusia menghidupi keberadaannya dan menjalin relasi dengan sesama. Karena itu, komunitas yang sehat tidak menuntut keseragaman kepribadian, tetapi memberi ruang bagi setiap individu untuk mengaktualisasikan dirinya secara bebas dan bertanggung jawab.
Melalui diskusi akademik ini, para frater diajak untuk semakin memahami makna hidup berkomunitas secara lebih mendalam. Kebersamaan tidak berarti kehilangan identitas pribadi, melainkan menjadi ruang bagi setiap anggota komunitas untuk bertumbuh bersama sambil tetap menjaga keaslian diri dalam perjalanan panggilan.
(Laporan : Frater Natalino Seran)