Penfui, Mikhael News – Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael merayakan Perayaan Ekaristi Rabu Abu pada Rabu (18/2/2026) di Kapela St. Mikhael. Misa dipimpin oleh RD. Leo Mali, Pr sebagai selebran utama, bersama RD. Valens Boy, RD. Herman Punda Panda, RD. Okto Naif, dan RD. Sintus Runesi sebagai para imam konselebran. Perayaan ini turut dihadiri umat yang tinggal di sekitar lingkungan seminari.
Perayaan Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah bagi umat Katolik di seluruh dunia. Tanda salib dari abu yang dioleskan di dahi menjadi simbol pertobatan dan kesadaran akan kefanaan manusia. Imam mengucapkan, “Ingatlah bahwa engkau berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Abu melambangkan kerendahan hati, pertobatan, dan kesiapan untuk menjalani perjalanan rohani selama 40 hari menuju Paskah.
Dalam homilinya, RD. Leo Mali membacakan Surat Gembala Prapaskah 2026 dari Uskup Agung Kupang, Mgr Hironimus Pakaenoni, dengan tema: “Aksi Puasa Pembangunan: Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan.” Dalam surat tersebut, Uskup menegaskan: “Masa rahmat ini adalah kesempatan untuk memperbarui hidup, memperdalam pertobatan, berbalik kepada Tuhan, serta meneguhkan kembali panggilan kita sebagai murid-murid Kristus yang diutus.” Ia juga mengingatkan bahwa APP bukan sekadar pengumpulan dana, tetapi gerakan iman yang nyata: “APP bukan sekadar aksi sosial-karitatif, melainkan proses pendidikan iman menuju transformasi sosial.”
Mengutip Nabi Yesaya (Yes 58:6–7), Uskup menegaskan makna puasa sejati sebagai tindakan membebaskan dan berbagi kepada sesama yang menderita. Semangat ini diteguhkan pula oleh ajaran Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang bergerak dan pergi ke pinggiran. Lebih lanjut, Uskup menekankan pentingnya menghadirkan pengharapan di tengah berbagai tantangan sosial yang nyata. Ia menulis: “Pengharapan Kristiani bukanlah sekadar optimisme kosong, melainkan keyakinan teguh bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam sejarah.” Dalam semangat sinodalitas, seluruh umat diajak untuk berjalan bersama: “Gerakan misioner bukan hanya tugas para imam atau biarawan-biarawati, tetapi panggilan seluruh umat Allah.”
Mengakhiri pesannya, Uskup mengajak umat untuk aktif mengikuti kegiatan APP, menghidupi Sakramen Tobat, meningkatkan doa pribadi dan keluarga, serta membangun aksi solidaritas nyata. Harapannya, Masa Prapaskah sungguh menjadi perjalanan pembaruan iman sehingga pada Paskah nanti umat bangkit bersama Kristus sebagai Gereja yang semakin misioner dan penuh pengharapan.
Perayaan Rabu Abu di Seminari Tinggi St. Mikhael menjadi awal ziarah rohani komunitas memasuki masa Prapaskah. Dalam suasana hening dan reflektif seluruh peserta perayaan diajak untuk menghidupi semangat pertobatan, pembaharuan diri, serta solidaritas kasih, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Gembala Uskup Agung Kupang.
(Laporan: Tim Mikhael News)









