Penfui, Mikhael News – Para frater Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui kembali menghayati momen pembinaan rohani melalui ibadat tobat yang dilaksanakan pada Selasa sore (09/04/2026)tepat pukul 15.30 WITA di Kapela STSM. Ibadat ini dipimpin oleh Fr. Dion Kaha dan Fr. Ferdi Mau, yang dengan penuh khidmat mengajak para frater untuk memasuki suasana refleksi dan pertobatan yang mendalam.
Dalam ibadat tersebut, para frater diajak untuk merenungkan bacaan Injil tentang kisah anak yang hilang, yang menampilkan tiga tokoh sentral sekaligus tiga prototipe kehidupan manusia. Anak bungsu digambarkan sebagai pribadi yang jatuh dalam dosa namun memiliki keberanian untuk bertobat. Anak sulung melambangkan sikap merasa diri benar, tetapi miskin belas kasih. Sementara itu, Bapa menjadi gambaran Allah yang penuh kasih dan pengampunan tanpa batas.
“Kisah ini mengajak kita untuk melihat diri kita sendiri: apakah kita seperti anak bungsu yang jatuh namun mau kembali, atau seperti anak sulung yang merasa benar tetapi sulit mengasihi,” ungkap Frater Ferdi Mau dalam renungannya.
Kisah anak bungsu yang meninggalkan rumah Bapa dan menghabiskan warisannya dalam kehidupan berfoya-foya menjadi simbol kebebasan yang disalahgunakan. Kebebasan tersebut membawa manusia jatuh ke dalam dosa, menjauh dari rahmat dan belas kasih Allah. Kehinaan akibat dosa dilukiskan secara tajam ketika anak bungsu ingin makan ampas makanan babi, sebuah gambaran bahwa dosa membuat hidup manusia menjadi hampa, menderita, dan merendahkan martabatnya sebagai anak Allah. Tetapi kisah anak bungsu tidak berhenti di situ, ia sadar bahwa ia berdosa, menjadi hampa akibat jauh dari rahmat dan belas kasih Allah, oleh karenanya ia mengambil keputusan untuk kembali.
Pertobatan adalah berbalik kepada Allah, tidak tetap tinggal dalam dosa yang sama. Bangkit dari kejatuhan, melepaskan diri dari belenggu dosa, menaklukkan kebebasan yang menyesatkan di hadapan Allah, menundukkan superoritas, menjadi pribadi yang rendah hati dan berani mengakui kesalahan. Itulah pertobatan yang memulihkan relasi dengan Allah, tambahnya.
Kegiatan ibadat tobat dan pengakuan dosa ini merupakan agenda rutin bulanan yang telah menjadi bagian integral dari aturan umum Seminari Tinggi. Praktik ini tidak hanya bersifat formal, melainkan menjadi sarana pembinaan rohani yang esensial bagi setiap frater dalam perjalanan panggilan imamatnya. Usai ibadat tobat, para frater melanjutkan dengan pengakuan dosa secara pribadi, sebagai kesempatan untuk secara jujur mengakui dosa-dosa mereka serta menerima pengampunan dari Allah, sehingga kehidupan rohani mereka semakin dimurnikan dan diteguhkan.
Ibadat tobat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa panggilan imamat tidak hanya menuntut kesiapan intelektual dan pastoral, tetapi juga kedalaman hidup rohani yang terus diperbaharui dari waktu ke waktu. Melalui proses ini, para frater diharapkan semakin dibentuk menjadi calon imam yang suci, rendah hati, dan setia dalam pelayanan.
(Laporan: Frater Marsel)


