Dari Ekaristi Menuju Kesadaran Diri: Fakultas Filsafat Unwira Memulai Semester Genap 2025/2026

Penfui, Mikhael News – Segenap civitas akademika Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang secara resmi mengawali dinamika Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin (02/02/2026) melalui rangkaian kegiatan pembukaan yang dipusatkan di Komunitas St. Mikhael Penfui-Kupang.

Ekaristi sebagai Pondasi Perjalanan Akademik

Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang  dimulai pada pukul 08.00 WITA di Kapela St. Mikhael. Misa dipimpin langsung oleh Rektor Unwira, P. Dr. Stefanus Lio, SVD, S.Fil., MA , dengan didampingi oleh para imam dari Seminari Tinggi St Mikhael, biara OCD, CMF, Hati Kudus, Sch.Pio serta dihadiri para dosen, staf pengajar dan mahasiswa/i Fakultas Filsafat. Dalam homilinya pada Perayaan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, Pater Stefanus menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan ungkapan penyerahan iman yang total. Maria dan Yusuf menyadari dan mengakui bahwa Yesus  bukan milik mereka sepenuhnya, melainkan ia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Momentum tersebut menjadi ajakan bagi civitas akademika untuk kembali menyerahkan seluruh proses pencarian intelektual kepada Allah sebagai Kebenaran Sejati.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa filsafat sejati tidak boleh berhenti pada tataran wacana abstrak, melainkan harus menyentuh realitas konkret dan penderitaan manusia.

“Filsafat yang tidak menyentuh penderitaan manusia akan berubah menjadi wacana kosong. Sebaliknya, filsafat yang berani turun ke bawah, seperti Kristus, akan menjadi jalan pembebasan dan pengharapan,” tegasnya.

Mengakhiri homili, Pater Stefanus menyampaikan harapan agar Kristus, Terang Sejati yang dipersembahkan di Kenisah, senantiasa menerangi seluruh dinamika belajar, berpikir, dan mengajar civitas akademika. Dengan demikian, pencarian intelektual yang ditekuni sungguh menjadi jalan menuju kebijaksanaan, kemanusiaan, dan pada akhirnya kepada Allah sendiri.

Di akhir perayaan, Dekan Fakultas Filsafat, Rm. Dr. Yohanes Subani, Pr., Lic.Iur.Can., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat memasuki Semester Genap kepada seluruh civitas akademika Fakultas Filsafat. Ia mengajak semua pihak untuk menjalani proses perkuliahan dengan semangat baru, keterbukaan hati, serta kesungguhan dalam pembelajaran dan pembentukan diri.

“Semoga terang kebenaran Kristus dan kedewasaan kesadaran diri senantiasa menuntun seluruh proses pembelajaran dan pembentukan kita di Fakultas Filsafat,” ujar Romo Dekan.

Pada kesempatan tersebut, Romo Dekan juga menyampaikan terima kasih kepada Pater Rektor, para pimpinan biara, para dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh civitas akademika Fakultas Filsafat yang telah berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Ia secara khusus mengapresiasi Pater Rektor yang memimpin perayaan pembuka sekaligus akan memberikan kuliah umum dalam rangkaian kegiatan pembukaan semester.

Lectio Brevis: Kesadaran Diri dalam Perspektif Konseling

Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan Lectio Brevis (Kuliah Umum) yang berlangsung di Aula Unit Ibrani  STSM pada pukul 10.00 WITA. Pater Dr. Stefanus Lio, SVD, S.Fil., M.A., kembali hadir sebagai narasumber tunggal dengan membawakan materi bertajuk “Kesadaran Diri: Fondasi Pembentukan Pribadi yang Bertanggung Jawab.”

Ditinjau dari perspektif disiplin ilmu Bimbingan dan Konseling, Pater Stefanus dalam pemaparannya menegaskan bahwa kesadaran diri merupakan fondasi utama dalam pembentukan pribadi yang bertanggung jawab. Kesadaran diri menolong manusia untuk mengenali dirinya sebagai subjek yang bebas dan reflektif, sehingga kebebasan tidak jatuh pada tindakan impulsif, melainkan diwujudkan dalam pilihan-pilihan yang bermakna dan etis. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan tinggi semestinya menjadi ruang pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar proses transfer pengetahuan.

“Semakin seseorang menyadari dirinya, semakin besar pula tanggung jawab yang ia miliki,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peran strategis filsafat dalam membentuk pribadi yang reflektif, bertanggung jawab, dan autentik. Melalui kesadaran diri, manusia tidak hanya hidup, tetapi sungguh menghidupi kehidupannya secara bermakna.

Antusiasme Mahasiswa

Pemaparan materi tersebut memicu diskusi kritis yang dinamis. Para mahasiswa tampak antusias menggali lebih dalam mengenai kaitan antara eksistensi manusia dengan tanggung jawab etis. Sebagai penutup, Rm. Yohanes Subani berpesan agar seluruh siswa memahami nilai-nilai yang telah disampaikan. Ia berharap civitas akademika Fakultas Filsafat dapat tumbuh menjadi bibit unggul yang cerdas secara intelektual dan matang secara kepribadian demi masa depan Gereja dan bangsa.

(Laporan: Frater Natalino Seran)