Fratres Seminari Tinggi St. Mikhael Laksanakan Ibadat Tobat dan Pengakuan Dosa Bulanan

Penfui, Mikhael News – Para frater komunitas Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui-Kupang kembali melaksanakan ibadat tobat dan pengakuan dosa untuk bulan November. Kegiatan ini berlangsung di Kapela STSM pada Kamis, (13/11/2025), pukul 15.30–16.15 WITA dan dilanjutkan dengan pengakuan dosa pribadi.

Pemimpin ibadat pada kesempatan ini adalah Frater Rey Asury, sedangkan renungan dibawakan oleh Fr. Raimundus Tanu. Pada awal pengantar ibadat, Fr. Rey Asury mengingatkan pentingnya momen pertobatan bulanan ini. Ia mengatakan:

“Kita seharusnya bersyukur karena komunitas telah memberikan kepada kita waktu dan kesempatan untuk mengadakan ibadat tobat setiap bulan. Ini bukan hanya rutinitas bulanan yang diwajibkan bagi para frater, melainkan momen penting bagi para frater untuk memulihkan kembali relasi kita dengan Tuhan.”

Dalam permenungan yang bertolak dari bacaan Injil Luk. 15:1-7, Frater Raimundus Tanu menyampaikan refleksi tentang perumpaan Domba yang Hilang. Ia mengatakan, Penginjil Lukas mengajak kita sekalian untuk bermenung bersama perihal suatu perumpaan tentang Domba yang Hilang hanya untuk menggambarkan bahwa merupakan sukacita yang besar bagi Tuhan tatkala salah satu domba-Nya yang Hilang dari kebersamaan, hilang dari perkumpulan, hilang dari komunitas, bahkan hilang dari Sang Empunya, akhirnya kembali ditemukan dan diselamatkan. Ia kemudian menegaskan bahwa semua itu terwujud berkat belas kasih Gembala Agung yang selalu mengambil inisiatif untuk mencari dan merangkul kembali domba-domba yang tersesat.

“Deus semper primus est, Tuhan selalu yang pertama, untuk selalu bergerak duluan untuk mencari  ‘domba-domba’ yang hilang,” ujar Frater Roni.

Lebih lanjut, Fr. Raimundus menegaskan bahwa pertobatan adalah panggilan untuk kembali datang kepada Yesus, mendengar-Nya, dan membuka diri agar relasi yang sempat dirusakkan oleh dosa dapat dipulihkan. Ia menyoroti kontras yang muncul dalam bacaan Injil antara para pendosa yang “biasa datang kepada Yesus” dan kelompok Farisi yang justru bersungut-sungut. Melalui perumpamaan Domba yang Hilang, Yesus menampakkan inisiatif kasih seorang Gembala Sejati yang tidak menunggu, tetapi selalu lebih dulu mencari mereka yang tersesat.

Di akhir renungan, Frater Roni mengingatkan bahwa Sakramen Tobat adalah wujud nyata belas kasih Tuhan yang menyapa manusia. Ia mengajak para frater untuk menyadari bahwa setiap orang, termasuk mereka yang mengenakan jubah, tidak luput dari dosa dan karena itu perlu kembali datang kepada Tuhan dengan rendah hati. Sebagaimana para pemungut cukai dan orang berdosa yang “biasa datang kepada Yesus,” demikian pula para frater dipanggil untuk membiarkan diri ditemukan kembali oleh Tuhan, menerima pengampunan-Nya, dan memperbarui relasi yang menyelamatkan.

Setelah ibadat tobat, para frater diberi waktu untuk mencari keheningan sebagai persiapan batin sebelum pengakuan dosa. Pada bagian akhir kegiatan, para frater bergiliran menuju tempat pengakuan. Tiga pater dari Biara OCD hadir untuk melayani pengakuan pribadi. Akhirnya, para frater menerima penitensi dari bapak pengakuan, lalu berdoa dengan khusyuk di tempat duduk masing-masing sebelum kembali melanjutkan rutinitas harian dengan semangat baru.

(Laporan: Frater Marsel Kii)