‘KEHENINGAN’ YANG DIPERSEMBAHKAN UNTUK MGR. PETRUS TURANG, USKUP EMERITUS KEUSKUPAN AGUNG KUPANG
(Fr. Peter Ronaldo Thaal, Calon Imam Keuskupan Atambua, Tingkat V)
Catatan Pembuka
Rekoleksi umum yang diselenggarakan pada bulan ini dibimbing oleh Rm. Mikhael Valens Boy. Rekoleksi yang bergerak di bawah tema umum “Bunda Maria dalam perspektif Keempat Injil” merupakan suatu refleksi eksegetis dan pastoral untuk mendalami peranan Bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Bunda Maria akan direfleksi dari perspektif keempat Injil, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Refleksi tentang Bunda Maria dari perspektif keempat Injil akan diulas secara singkat dan umum, tentang bagaimana peranan Bunda Maria dalam kehidupan Putranya dan juga relevansi pastoral dalam kehidupan Gereja masa kini. Secara istimewa juga, rekoleksi ini dipersembahkan untuk almahrum Mgr. Petrus Turang, Uskup Emiritus Keuskupan Agung Kupang, yang telah mendahului kita memasuki keabadian surgawi. Pada awal rekoleksi ini Rm. Valens juga telah menyampaikan kepada para Frater untuk mempersembahkan “keheningan” rekoleksi ini untuk Mgr. Petrus Turang. Keheningan selama rekoleksi ini adalah keheningan untuk mengenangkan dan merefleksikan tentang tokoh Mgr. Petrus Turang dalam karya keggembalaanya di Keuskupan Agung Kupan ini. Oleh sebab itu, dalam keheningan rekoleksi ini saya merenungkan tema Bunda Maria dalam perspektif Keempat Injil, peranannya dalam kehidupan Yesus Kristus dan kehidupan Para Rasul pasca kebangkitan Kristus dan juga tokoh Mgr. Petrus Turang, seorang gembala umat.
Cerita Kecil Dari Katedral Atambua
Cerita kecil ini datang dari Paroki Katedral St. Maria Immaculata Atambua ketika saya masih menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Di tempat itulah saya bertemu, melihat secara langsung dari dekat dan bersalaman dengan bapak Uskup Emiritus Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Secara personal, pengalaman bertemu langsung dan memberi salam (mencium cicin gembala Uskup) kepada Mgr. Petrus Turang adalah pengalaman pertama saya dalam hidup. sebelumnya, ketika masih menjalani masa-masa pendidikan di Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang dan pembinaan di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang, saya belum pernah memberi salam secara langsung (mencium cicin gembala seorang uskup) kepada Mgr. Petrus Turang. Pernah satu kali, ketika Mgr. Turang merayakan ekaristi pemakanan bagi almahrum Rm. Arnoldus Bria, Pr (Pembina Fratres Seminari Tinggi) di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang, saya baru pertama kali melihat dari dekat sosok yang berkarismatis, dan tegas ini, Mgr. Turang. Tetapi waktu itu saya hanya melihat dari jauh Mgr. Turang ketika ia merayakan ekaristi dan megganti perlengkapan misa. Saya tidak berani, atau boleh dikatakan, ‘takut’ untuk bertemu beliau dan memberi salam. Itu pengalaman pertama saya melihat dari dekat Mgr. Petrus Turang.
Pengalaman kedua saya (dan terakhir kalinya) menyaksikan secara dekat Mgr. Petrus Turang adalah ketika bapak Uskup datang ke Paroki Katedral Atambua untuk merayakan misa requiem bagi almahrum Mgr. Anton Pain Ratu, SVD. Pada momen itulah saya melihat bapak Uskup secara dekat dan kemudian dengan hati yang berani menghampiri Mgr. Turang dan memberi salam kepadanya. Saya mencium cicin gembalanya sebagai tanda penghormatan saya kepada bapak Uskup. Memang ada rasa gugup, panik, takut dan cemas saat menghampiri Mgr. Turang pada waktu itu. Karena memang pada saat itu, Mgr. Turang juga bersama dengan Mgr. Dominikus Saku serta beberapa pejabat daerah Kabupaten Belu dan Provinsi NTT sedang berdiri di depan pintu Gereja Katedral Atambua dan hendak menanti kedatangan jenazah Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, yang sedang diarak dari Lalian-Tolu ke Gereja Katedral Atambua. Dalam keadaan menunggu jenazah Mgr. Anton yang sedang dalam perjalanan ke Gereja Katedral Atambua, saya melihat bahwa ada satu dan dua umat yang berani maju memberi salam kepada Mgr. Turang dan Mgr. Domi. Hal inilah yang membuat dengan penuh keyakinan maju ke depan, menghampiri Mgr. Turang dan memberi salam kepadanya, dengan mencium cicin gembalanya.
Waktu itu beliau hanya memberi tangannya untuk dicium. Tidak ada reaksi mengusir atau memahari saya yang datang kepadanya. Begitpun dengan umat yang lain, yang datang menyalami beliau. Sikap Mgr. Turang adalah hanya mengulurkan tangannya dan membiarkan kami, umatnya, mencium cincin gembalanya sebagai suatu tanda penghormatan kepadanya sebagai seorang gembala. Itulah pengalaman yang sangat membekas di dalam benak saya sebagai Frater TOP, Calon Imam. Secara personal, ada rasa bangga, gembira dan sukacita yang meluap di dalam hati saya. Tetapi, ada juga rasa takut, gugup, panic, cemas dan segan ketika hendak mengampiri Mgr. Turang dan menyalaminya. Perasaan ini terpengaruh dari anggapan teman-temam kaum berjubah, bahwa Mgr. Turang adalah sosok yang tegas, disiplin dan berbicara straight to the poin. Anggapan ini menambah ketakutan dalam diri saya untuk menghampiri ia secara langsung dan menyalaminya. Tetapi, saya meninggalkan semua anggapan itu dan berani untuk maju ke depan dan menyalaminya. Bagi saya ini adalah momen yang tepat untuk bisa bersalaman dengan Mgr. Turang dank arena itu, saya memberanikan diri untuk menyalaminya.
Pengalaman menyaksikan dan menyalami Mgr Turang ini membuat saya memiliki keyakinan bahwa Mgr. Turang adalah seorang uskup yang penuh kebapaan. Ia menerima umat yang datang kepadanya. Ia mau mendengarkan umat siapapun itu, entah yang berada di kalangan pemerintahan maupun di kalangan kaum sederhana. Hatinya yang besar itu merangkum semua orang. Melalui pengalaman yang sederhana ini saya kemudian merefleksikan bahwa Mgr. Turang adalah sosok yang berkharisma, berwibawa, tenang dan tegas. Setiap kita yang pernah berjumpa dan berdialog dengan Mgr. Turang pasti di dalam benaknya ada rasa segan terhadap sosok yang satu ini. Aura kepemimpinannya sebagai gembala umat begitu kuat dan terasa melalui perkataan dan perbuatannya. Walaupun demikian, Mgr. Turang juga memiliki sifat persaudaraan dan berbela rasa dan kerendahan hati yang tinggi. Kehadirannya Gereja Katedral Atambua untuk memimpin perayaan ekaristi requiem Mgr. Anton Pain Ratu, SVD merupakan suatu ungkapan persaudaraan, berbela rasa dan kerendahan hatinya kepada umat Keuskupan Atambua, yang pada waktu itu tengah berduka. Mgr. Turang hadir untuk memberikan kekuatan moril, kekuatan kemanusiaan dan kekuatan spiritual kepada Umat Keuskupan Atambua, bahwa di balik penderitaan ada sukacita, di balik kematian ada kehidupan.
Melalui kotbahnya pada misa requiem Mgr. Anton Pain Ratu, SVD di Gereja Katedral Atambua, Mgr. Turang menegaskan akan pentinnya iman dalam hidup ini. Bagi Mgr. Turang, iman adalah yang utama dalam hidup ini. Iman itulah yang membuat manusia dapat hidup baik, rukun, adil dan sejahtera di dunia. Begitupun sebaliknya, kehancuran dalam hidup ini terjadi karena manusia tidak lagi beriman kepada Tuhan. Manusia mau hidup sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, Mgr. Turang mengingatkan umat Katolik Keuskupan Atambua untuk memelihara iman tersebut, agar bertumbuh dan berkembang sehingga menghasilkan buah-buah kehidupan.
Terima kasih Mgr. Turang atas cinta dan kebaikanmu bagi kami, teristimewa menjadi teladan dalam keberimanan kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Kini Bapak Uskup telah pergi ke keabadian surgawi, pergi kepada Dia Sang Gembala Agung. Ragamu akan dikebumikan, tetapi rohmu senantiasa hidup dan menginspirasi kami kami untuk terus berkanjang dan bertekun di dalam iman akan Yesus Kristus, Sang Penebus dan Juruselamat umat manusia. Sebab iman akan Yesus Kristus itulah yang membuat kami mengalami “Jalan, kebenaran dan kehidupan” (Bdk Yoh 14:6). Terima kasih sang gembala yang murah hati, atas perhatian dan dukunganmu terhadap kami Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang. Hatimu senantiasa tertambat bagi lembaga pendidikan dan pembinaan Calon Imam ini sehingga melalui proses pembinaan yang matang dan bijaksana, lahirlah pelayan-pelayan Gereja, imam-imammu yang akan melanjutkan karya pewartaan Injil Kristus di dalam Gereja, melayani sakramen-sakramen Gereja demi keselamatan umat manusia. Kebaikanmu yang begitu besar dan banyak kepada kami, bila diuraikan satu persatu, maka akan akan seperti yang disampaikan oleh Penginjil Yohanes, bahwa “Jikalau semuanya ini ditulis satu per satu maka dunia ini tidak akan memuatnya” (Bdk Yoh 21:25). Selamat jalan menuju ke keabadian Mgr. Petrus Turang, yang kami kasihi dalam Yesus Kristus.
Mgr. Petrus Turang Dan Penghormatannya Terhadap Bunda Maria
Secara personal, bisa dikatakan bahwa Mgr.Petrus Turang, Uskup Emiritus Keuskupan Agung Kupang adalah seorang yang tekun berdevosi kepada Bunda Maria. Ketekunannya dan penghormatannya terhada Bunda Maria terlihat secara nyata melalui pembangunan taman doa Yesus Maria Oebelo. Pembangunan Taman Doa Yesus Maria Oebelo ini adalah suatu implementasi ikatan relasional dan devosional Mgr. Turang terhadap Bunda Maria. Mgr. Petrus Turang sangat menghormati Bunda Maria dalam hidupnya dan di dalam karya keggembalaanya. Penghormatan terhadap Bunda Maria ini membuatnya memperoleh kekuatan dari doa Bunda Maria sehingga ia sanggup menjalankan dan menuntaskan karya kegembalaanya sebagai Uskup Agung Kupang. Kedekatan Mgr. Turang dengan Bunda Maria secara devosional juga memberi inspirasi bagi umat beriman Katolik di Keuskupan Agung Kupang untuk membangun kedekatan, keintiman dengan Bunda Maria, bahwa kedekatan seseorang dengan Bunda Maria akan memberikan kepadanya keteguhan hati di segala situasi, terkhusus dalam situasi “kehabisan anggur” (Bdk Yoh 2:3). Dalam situasi “kehabisan anggur” atau dalam situasi krisis, kritis dan penuh kecemasan itu, seorang yang memiliki keintiman relasi dengan Bunda Maria akan segera memperoleh keteguhan hati, sebab Bunda Maria akan memintanya kepada Putranya, Yesus Kristus, dan kemudian berkata kepada kita, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu lakukanlah itu” (Bdk Yoh 2:5). Bunda Maria adalah jawaban dalam situasi penuh tantangan yang dialami seseorang. Relasi yang intim antara Bunda Maria dengan Putranya, Yesus Kristus, menjadi suatu harapan bagi umat beriman, terlebih bagi mereka yang mengaruni bahtera keluarga, bahwa krisis hidup dihadapi akan berubah menjadi berkat yang berlimpah. Kedekatan Mgr. Turang dengan Bunda Maria ini menginspirasi umat beriman Katolik di Keuskupan Agung Kupang dan juga yang ada di tempat lain, untuk memiliki semangat membangun keintiman dengan Bunda Maria. Hal ini juga mengobarkan hati kami para Calon (Imam) untuk tiada hentinya memberikan penghormatan kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah (Mater Dei), yang melaluinya umat manusia memperoleh keselamatan. Melalui Bunda Maria kita sampai kepada Yesus Kristus: Per Maria ad Jesum.
Peranan Bunda Maria Dalam Keempat Injil
- Bunda Maria Dalam Perspektif Injil Matius.
Injil Matius juga menulis tentang Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan, tetapi Bunda Maria oleh Penginjil pertama-tama bukan untuk ditonjolkan, melainkan St. Yoseph. St. Yoseph inilah yang difokuskan dalam penginjil Matius karena di awal Injilnya, Matius langsung menampilkan genealogi/ silsilah Yesus Kristus mulai dari Abraham hingga kelahiran-Nya. Uraian genealogi ini merupakan uraian tradisi patrilinear yang mau menampilkan sosok Yesus Kristus dalam garis keturunan leluhur-Nya. Di sana dikatakan bahwa Yesus termasuk bagian dari keturunan Daud melalui Yusuf, ayah-Nya. Sedangkan Bunda Maria dalam Injil Matius hanya ditampilkan sebagai seorang isteri yang mengikuti suaminya ke manapun ia pergi dan seperti apa keputusannya. Misalnya, ketika Yusuf mendapatkan penampakkan dari Malaikat Tuhan dalam mimpi untuk membawa kanak Yesus dan ibu-Nya menyingkir ke Mesir (Mat 2:13), atau ketika ia kembali dari Mesir (Mat 2:19-23). Jadi, peranan Yusuf di sini lebih ditonjolkan dari pada Bunda Maria. Hal ini sesuai dengan latar belakang Injil Matius yang bersifat patrilinear. Melalui Injil Matius ini, aspek pastoral yang bisa dipelajari oleh umat beriman Katolik adalah bahwa penghormatan terhadap St. Yoseph sebagai suami St. Perawan Bunda Maria. Umat beriman Katolik juga perlu membangun kedekatan, keintiman dan devosional terhadap St. Yoseph sebagai suami St. Perawan Maria, sebab melaluinya kita juga dapat mengalami buah-buah keselamatan. Terhadap St. Yoseph ini, Sri Paus Fransiskus menulis sebuah seruan Apostolik dengan judul “Patris Corde”, yang memuat refleksi teologis dan pastoral mengenai St. Yoseph sebagai Pelindung Gereja Universal. Di sini, kita bisa belajar melalui keteladanan St. Yoseph tentang kesetiaanya, kerendahan hatinya, pengorbanannya, ketulusannya dan kesabaranya untuk melindungi keluarga kudus Nazareth.
- Bunda Maria Dalam Perspektif Injil Markus
Injil Markus memberi tempat kepada Bunda Maria hanya sekali saja yaitu pada perikop Yesus dan sanak saudara-Nya (Mrk 3:31-35), di mana Bunda Maria hadir untuk bertemu Yesus. Tidak seperti Penginjil Matius, Penginjil Markus langsung menjelaskan secara langsung identitas Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Dalam prolog Injilnya, Markus menulis demikian :”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Di sini, Penginjil Markus mau menonjolkan identitas Yesus Kristus sebagai Anak Allah secara tegas, tanpa melibatkan Bunda Maria di dalamnya. Walaupun demikian, Injil Markus mempunyai refleksi yang berkarakter manusiawi tentang Yesus Kristus sehingga setiap orang yang membacanya langsung diantar untuk mengenal Yesus Kristus secara manusiawi. Dalam hal ini juga, secara implisit, tidak terlepas dari peranan Bunda Maria di dalamnya, yang secara teologis, memberikan status kemanusiaan kepada Yesus Kristus. Dengan kata lain, ada penguraian secara tidak langsung terhadap Bunda Maria dalam hubungannya dengan Putera, Yesus Kristus, walaupun hal itu dijelaskan secara samar-samar. Akan tetapi, bukan berarti Injil Markus menyepelekan atau mengabaikan peranan Bunda Maria dalam hubungannya dengan Yesus Kristus, Putranya, tetapi ini adalah kekhasan Penginjil untuk menampilkan status Yesus Kristus, Anak Allah di samping relasinya dengan Bunda Maria. Penginjil Markus menonjolkan identitas Yesus Kristus sebagai Anak Allah melalui seruan Yohanes Pembabtis di padang gurun, yang mempersiapkan jalan dan meluruskan jalan bagi Tuhan (Bdk Mrk 1:2-3). Pewartaan Yohanes Pembabtis ini membawa kita pada suatu pemahaman, bahwa Yesus Kristus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang lain. Aspek pastoral yang bisa dipelajari dari Injil Markus dalam hubungannya dengan Bunda Maria adalah pewartaan terhadap Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Umat beriman harus menghayati peranannya sebagai seorang pewarta, yang mewartakan Kristus di dalam hidupnya, melalui perkataan dan perbuatan. Yesus Kristus harus menjadi yang utama dalam hidup ini. Dalam hal sikap iman, kita belajar dari keteladanan Bunda Maria yang walaupun tampil ‘samar-samar’ dan sering berdiri ‘di belakang’ Tuhan, tetapi mempunyai makna yang mendalam. Posisi Bunda Maria yang demikian ini mau mengajarkan kita akan pewartaan yang sejati bahwa Yesus Kristus harus lebih utama dalam hidup kita. Hidup umat beriman harus sampai pada tahap semuanya demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia.
- Bunda Maria dalam perspektif Injil Lukas (Kisah Para Rasul).
Dari keempat Injil, Injil Lukas adalah satu-satunya injil yang paling banyak memberikan perhatian terhadap tokoh-tokoh perempuan dalam karya pewartaan Yesus, salah satunya Bunda Maria. Pada bagian pembukaan injilnya, Lukas langsung menampilkan peranan Bunda Maria sebagai tokoh sentral di antara semua wanita lainnya, yang menerima kabar dari Malaikat Gabriel (Bdk Luk 1:26-38). Setelah itu, Penginjil Lukas melukiskan perjumpaan Bunda Maria dengan Elisabeth, saudaranya, yang kemudian melalui perjumpaan sukacita itu meluaplah dari kedalaman batin Bunda Maria magnificat sebagai madah pujian manusia kepada Allah (Bdk Luk 1:39-56). Selain Bunda Maria, Penginjil Lukas juga menyoriti beberapa tokoh perempuan di antaranya Elisabeth, ibu Yohanes Pembabtis (Luk 1:5-25), perempuan berdosa yang mengurapi kaki Yesus (Luk 7:36-50), Maria dan Marta (Luk 10:38-42), Perempuan yang disembuhkan dari pendarahan (Luk 8:43-48), Yairus dan anak perempuannya (Luk 8:40-42.49-56), Para perempuan yang melayani Yesus: Maria Magdalena, Yohana, Susana dan masih banyak perempuan lainnya (Luk 8:1-3). Tokoh-tokoh perempuan dalam Injil Lukas ini membuat injilnya sangat bercorak matrilinear.
Sosok Bunda Maria dalam Injil Lukas sangat sentral mulai dari penampakan Malaikat Tuhan kepadanya (Luk 1:26-38), perjumpaan dengan Elisabet (Luk 1:39-45), magnificat (Luk 1:46-56) dan seterusnya. Kehidupan Bunda Maria senantiasa diarahkan kepada pengabdiannya kepada Yesus Kristus. Dalam Kisah Para Rasul sebagai satu kesinambungan literer, Lukas tetap memberi peranan yang sentral kepada Bunda Maria pasca kebangkitan Putranya, Yesus Kristus. Bunda Maria ditampilkan sebagai Bunda yang menyertai Para Rasul dalam doa (Bdk Kis 1:12-14). Kehadiran Bunda Maria di dalam persekutuan Para Rasul mau menunjukkan bahwa Bunda Maria juga hadir dalam hidup Gereja dalam ziarah hidupnya. Jadi, dalam perspektif Injil Lukas (termasuk juga dalam Kisah Para Rasul), Bunda Maria ditempatkan sebagai sebagai Bunda Bunda Allah (Theotokos) serentak sebagai Bunda Gereja (Mater Ecclesiae). Inilah kedudukan istimewa dalam perspektif Lukas.
Poin pastoral yang dapat kita pelajari dari Bunda Maria dalam perspektif Penginjil Lukas adalah ketaatan, kerendahan hatinya dan kesetiaanya kepada Yesus Kritus, Putranya. Bunda Maria menjadi teladan iman bagi umat manusia. Bunda Maria adalah orang beriman sempurna di hadapan Allah, yang beriman dalam situasi, enta dalam situasi gembira maupun dukacita. Ia mengajarkan kita umat beriman Katolik tentang kesetiaan hidup kepada Yesus Kristus. Bunda Maria juga menjadi teladan bagi kita untuk hidup dalam persekutuan Gerejani. Ia adalah symbol perekat dan pengayom persekutuan di dalam Gereja. Ia mendampingi Gereja dalam ziarah zaman. Bagi kita “kaum berjubah” Bunda Maria adalah teladan kederhanaan, kemurnian dan ketaatan kepada kehendak Allah. Ia adalah ratu para (calon) imam, yang senantiasa mendoakan kita dalam upaya mengikuti jejak Yesus Kristus, Putranya.
- Bunda Maria dalam Injil Yohanes
Penginjil Yohanes hanya menempatkan peranan Bunda Maria dua kali dalam tulisannya, tetapi dalam peristiwa yang sangat penting: peristiwa Kana (Yoh 2:1-11) dan peristiwa Golgota (Yoh 19:25-27). Dua peristiwa ini dalam Injil Yohanes mempertegas peranan Bunda Maria dalam hidup Yesus. Dua peristiwa ini juga bagaikan pembuka dan penutup tentang peranan Bunda Maria dalam Injil Yohanes. Pada peristiwa pesta perkawinan di Kana, Bunda Maria tampilkan sebagai sosok yang “memungkinkan” terjadinya mukjizat. Pada pesta perkawinan di Kana, Bunda Maria hadir sebagai bagian dari tuan pesta, yang mengerti ‘keadaan’ saat itu. sebagai bagian dari tuan pesta, Bunda Maria tahu apa yang hendak ia lakukan ketika berhadapan dengan situasi genting, gawat dan kritis: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Bunda Maria datang dan berdiri di hadapan Yesus untuk meminta bantuan, agar tuan pesta tidak menanggung malu akibat kehabisan anggur. Yesus pun mengabulkan permintaan Bunda-Nya. Mukjizat pun terjadi melalui permintaan Bunda Maria. Air diubah menjadi anggur, bahkan menjadi anggur yang paling baik: “Setiap orang menghidangkan anggur yang paling baik dahulu dan sesudah orang puas minum barulah yang kurang baik. tetapi, engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang” (Yoh 2:10). Mukjizat ini sebenarnya mengingatkan setiap orang pada peranan Bunda Maria. Pada momen-momen kehidupan, ketika kita mengalami situasi tak menentukan, situasi yang gawat dan kehilangan arah, kita perlu berpaling kepada Bunda Maria. Kita perlu datang padanya untuk memohon bantuan, agar mengubah situasi. Tentu saja dengan senang hati Bunda Maria akan menerima permintaan kita dan menyampaikannya kepada Yesus Kristus, Putranya. Mukjizat pun segera terjadi.
Pada momen kedua, momen penutup dalam Injil Yohanes, Bunda Maria hadir dalam peristiwa Golgota, yaitu di bawah kaki salib Putranya: “Dekat Salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya” (Yoh 19:25). Bunda Maria bukan saja hadir dalam peristiwa gembira, saat ia menerima kabar gembira dari Malaikat Tuhan, tetapi juga pada saat duka ketika ia menyaksikan sendiri Putranya wafat di salib. Peranan Bunda Maria pada bagian akhir ini menegaskan integritasnya sebagai hamba Tuhan yang dengan penuh iman menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya. Di bawah kaki salib itu, Putranya berkata :”Ibu, inilah anakmu!. Kemudian kata-Nya kepada Murid-Nya, “Inilah ibumu!. Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh 19:26-27). Perkataan Yesus ini mau mempertegas peranan Bunda Maria bukan saja sebagai Bunda-Nya tetapi juga sebagai Bunda Para Rasul/Bunda Gereja. Dengan kata lain, Penginjil Yohanes mau memberikan penghormatan Bunda Maria sebagai Bunda Allah sekaligus sebagai Bunda Gereja. Hal ini penting untuk direfleksikan lebih jauh dalam kehidupan Gereja.
Pesan pastoral yang bisa dipetik tentang Bunda Maria dalam perspektif Injil Yohanes adalah bahwa Bunda Maria itu hadir dalam “momen-momen” penting kehidupan manusia. Kehadiran Bunda Maria pada momen-momen itu memberikan makna yang mandala bagi semua orang. Momen peristiwa di Kana mengingatkan orang beriman Katolik, terkhusus kaum keluarga, bahwa Bunda Maria adalah bagian dari kehidupan mereka. Bunda Maria mengerti keadaan kritis yang dialami kaum keluarga zaman kini. Ia tahu bahwa “kehabisan anggur” adalah sesuatu yang harus segera ditangani secara cepat. Karena itu, Bunda Maria datang kepada Yesus Kristus, Putranya, meminta bantuan-Nya demi keluarga. Momen Golgota juga mengajarkan orang beriman Katolik tentang ziarah kehidupan yang berpuncak pada Golgota. Bunda Maria itu seorang peziarah, yang berjalan bersama Putranya, Yesus Kristus, dari kehidupan hingga kematian. Dalam situasi duka nestapa ini Bunda Maria tetap berdiri bersama Yesus Kristus, Putranya. Ini adalah keteguhan iman seorang Ibu. Hal ini menjadi teladan bagi kita untuk memiliki iman seperti Bunda Maria. Iman Bunda Maria adalah iman yang berziarah, dari momen kehidupan hingga kematian, dari momen kegembiraan hingga penderitaan. Kesetiaan dan keteguhan Bunda Maria ini kemudian berbuah dalam cahaya paskah, cahaya kebangkitan, cahaya kemuliaan. Bukankah kesetiaan, ketekunan dan keteguhan hati selalu menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik dalam hidup ini? Belajar dari Bunda Maria!.
- Kesimpulan:
Dalam keempat Injil, peranan Bunda Maria sangat penting. Keempat Injil memberikan penghormatan yang istimewa kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah sekaligus sebagai Bunda Gereja. Bunda Maria memiliki kedekatan dengan Yesus Kristus karena ia-lah yang melahirkan-Nya secara manusiawi. Tetapi, ia juga memiliki kedekatan dengan Para Rasul (Gereja) karena permintaan sendiri dari Yesus Kristus, Putranya. Dalam sejarah keselamatan, Bunda Maria menjadi teladan bagi umat beriman Katolik tentang bagaimana membangun keintiman dengan Yesus Kristus, serentak mambangun persekutuan di dalam Gereja. Bunda Maria hadir dalam hidup setiap orang di segala zaman. Bunda Maria hadir sebagai Ibu yang merawat dan melindungi keluarga dari krisis kehidupan yang berujung pada kehancuran bahtera keluarga. Ia hadir untuk meneguhkan ikatan keluarga manusia agar tetap utuh dan harmonis dalam keterarahannya kepada Yesus Kristus. Ia adalah seorang perempuan yang taat terhadap Sabda Allah. Ketaatan Bunda Maria teruji di dalam waktu dan di segala situasi. ia menjadi penuntun dan pelindung bagi kaum perempuan untuk menyelaraskan diri sesuai dengan kehendak Allah. Bunda Maria juga adalah pelindung dan pengayom di dalam Gereja. Ia adalah Bunda bagi Para Rasul, yang senantiasa menuntun dan membimbing Para Rasul untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus. Sebagai seorang Ibu, Bunda Maria mengenal krisis panggilan seorang gembala. Karena itu, ia datang membantu gembala-gembala jiwa, para Imam, untuk bangkit dan teguh melaksanakan karya keggembalaan sesuai dengan perintah Yesus Kristus kepada mereka : “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Bdk Yoh 21:16).
Catatan penutup
Bunda Maria adalah sosok yang sangat penting dalam sejarah keselamatan manusia. Ia bukan saja menjadi Bunda Allah (Theotokos) tetapi juga Bunda Gereja (Mater Ecclesiae). Ia mendampingi Gereja di segala tempat dan di setiap zaman. Perananya yang sangat penting pada momen-momen kehidupan ini membuat kita perlu membangun keintiman dengan Bunda Maria. Ia adalah tokoh beriman sempurna terhadap Allah. Kita belajar beriman dari Bunda Maria, tentang ketaatan, kesetiaan dan kesederhanaannya di hadapan Tuhan. Gereja sebagai persekutuan umat Allah pun belajar untuk mendengarkan suara Tuhan melalui relasinya yang intim dengan Bunda Maria. Sebab, Bunda Maria-lah manusia pertama yang memiliki kesempurnaan iman dalam menjawabi tawaran Allah demi keselamatan manusia. Teristimewa bagi (calon) Imam, gembala jiwa, diajak untuk mencontohi teladan iman dari Bunda Maria, yang melaluinya kita diantar untuk mengenal lebih jelas suara Gembala Agung, Yesus Kristus, yang telah memanggil kita dan yang telah menyampaikan tugas perutusan kepada kita “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:14).
Mgr. Turang kini telah meninggal. Saya teringat akan kata-kata beliau dalam kotbahnya pada misa requiem Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, bahwa kematian bukanlah pelenyapan kehidupan, tetapi perubahan kehidupan. Karena itu, kematian hanya membuat seseorang hilang secara ragawi-manusiawi dalam hidup kita, tetapi secara rohani, ia tetap berada di sekitar kita. Mgr. Turang memang telah pergi menuju ke keabadian surgawi (ad vitam aeternam) tetapi semangatnya, keteladanan hidupnya tetap berkobar di dalam hati umat yang telah dilayaninya. Mgr. Turang tetap hidup di dalam hati umatnya.