MINGGU PESTA SALIB SUCI – 14 September 2025. Bil 21:4-9; Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17. Oleh: Rm. Theodorus Silab, Pr Preses Seminari Tinggi St. Mikhael.

Hari Minggu ini kita merayakan pesta Salib Suci, untuk mengenang Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan untuk kita. Gereja merayakannya sambil juga mengenang St. Helena yang menurut tradisi Gereja, telah turut berjasa menemukan kembali salib suci Kristus di Yerusalem. Sehubungan dengan ini, ada juga fakta sejarah yang perlu kita ketahui, agar semakin memantapkan iman kita

Pesta Salib Suci dirayakan pada tanggal 14 September dan mengingatkan umat akan tiga peristiwa bersejarah: 1). Penemuan Salib Sejati (salib Kristus yang asli) oleh St. Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus; 2). Pemberkatan gereja-gereja yang dibangun oleh Konstantinus di situs Makam Suci dan di Gunung Kalvari; 3). Pengembalian Salib Sejati ke Yerusalem oleh kaisar Heraklius II. Namun dalam arti yang lebih mendalam, pesta ini juga merayakan Salib Suci sebagai instrumen keselamatan kita. Instrumen penyiksaan yang dirancang untuk mempermalukan para penjahat, menjadi pohon kehidupan yang menebus dosa asal manusia pertama Adam dan Hawa.

Setelah wafat dan kebangkitan Kristus, baik penguasa Yahudi maupun Romawi di Yerusalem melakukan upaya untuk “mengaburkan” Makam Suci, makam Kristus di taman dekat lokasi penyaliban-Nya. Situs itu diurug dan kuil-kuil kafir dibangun di atasnya. Menurut tradisi, salib Kristus disembunyikan oleh penguasa Yahudi di suatu tempat di sekitar tempat penyaliban Kristus.

Pada tahun 348 M untuk pertama kalinya St. Sirilus dari Yerusalem mencatat bahwa St. Helena, menjelang akhir hidupnya dan di bawah inspirasi ilahi, memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem pada tahun 326 M untuk menggali Makam Suci dan berupaya untuk menemukan Salib Sejati. Seorang Yahudi bernama Yudas, yang mengetahui cerita mengenai tempat penyembunyian salib Kristus, berhasil membawa para penggali Makam Suci ke tempat di mana Salib Sejati disembunyikan.

Tiga buah salib ditemukan di tempat itu. Menurut salah satu tradisi, prasasti Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi) tetap melekat pada Salib Sejati.  Namun menurut tradisi lain yang lebih umum, prasasti itu hilang, sehingga St. Helena dan St. Makarius, Uskup Yerusalem, merancang percobaan untuk menentukan salib mana yang merupakan Salib Sejati. Ketiga salib dibawa kepada seorang wanita yang hampir mati. Ketika wanita itu menyentuh Salib Sejati, dia pun sembuh. Menurut versi tradisi lain, tubuh seorang yang sudah mati diletakkan pada setiap salib dan hanya Salib Sejati yang mampu memulihkan kehidupan orang mati itu.

Dalam rangka merayakan penemuan Salib Sejati, Kaisar Konstantinus memerintahkan pembangunan gereja-gereja di lokasi Makam Suci dan di Bukit Kalvari. Gereja-gereja yang diberkati pada tanggal 13 dan 14 September 335, dan tidak lama kemudian Pesta Salib Suci mulai dirayakan pada tanggal 14 September. Perayaan pesta ini perlahan menyebar dari Yerusalem ke gereja-gereja lain, dan pada tahun 720 perayaan itu menjadi universal.

Pada awal abad ke-7 Persia menaklukkan Yerusalem, dan Raja Persia Khosrau II merebut Salib Sejati dan membawanya ke Persia. Kaisar Heraklius berhasil mengalahkan Khosrau dan merebut kembali Salib Sejati pada tahun 628. Pada tahun 629 Heraklius memutuskan untuk mengembalikan Salib Sejati ke Yerusalem. Tradisi menceritakan bahwa ia memanggul salib di punggungnya sendiri. Ketika ia mencoba untuk memasuki gereja di Bukit Kalvari, ada kekuatan aneh yang menghentikannya. Patriarkh Zacharias dari Yerusalem melihat perjuangan sang Kaisar dan menyarankan agar dia melepaskan jubah kerajaan dan mahkota serta memakai jubah pertobatan sebagai gantinya. Begitu Heraklius mengikuti saran Zacharias, ia mampu membawa masuk Salib Sejati ke dalam gereja.

Rangkaian warta suci pada Pesta ini membantu mengarahkan hati kita kepada Tuhan Yesus Penyelamat kita. Ada sebuah ungkapan Latin yang berbunyi: “In Cruce salus et vita” (Pada salib ada keselamatan dan hidup). Ungkapan ini tentu sangat bermakna bagi  semua pengikut Yesus Kristus. Tatkala kita memandang Salib Tuhan Yesus Kristus, kita melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Kita menemukan panggilan hidup kita yang sesungguhnya yaitu menjadi kristen, artinya menjadi Kristus kecil yang berziarah di dunia ini menuju kepada-Nya.

Perjumpaan antara Nikodemus dan Tuhan Yesus yang dikisahkan Santo Yohanes berlangsung pada malam hari. Malam adalah suasana gelap. Hal ini menggambarkan pangalaman kegelapan dalam hidup kita manusia. Perjumpaan dan komunikasi yang terjadi antara Nikodemus dan Yesus itu  membuka mata Nikodemus dan kita sekalian yang membaca dan yang mendengarkan Injil pada hari ini. Yesus Sang Terang sejati, hadir dan memberi terang yang menerangi kegelapan hidup manusia. Yesus berkata: “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh 3:13). Penggunaan kata “naik ke surga” dan “turun dari surga” di sini mau menggambarkan saat “Penyaliban” dan “Penguburan”-Nya. Saat Penyaliban itu sangat penting karena merupakan saat keselamatan bagi manusia. Dengan demikian, setiap orang yang memandang salib di mana Kristus bergantung akan memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal.

Yesus bersabda: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Cinta kasih Allah kepada manusia tidak ada batasnya. Allah memberikan Yesus Kristus Putra-Nya yang tunggal kepada kita dan mempersatukan kita dengan-Nya. Yesus sendiri berkata: “Apabila Aku telah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku” (Yoh 12:32). Tugas mulia Yesus tersalib adalah menarik semua orang kepada-Nya. Artinya kita juga mati dan bangkit bersama-Nya.

Dialog antara Yesus dan Nikodemus dalam perikope ini merupakan penggenapan  peristiwa masa lalu. Di dalam Kitab Bilangan yang kita dengar dalam bacaan pertama, digambarkan bagaimana orang-orang Israel telah berdosa melawan Tuhan. Mereka bersungut-sungut soal makanan dan minuman, hati mereka keras dan tidak mau mendengar Sabda-Nya. Oleh karena itu mereka semua mendapat hukuman setimpal yakni dipagut ular tedung. Banyak orang Israel meninggal dunia karena dipagut ular. Dalam keadaan seperti itu mereka sadar bahwa mereka telah berdosa terhadap Yahweh. Maka mereka harus memohon belas kasih Tuhan dengan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” (Bil 21:7). Reaksi Musa adalah mendoakan bangsa itu.

Untuk menjawabi doa-doa mereka dan doa Musa maka Tuhan meminta Musa untuk membuat patung ular tedung, dan meletakkannya pada sebuah tiang agar setiap orang yang dipagut ular tedung, dan  melihat ke arah patung ular tedung itu, mereka akan hidup. Di sini yang menyelamatkan adalah Yahweh Allah sendiri, dan bukan patung ular itu. Kuasa Allah yang menyelamatkan dan memberi hidup. Kuasa Allah yang menyelamatkan. Pengalaman dalam dunia Perjanjian Lama menjadi sempurna di dalam dunia Perjanjian Baru. Setiap orang berdosa yang datang kepada Yesus, memandang salib-Nya akan memperoleh kehidupan kekal. Salib adalah saat Yesus sang Putra Manusia ditinggikan dari bumi. Saat Ia menganugerahkan cinta-Nya sampai tuntas kepada kita semua.

St. Paulus dalam surat pastoralnya kepada jemaat di Filipi, melihat di dalam diri Yesus kerendahan hati-Nya yang begitu besar. Yesus adalah Anak Allah, tetapi Ia justru tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik-Nya yang harus dipertahankan. Ia justru mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ia merendahkan diri dan taat sampai wafat di kayu Salib. Sikap Yesus inilah yang membuat-Nya menjadi Mesias yang jaya. Allah juga meninggikan-Nya dan semuanya akan takluk dan mengakui-Nya sebagai Tuhan atas segalanya. Bacaan ini sering disebut Madah Pengosongan Diri (kenosis) yang mengisahkan bagaimana hidup Yesus adalah hidup yang dibaktikan kepada Allah Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Untuk itu Yesus mengosongkan diri untuk menghadirkan keilahian  dan dengan demikian Dia dapat mewujudkan gambar Allah yang tidak kelihatan. (Flp 2:6-11).

Pesta Pemuliaan Salib yang hari ini kita rayakan bersama, menyadarkan kita bahwa Tuhan tetap mengasihi kita apa adanya. Melalui Yesus Kristus Putra-Nya, Ia juga menarik kita kepada-Nya. Mari kita terbuka untuk menerima kasih-Nya, bersedia untuk merasakan kehidupan kekal bersama-Nya. In Cruce Salus et vita!

Mari kita semakin menghayati Salib Kristus bagi hidup kita. Kesempatan itu selalu datang dalam setiap doa di mana kita mengawalinya dengan tanda kemenangan kita. Ketika kita berdoa dalam devosi Jalan Salib, dan setiap kali di awal peristiwa, kita menyebut doa  yang diucapkan oleh St. Fransiskus Asisi dengan madah yang luar biasa indah, “Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menembus dunia”. Empat belas kali kita berlutut seraya mengucap syukur dan memohon agar kita pun diubah menjadi seperti Kristus yang memiliki cinta yang luar biasa. Pada Salib termuat dan terkandung lambang cinta yang lebih besar, lambang cinta sejati yang berkorban sehabis-habisnya bagi kita. Selamat Pesta Salib Suci.