Mikhael_News – Kamis 11 September 2025, pukul 15.30 WITA di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, para Fratres STSM mengikuti keigatan ibadat tobat dan pengakuan dosa. Ibadat tobat dipimpin oleh Frater Egi Narang dan Frater Angga Sai.

Dalam pengantarnya, Frater Angga Sai mengajak para frater untuk menyadari bahwa belas kasih Allah melampaui keberdosaan manusia. Maka, Allah selalu mengundang manusia untuk datang, terbuka dan meperbaharui relasi dengan diri sendiri, sesama dan Allah. Senada dengan itu, dalam renungan yang dibawakan oleh Frater Egi Narang, ia menyoroti sikap dosa yang tak luput dari para frater. Bahwasannya, kita mesti berefleksi sejauh mana jubah yang dikenakan ini mendapat penghormatan yang selayaknya. “Apakah jubah ini pantas diobral sebagai tameng atas dosa-dosa kita? Atau kah jubah senantiasa menjadi lambang pembaharuan terhadap diri, relasi sosial kita dan tentunya dengan Allah.”

Ibadat tobat dan pengakuan dosa adalah agenda tetap seminari yang menjadi momentum bagi para frater “untuk sejenak mengungsi ke dalam diri, memeriksa hati dan batin kita terhadap segala bentuk penyimpangan yang telah diperbuat. Atau yang kita sebut sebagai dosa. Dosa menghadirkan keadaan berdosa, sehingga keselamatan perlahan-lahan mulai menjauh dari diri kita. Kita butuh reparasi, agar kita beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan.” tandasnya.


Berlandaskan teks Injil Lukas 6:27-38, Frater Egi Narang menyinggung, “Pertobatan sejati hanya mungkin terjadi jika kita rendah hati. Bacaan yang baru saja kita dengar, tema sentralnya adalah kerendahan hati. Mengapa rendah hati menjadi penting? Sebab hanya orang rendah hati yang mampu mengakui kesalahannya sendiri dan mengampuni kesalahan orang lain padanya”.
Mencermati teks tersebut bila direalisasikan dalam kehidupan manusia begitu pula para frater sendiiri tampaknya tidak begitu muda. “Bayangkan saja, yang tertulis (ayat 28) mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu! (ayat 29) tampar pipi kiri, beri pipi kanan. (ayat 30) berilah kepada setiap orang yang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Ayat-ayat ini jika dipraktekkan secara literal dalam kehidupan para frater di Seminari Tinggi St. Mikhael, tentunya bencana pasti menimpa. Siapa yang mau kalah? Pada ayat 31, kita diberikan sebuah tuntunan: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”. kekacauan tak akan eksis, jika kita memiliki kesadaran tentang keteraturan. Singkatnya tahu diri, mana yang jadi bagian kita. Sehingga keegoisan harus dibuang jauh-jauh. Kita tak bisa menggapai semua, tapi setidaknya setiap kita punya sesuatu untuk membuat kehidupan di bumi ini menjadi lebih baik, “ ujar Frater Egi.


Kepada para frater, ia mengingatkan agar menyadari bahwa sakramen tobat bagian dari perjalanan belas kasih Allah kepada manusia dalam peziarahan menuju kepada Allah sehingga tidak boleh teperangkap dalam pemikiran dan sikap relativisme praktis. “Kita tidak boleh larut dalam pemikiran yang penting sudah mengaku atau parahnya lagi nanti baru mengaku, jadi buat saja sesukanya. Kita tidak bisa dengan entengnya mengakui beberapa kesalahan dan menutupi beberapa, sebab pengampunan pasti diberi. Dendam tertinggal pun tidak menjadi penghalang berarti. Jangan lupa, pikiran pun mendatangkan dosa dalam diri.” Kita pun ingat dan perlu melaksanakan nasehat Injil, tetapi kamu, Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka (ayat 35). Mengasihi itu harus tanpa batas atau ukuran. “Sebagaimana dikatakan St. Fransiskus de Sales: “Ukuran untuk mengasihi adalah mengasihi tanpa ukuran”. Inilah gambaran ideal pengikut Kristus, hanya bisa terjadi jika kita murah hati seperti Bapa yang adalah Murah hati. (ayat 36),” Lanjut Frater Egi Narang.

Menutupi renungannya, Frater Egi Narang mengajak para frater untuk terus mengoreksi diri untuk tidak pesimis dan minder ketika pesan idealis dalam Injil begitu sulit. Tetapi melihatnya sebagai pemantik semangat dan motivasi bagi diri untuk mengedepankan kebaikan. “Mari terus membenahi diri, sebab bukan melulu menyebut nama Tuhan, melainkan juga melaksanakan apa yang jadi kehendak-Nya.”
Setelah ibadat tobat, dilanjutkan pengakuan dosa secara pribadi. Para frater tampak begitu terlibat dan khusuk mengaku dosa pribadi kepada Allah melalui para imam CMF yang dimintai untuk memberikan sakramen rekonsiliasi. Melalui kegiatan ini para frater diharapkan semakin membaharui hidup supaya selalu berjuang hidup dalam kekudusan menuju imamat di tengah hiruk pikuk dunia.
Oleh: Tim Mikhael News
