Penfui, Mikhael News – Komunitas Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui bersama umat merayakan Minggu Palma, Peringatan Sengsara Tuhan, dengan penuh khidmat pada Minggu (29/3/2026). Perayaan yang mengawali rangkaian Pekan Suci ini mengusung tema “Lihatlah Rajamu!” dan dimulai pada pukul 07.30 WITA dengan pemberkatan daun palma di depan Unit Citra.
Sorak-sorai “Hosana” menggema di pelataran seminari ketika seluruh umat, para frater, dan para imam membawa daun palma yang telah diberkati menuju Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael sambil melantunkan nyanyian pujian. Suasana yang penuh sukacita dan khidmat mewarnai awal perayaan sebagai ungkapan iman dalam menyambut Kristus Sang Raja yang memasuki Yerusalem untuk menggenapi karya keselamatan-Nya melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Yudha Pramana sebagai selebran utama. Ia didampingi oleh RD. Theodorus A. Silab, Pr., RD. Yohanes Subani, RD. Herman Punda Panda, Pr., dan RD. Oktovianus Naif sebagai konselebran. Turut hadir pula RD. Yos Nahak bersama para formator, seluruh frater, dan umat yang memenuhi Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael.
Dalam homilinya, Romo Yudha mengajak umat dan para frater untuk merenungkan kembali makna Yesus sebagai Raja yang berbeda dengan gambaran raja menurut dunia. Menurutnya, manusia sering kali mengharapkan seorang pemimpin yang berkuasa dan penuh kemegahan, sedangkan Yesus justru memperlihatkan kepemimpinan yang lahir dari kerendahan hati, kasih, dan pengorbanan diri.
“Harapan kita tentang raja sering kali bukanlah ‘Raja’ yang Yesus bawa. Yesus tidak sama dengan raja-raja masa kini. Ia datang bukan untuk menguasai, melainkan untuk menyerahkan diri,” tutur Romo Yudha.
Lebih lanjut, Romo Yudha mengajak umat agar tidak hanya menyambut Yesus dengan seruan Hosana, tetapi juga setia mengikuti-Nya dalam perjalanan menuju salib. Menurutnya, kesetiaan sebagai murid Kristus diwujudkan melalui keberanian memikul salib, menghayati kasih, dan menghadirkan semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sela-sela homili, Romo Yudha menyampaikan refleksinya dengan gaya yang komunikatif dan sesekali diselingi candaan yang mengundang gelak tawa umat dan para frater.
“Kalau Koster siapkan keledai, pasti tadi perarakan kami pakai keledai. Tidak boleh kuda atau yang lain, karena kita harus ikut teladan Yesus. Dan kalau siapkan keledai, harus enam ekor, supaya semua romo bisa naik masing-masing satu,” candanya.
Candaan tersebut disambut hangat oleh umat dan para frater. Melalui humor sederhana itu, Romo Yudha sekaligus mengingatkan pentingnya menghayati simbol-simbol Kitab Suci dalam liturgi Gereja sebagai jalan untuk semakin memahami misteri keselamatan yang dirayakan.
Partisipasi aktif umat bersama seluruh komunitas seminari menunjukkan semangat kebersamaan dalam mengawali Pekan Suci. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan di sekitar Seminari Tinggi Santo Mikhael turut memperkaya perayaan sebagai ungkapan iman bersama dalam mempersiapkan diri menyambut Paskah.
Melalui Perayaan Minggu Palma, para calon imam dan seluruh umat diajak memandang Kristus sebagai Sang Raja yang datang bukan untuk menguasai, melainkan untuk melayani dan menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia. Dengan semangat itu, komunitas Seminari Tinggi Santo Mikhael melanjutkan peziarahan imannya dalam rangkaian Tri Hari Suci hingga Hari Raya Paskah untuk merayakan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan.







