Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Beriman; Taat dan Rendah Hati

0 54

(Lukas.1;26-38)

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Maria yang menerima kabar suka cita, dihormati Gereja, segenap umat beriman, sebagai Bunda Sang Penebus dan  menduduki tempat khsusus dalam karya penyelamtan Ilahi. Hal ini nyata dalam salam malaikat yang menandakan rahmat Roh kudus memenuhi diri Maria dan memebentuk dalam dirinya yang perawan, kodrat manusia Kristus sebagai puncak pewahyuan janji dan penyataan diri Allah yang akan meneyelamatkan umat manusia dari dosa dalam diri Kristus Sang Penebus.

Kisah pemberitahuan tentang kelahiran Yesus, menjadi kisah awal bagaimana sejarah penyelamatan Allah bagi umat manusia yang berada dalam bahaya maut karena dosa dimulai. Kisah yang dialami Maria serta sikap Maria dalam menggapi berita yang disampaikan Maliakat ini, menjadi  sumber pengetahuan bagiamana Allah tetap mengasihi dan  memanggil umat-Nya untuk bersatu dengan-Nya, sekalipun umat-Nya terus menerus menjauhi Allah dengan perilaku dosa tanpa henti. Hal ini ini dibuktikan Allah dalam diri Yesus kristus Penebus, yang telah diramalkan sejak perjanjian lama dan dinyatakan dalam perjanjian baru, seperti dalam kisah Injil hari ini. Kisah Injil ini juga menjadi sumber inspirasi, bagaimana sikap Maria dalam menanggapi Kasih dan penyataan diri Allah ini, dan juga teladan bagi kita di zaman ini untuk juga memiliki sikap-sikap Maria maria tersebut, secara khusus dalam masa persiapan sebelum merayakan Misteri Paskah.

Perlu kita sadari terlebih dahulu Salam Malaikat Gabriel kepada Maria ini, “ Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  “ jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia dihadapan Allah”. Secara khusus salam ini diberikan kepada Maria sebagai wanita terberkati yang dipilih Allah Bapa sebagai Bunda Putera-Nya dalam misteri penjelmaan, lebih dari itu salam ini juga merupakan berkat yang mengalir dari Cinta Kasih Allah melalui Yesus Kristus kepada sejarah dan semua manusia. Hal ini menunjukkan inisiatif Allah yang sungguh mengasihi manusia dan ingin menyelamatkan manusia dari bahaya maut akibat dosa. Dengan demikian jelas, seberapa banyak dan besarnya dosa yang manusia lakukan dan miliki, Allah tetap membuka pintu kerahiman-Nya. Tidak ada pengeculaian, merasa tak bisa diampuni lagi, seolah-olah kejahatan  dunia yang dilakukan mampu mengalahkan kuasa surgawi. Sikap demikian sangat perlu dihindari sebagai seorangberiman, karena berkat dan  Kasih Allah bersifat menyeluruh, bagi semua orang dan  melampaui semua dosa tersebut. Kita mengetahui bahwa Allah sungguh maharahim, berbelas kasih, maka sudah sepantasnya kita menunnjukkan sikap-sikap positif untuk menanggapi kasih Allah tersebut. Maka sikap belagu yang berujung pada kemalasan untuk menyesali dan mengakui dosa perlu dihindari. Kekuatan manusiawai kita yang paling-paling hanya mampu meciptakan kehebohan dan siksa dosa, tidak akan peranh mampu melampui Kasih dan Kuasa Allah dalam Kerahiman-Nya.

Iman Maria dalam bacaan Injil hari ini, Merupakan salah satu sikap yang wajib kita miliki  sebagai bentuk tanggapan atas kasih Kerahiman Allah tersebut.  Dalam Salam Malaiakat Gabriel, Maria menyadari diri sebagai seorang perawan yang belum bersuami, belum menikah, sehingga dalam taraf pemikiran manusia mustahil pewartaan malaikat tersebut dapat terjadi dalam dirinya,’ Mengandung seorang anak” .Namun, kepercyaan dan Iman Maria mengalahkan keraguan dan pemikiran terbatas tersebut. Maria Percaya karena Kuasa Yang Mahatinggi, karena kuasa Roh Kudus, Dia akan menjadi Bunda Putera Allah, sesuai dengan pewartaan Malaikat: “Roh kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menanungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah”. Iman Maria ini harus juga menjadi semangat awal kita dalam konteks pertobatan. Seringkali keraguan dalam diri untuk diampuni membuat kita terus-terusan nayaman dalam kenikmatan dosa. Kita merasa sama saja, mengakui dosa tapi nanti buat lagi..lebih parahnya lagi niat mengakui dosa ini dikalahkan dengan niat untuk terus menikmati dosa yang sama tersebut. Hal ini (dosa) begitu nimkmat.. lebih baik nimmati dulu…nanti jika sudah puas menikmatinya atau merasa bosan baru mengakuinya dan bertobat.  Silahkan…. masing-masing kita renungkan,kita pikirkan, Mengenai hal-hal atau dosa yang nikmat itu, yang tidak ingin segera kita tinggalkan karena merasa masih banyak waktu untuk menikmatinya dan nanti masih ada waktu untuk meninggalkannya. Satu hal perlu kita ingat. Kedatangan Malaikat Gabriel kepada Maria, tanpa ada janji tentang waktu dan tempat perjumpaan.maka berhati-hatilah.. mungkin tanpa ada janji serupa pun.. kapanpun.  waktu dan tempatnya..kita bisa saja didatangi oleh seorang Malikat…pertanyaannya? masikah kita menimbang-nimbang untuk segera mengakui dosa yang nikmat tersebut?

Melaui iman Maria ini, kita pun melihat kepercayaan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan MENUNDUKKAN AKAL DAN KEHENDAKNYA, Maria menampilkan suatu model ketaatan Iman kepada Allah yang berbicara kepadanya melaui pewartaan Malaikat Gabriel. Dengan penuh kesadaran sebagai seorang wanita, sebagai seorang manusia, Maria menanggapi pewartaan tersebut. Hal ini pun merangkum kerjasama sempurna dengan Rahmat Allah yang mendahului dan bersinisiatif membantu serta menyelamatkan, maupun keterbukaan  penuh dari sikap dan jawaban Maria kepada karya Roh Kudus   yang selalu menyempurnakan iman. Seringkali kita pun senang sekali memperhadapkan sikap liar kita yang suka memberontak dengan sesama kita manusia dengan Kuasa Allah. Kita yang seringkali memperjuangkan kenikmatan dan kebebasan semu melalui pemaksaan otak yang sempit, kecil dan dangkal ingin juga menentang Kerahiman Allah yang begitu luas dan besar. Kita yang sering menggunakan seluruh teori dan ilmu dunia sebagai kekuatan untuk merusak dan menentang kebaikan dan kebenaran umum yang ditetapkan, ingin juga kita gunakan untuk menolak kuasa Roh kudus yang mampu menuntun kita pada pertobatan.. Pembenaran tanpa henti kita lakukan demi meloloskan ambisi dan kepentingan pribadi tertentu serta mempertahankan sona nyaman yang sudah kita nikmati bertahun-tahun. Sudah tahu bersalah tetapi melakukan pembenaran konyol.  Sudah tahu berdosa tetapi terus melakukan pembelaan agar bisa terus menikmati dosa tersebut. Hendaknya juga kita meneladani Maria dengan menundukkan kepala, menytakan kelamahan dan menyadari kerapuhan diri kita, untuk siap menerima Kuasa Roh Kudus yang menuntun kita untuk sampai pada kerahiman Allah yang begitu besar.

Dalam segala keterbatasan dirinya, Maria sungguh-sungguh menunjukan ketaatan murni serta sikap rendah Hati  atas kehendak Allah. Pewartaan Malaikat Gabriel dengan sangat jelas menyebutkan bahwa anak yang akan dikandung Maria atas kuasa roh Kudus itu, akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Situasi hidup Bangsa Israel pada saat itu memang mengharapkan hal itu terjadi. Bahwa akan datang Mesias, raja yang Agung, berkuasa dan menjadi penyelamat bagi bangsa Israel, sehingga terbebas dari segala penderitaan, penindasan dan kecemasan akibat kuasa dan penindsan dunia yang menyelimuti hidup mereka. Maria pun tumbuh dalam lingkungan, dalam situasi, dan harapan demikian. Secara manusiawi Maria dapat saja menjawab salam Maialkat tersebut dengan melihat jaminan atas kebahagiaan hidup sesuai pewartaan Malaikat Gabriel, bahkan Maria dapat memiliki suatu status mulia, dan penghormatan duniawi karena melahirkan mesias, raja dan penyelamat bangsa Israel. Namun Iman Maria mengalahkan pemikiran terbatas manusiawinya. Sikap Taat dan Rendah Hati Maria atas kehendak Allah, dengan segala keterbatasannya, mewujudkan  harapan bangsa Israel bahkan harapan tersebut melabihi semua hal baik yang diinginkan bangsa tersebut. Dalam iman yang taat dan rendah hati, Maria mengamati bahwa dirinya akan menjadi Bunda Mesias-Raja, namun Maria tetap menjawab” sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Jawaban Maria bukan didasarkan atas segala jaminan serta harapan dunia, tetapi penyerahan diri kepada makna dari pewartaan Malaikat tersebut, bahwa Allah sendirilah yang akan menyelenggarakan hidup serta maksud dari pewrataan tersebut.. Motivasi tulus dan murni Maria hendaknya juga menjadi semangat kita untuk menyesali diri sebagai orang berdosa dan bertobat.  Seringkali sikap sesal dan tobat kita terbatas. Semangat tidak murni ketika hendak mengaku dosa perlu kita hindari misalnya,,mengaku dosa karena hanya karena status yang kita miliki, karena takut dikatain orang lain karena tidak  melakuknanya padahal dia Frater ,,padahal dia Katolik. Hal itu pun kita lakukan agar tetap dan terus mendapat pengakuan sesuai status yang kita miliki. Sikap sesal dan tobat kita pun menjadi tidak bermanfaat karena hanya sampai pada motivasi tersebut. Dengan demikian jelas niat kita untuk berda dalam rangkulan kasih Allah dan berubah dipastikan tidak ada. Justru kita menghindarinya agar tetap memiliki kesempatan untuk melakukanya lagi. Akibatnya kita akan mersa dan berpikir mengaku atau tidak mengaku dosa sama saja.tidak ada yang berubah dalam diri kita.

Dalamkeadaan seperti ini sikap rendah hati Maria sangat penting kita teladani. Kita harus berani melepaskan segala kebesaran dunia yang kita miliki, sehingga sungguh mampu menyesali diri, bertobat dan siap untuk dituntun Roh Kudus untuk menjalani kehidupan yang baru, kehidupaan yang lebih baik dalam raangkulan Kaish Allah.

Marilah dalam masa persiapan menuju hari Raya Paskah kita semakin bisa merenung tentang siapa diri kita di hadapan Tuhan dan bagaimana Tuhan begitu begitu mengasihi kita sehingga kita perlu menaggapi Kasih dan Kerahiman Tuihan dengan sikap-sikap positif, terutama dengan meneladani Maria yang dengan penuh Iman, Penuh kerendahan hati serta Ketatatan mau menerima, mememlihara Sabda Tuhan dalamhidupnya. Sikap Maria menerima kabar itu menjadi sikap konkret bagaimana sukacita itu menjadi sikap seorang beriman Kristiani. Dalam situasi dan kondisi apapun diri kita, sukacita dalam Tuhan menjadi sumber harapan bagi hidup kita yang akan datang. Sukacita itu tidak jauh dari diri kita. Sukacita itu menjadi penuh karena dalam nama Yesus Kristus kita menerima rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Maria menerima kabar itu dan memelihara dalam hidupnya. Demikianpun dengan kita, sebagai seorang beriman kita juga meneladan apa yang dilakukan Maria, menerima Yesus dalam hidup kita dan tetap memelihara hidup kita sebagai bagian rencana keselamatan Allah.  Amin. (Fr. Agustinus L. Butta)

Leave a comment