Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Cinta Yang Melayani

0 6

Hari Kamis Putih

Bacaan I        : Kel 12:1-8, 11-14

Bacaan II       : 1 Kor 11:23-26

Bacaan Injil   : Yoh 13:1-15

Setiap makhluk hidup membutuhkan makannan. Manusia adalah makhluk hidup. Karena itu, manusia juga membutuhkan makanan. Makanan berfungsi untuk mempertahankan kehidupan yakni memberi pertumbuhan dan perkembangan serta kekuatan untuk tetap hidup. Namun, makanan bagi manusia berbeda dengan makluk hidup yang lainnya. Pada umumnya tumbuh-tumbuhan, hewan dan binatang makan untuk bertumbuh dan berkembang. Namun, tidak untuk manusia. Manusia tidak hanya makan untuk bertumbuh dan berkembang, tetapi manusia untuk menjalankan tanggungjawabnya di dunia ini yaitu merawat dan mengembangkan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia menjadi istimewa kerena diciptakan seturut dengan gambar dan citra Tuhan sendiri. Gambar dan citra Tuhan bagi manusia adalah akal budi, hati nurani dan kehendak bebas. Akal budi digunakan oleh manusia untuk mencari kebenaran, hati nurani digunakan untuk membuat pertimbangan antara baik dan buruk dan kehendak bebas digunakan untuk bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Untuk itu, makanan bagi manusia bukan sekedar makanan jasmani seperti nasi, jagung, daging, sayur, kacang-kacangan, buah dan susu untuk pertumbuhan dan perkembangan. Tetapi lebih dari itu, manusia juga membutuhkan makanan rohani untuk dapat melaksanakan dengan baik tugas yang telah dipercayakan Allah itu yakni memelihara, dan mengembangkan seluruh ciptaan sesuai dengan kehendak Allah. Lantas apakah makanan rohani yang dibutuhkan oleh manusia itu? Makanan rohani itu tidak lain tidak bukan adalah Yesus sendiri. Yesus memberikan diri-Nya menjadi santapan bagi umat manusia. Sebagai makanan yang hidup Yesus menguatkan setiap orang untuk dapat sampai pada Bapa yang adalah asal mula dan tujuan semua yang hidup. Inilah makna Perjamuan Yesus bersama Murid-murid-Nya yang kita rayakan pada hari ini.

Ada dua aspek penting dalam Perjamuan Kamis Putih ini yakni persekutuan dengan Tuhan dan persekutuan dengan sesama manusia. Persekutuan dengan Tuhan terungkap dalam penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dari meja perjamuan yang diwakilkan oleh para murid Tuhan. Sedangkan persekutuan dengan sesama manusia terungkap dalam pelayanan kepada sesama manusia yang dapat dilihat dalam pembasuhan kaki para murid oleh Yesus sendiri. Menarik di sini adalah pembasuhan kaki itu dilakukan oleh Yesus kepada para murid-Nya dan bukannya dilakukan oleh para murid Yesus kepada Yesus. Hal ini menekankan makna terdalam status yang sesungguhnya. Bahwasannya status baik yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia adalah untuk pelayanan yang total kepada sesama. Jadi, di sini status tidak seharusnya dipandang lagi sebagai kesempatan untuk memegahkan diri, tetapi sebaliknya untuk merendahkan diri demi sebuah pelayanan yang berkenan kepada Allah demi keselamatan seluruh umat manusia.

Bagi kita orang Kristen mengikuti Yesus adalah status istimewa yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Hal ini menandakan bahwa status kekristenan kita hendaknya digunakan hanya untuk pelayanan kepada Allah pula. Pelayanan kepada Allah ini selalu mendapat wajahnya dalam pelayanan yang utuh kepada sesama manusia. Sebab, Yesus yang adalah Raja bersedia melayani sesama sampai sehabis-habisnya apa lagi kita yang adalah pengikutnya. Singkatnya, kita sebagai murid Yesus konsekuensinya adalah kita juga harus mengikuti teladannya-Nya yaitu melayani sesama.  “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Fr. Fridus Sesfao)

Leave a comment