Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Doa Brevir

0 129

Asal Tulis

Brevir. Doa Gereja yang diberikan kepada para imam dan kaum religius. Menjadi tugas yang diwajibkan. Maka disebut juga ofisi. Tugas kantor. Kewajiban mendoakan brevir. Doa harian yang wajib dilaksanakan.
Brevir itu termasuk liturgi. Dalam sehari ada lima ibadat. Maka disebut juga ibadat harian. Ada ibadat bacaan, ibadat pagi, ibadat siang, ibadat sore dan ibadat malam atau penutup. Seorang imam hendaknya berdoa brevir secara teratur dan tertib. Itu bagian dari tugas imamat. Tugas itu bahkan diterima sejak tahbisan diakon. Lalu dilanjutkan selama menjadi imam. Karena memang doa brevir diberikan kepada kaum klerus sebagai tugas. Ofisi, officium.
Menghayati doa brevir setiap hari memang perlu disiplin. Mesti ada kemauan yang kuat. Niat tulus yang kokoh untuk selalu berdoa. Karena ada saja halangan untuk tidak berdoa. Baik alasan yang masuk akal, maupun yang dipaksa masuk akal. Maka terkadang ada pemaafan diri bila tidak berdoa brevir. Rasionalisasi menjadi solusi. Ungkapan, “Tuhan juga mengerti” adalah alasan rasionalisasi untuk membenarkan diri yang salah. Ada juga ungkapan “Tuhan juga bosan dengar kita pung doa”. Ini jelas sesat. Kebosanannya dialihkan kepada Tuhan yang mahasabar. Dengan ungkapan itu, dia membuat Tuhan seperti dirinya yang terbatas dan mengalami rasa bosan. Ini sebentuk relativisme tanpa disadari. Sayangnya dilakukan oleh oknum imam tertentu.
Doa brevir yang tertib membentuk pribadi disiplin. Orang/imam menjadi pribadi yang mampu mengatur waktu dengan baik dan mengisinya dengan doa dan karya. Pribadi “ora et labora”. Tidak melulu “labora”, lalu lupa “ora”. Semua diatur pada waktunya. Jadi, selain disiplin, juga tertib waktu. Artinya ada manajemen waktu yang baik untuk semua kegiatan. Termasuk doa brevir.
Terkadang ada imam yang mengatakan, “saya sibuk”. Jadi lupa berdoa. Atau terhalang untuk berdoa. Jelas ini kekeliruan dahsyat dari seorang imam yang manajemen diri dan waktunya amburadul. Kesibukan apapun bisa diatur. Doa brevir pun sebuah kesibukan. Sebuah kegiatan. Ada waktunya. Sudah diatur waktunya. Tinggal dijalankan saja. Tapi, itu tadi. Mau atau tidak. Ada niat atau tidak. Keasyikan dengan kegiatan lain membuatnya lupa untuk asyik berdoa juga.
Maka ungkapan “saya sibuk” lalu tidak berdoa, adalah sebuah pernyataan diri tentang manajemen waktu yang amburadul, manajemen hidup yang tidak seimbang. Malah ungkapan itu juga memperlihatkan bahwa bagi yang bersangkutan, doa tidak masuk dalam prioritas kesibukan. Doa brevir hanyalah sampingan. Dalam skala prioritas, doa brevir ditempatkan pada urutan kesekian. Ini memilukan, sekaligus memprihatinkan. Padahal telah berlatih dan jalani formasi bertahun-tahun untuk memiliki kebiasaan berdoa brevir. Yaitu sejak Tahun Rohani sampai dengan Tingkat 6. Tentu saja harapan Gereja adalah bahwa dalam periode formasi calon imam ini, terbentuk pribadi pendoa brevir yang disiplin.
Catatan refleksi ini dibuat, di atas pesawat Air Asia menuju Kuala Lumpur, usai doa brevir pagi. Perjalanan udara dari Denpasar ke Kuala Lumpur memakan waktu 3 jam. Saya berangkat dari penginapan ke bandara pukul 5.30. Saya tidak sempat doa brevir karena persiapan menuju bandara. Rencananya di ruang tunggu baru berdoa. Ternyata tidak sempat juga karena urusan imigrasi dan pendaftaran online untuk masuk ke Kuala Lumpur agak membutuhkan waktu lantaran saya masih gaptek sehingga harus tanya sana sini. Selain itu saya masih fokus kirim renungan pagi ke mana-mana.
Di atas pesawat ada waktu banyak. Maka inilah kesempatan untuk berdoa. Saya mulai dengan rosario 5 peristiwa. Sesudahnya brevir. Ibadat pagi. Berdoa untuk intensi Gereja semesta dan setempat. Banyak jiwa membutuhkan bantuan doa. Tuhan mendengarkan harapan mereka. Bantuan rohani melalui doa brevir dan rosario ini mungkin tak seberapa. Tapi nilainya sangat penting untuk keselamatan satu jiwa. Tuhan itu baik.

RD. Sipri Senda
Air Asia, di atas Laut Jawa, 22/12-2023

Leave a comment