Mikhael_News Kupang, 25 Februari 2025 – Fratres Konvikt Keuskupan Weetebula mengadakan Sidang Akademik (SIDAK) edisi Februari di Aula YMV-Sumba, Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 20.00 hingga 21.20 WITA ini mengusung tema:
Kepercayaan Marapu dan Gereja Katolik: Tantangan dan Peluang Inkulturasi
Acara ini dimoderatori oleh Frater Marsel Kii, dengan pemaparan materi dari Kelompok I yang diketuai oleh Fr. Erlan. Narasumber utama dalam diskusi ini adalah Fr. Karlos Bili. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Seksi Akademik Fratres Konvikt Keuskupan Weetebula.
Diskusi ini bertujuan untuk memperluas wawasan para calon imam Keuskupan Weetebula yang nantinya akan berkarya di Pulau Sumba, tanah Marapu. Dalam pembahasannya, para peserta mendalami tantangan inkulturasi dalam Gereja Katolik, terutama terkait perbedaan teologis serta kekhawatiran akan sinkretisme dalam upaya penerimaan kepercayaan Marapu.
Selain tantangan, diskusi ini juga menyoroti peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Gereja, antara lain bagaimana inkulturasi dapat memperkaya iman umat, memperkuat identitas budaya lokal, serta menciptakan harmoni sosial melalui penerimaan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan Gereja Katolik.
Salah satu peserta, Frater Emon Buling, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan ini. Ia menilai bahwa diskusi tersebut sangat membuka wawasan dan memperdalam pemahaman tentang bagaimana Gereja dapat merangkul budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya.
SIDAK kali ini memberikan banyak perspektif baru tentang inkulturasi, terutama dalam menjembatani iman dan budaya. Ini sangat membantu kami sebagai calon imam dalam mempersiapkan diri untuk pelayanan di Sumba
ungkap calon imam asal Solor-Lembata tersebut.
Melalui kegiatan ini, pengurus Fratres Konvikt Keuskupan Weetebula berharap agar para calon imam semakin memahami dinamika budaya setempat dan mampu menjadi jembatan bagi dialog antara iman Katolik dan tradisi lokal, sehingga tercipta evangelisasi yang lebih inklusif dan kontekstual di tanah Sumba. (Laporan Berita: Fr. Didin Doda)
