Homili Misa Adven I – RD. Louis Monteiro

Saudara-saudari yang terkasih….

Injil hari ini berisi ajakan Yesus kepada para murid agar selalu berjaga-jaga menantikan kedatangan-Nya kembali. Waktu kedatangan itu tidak diketahui siapa pun. Yesus menggambarkannya seperti kedatangan seorang pencuri di malam hari—terjadi secara tiba-tiba dan tanpa tanda-tanda sebelumnya. Karena itu, para murid diingatkan untuk selalu siap sedia.

Lalu apa artinya berjaga-jaga? Berjaga-jaga bukan berarti begadang semalaman atau terus-menerus hidup dalam ketakutan akan bahaya, berjaga-jaga juga tidak berarti siap menanti kapan musuh menyerang. Berjaga-jaga yang dimaksudkan di sini adalah menjalani hidup dengan setia, melaksanakan tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kita, seperti seorang hamba yang bertanggung jawab. Bila Tuhan datang kembali dalam waktu yang serba tidak pasti itu,  Ia akan menemukan kita dalam keadaan siap. Kesiapsediaan kita ini juga berekaitan dengan waktu yang ada pada Tuhan sendiri, yang menentukan sendiri kapan Dia mau datang lagi. Dan waktu kapan Dia datang lagi itu tidak akan pernah Ia memberitahukan kepada kita sebelumnya.

Saudara-saudari yang terkasih….

Masa Adven sering kita pahami sebagai waktu mempersiapkan diri menyambut Natal. Namun, tidak hanya berhenti di situ. Gereja mengingatkan kita sekalian bahwa persiapan batin kita tidak hanya cukup untuk merayakan Natal, tetapi juga sebagai persiapan kita untuk menantikan kedatangan Yesus yang kedua, ketika Ia datang dalam kemuliaan. Maka, ketika kita merayakan natal saat ini untuk mengenangkan kedatangan Yesus dua ribu tahun yang lalu, saat itu juga kita tidak boleh melupakan bahwa kitapun sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa Tuhan akan datang untuk yang kedua kalinya. Sekarang kita boleh bertanya kepada diri kita masing-masing: sudah siapkah kita menantikan dan menyambut Tuhan yang akan datang kedua kalinya?

Apa yang sudah kita lakukan? Marilah kita melihat ke dalam diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan sebagai bukti bahwa kita sudah sedang dalam penantian akan Tuhan yang akan datang lagi. Dalam merefleksikan diri sendiri, mungkin kita harus jujur mengakui bahwa sebagian besar dari kita tidak benar-benar menantikannya. Bukan kita tidak percaya, tetapi kita tidak siap menghadapi kenyataan bahwa kedatangan Tuhan berarti juga akhir hidup kita di dunia. Kita jarang memikirkan tentang hal itu, sehingga tidak banyak yang kita lakukan sebagai bukti bahwa kita sedang siap menantikan dan menyambut Tuhan yang akan datang lagi yang waktunya hanya Tuhanlah yang tahu.

Dengan demikian masa advent dapat menjadi bagi kita sebagai ajakan dari Tuhan agar kita menyadari bahwa hidup kita di dunia ini bukan semata-mata untuk menikmati apa yang sedang kita jalani saat ini tetapi sebagai sebuah kesempatan bagi kita untuk menyadari pula bahwa ada waktu di masa yang akan datang yang juga harus kita hadapi, yakni waktu Tuhan di mana Ia akan datang dalam kemuliaan.

Saudara-saudari yang terkasih….

Kita boleh belajar dan mengambil hikmah dari sebuah  cerita rakyat dari Jerman tentang seorang bernama Jedermann. Ia hidup dengan mengejar kesenangan dan pesta pora. Suatu malam, ketika ia sedang menikmati kesenangan bersama teman-temannya, malaikat maut datang mengetuk pintu dan berkata bahwa ia datang untuk menjemput Jedermann menghadap pengadilan Tuhan. Jedermann panik dan memohon agar penjemputan itu ditunda sampai tahun depan. Namun malaikat maut menolak. Tidak ada penundaan,  satu jam pun tidak.

Putus asa, Jedermann meminta agar ia diperbolehkan membawa seseorang untuk menemani dia di hadapan Tuhan. Malaikat maut memperbolehkan. Jedermann kemudian meminta dan memohon kepada satu per satu teman-teman yang berpesta pora dengan dia malam itu. Tetapi tidak satu pun teman pestanya yang mau ikut—semua menolak karena merasa belum siap. Jedermann kemudian teringat kekasihnya, karena sang kekasih pernah berkata: “Aku akan sehidup semati denganmu.” Namun ketika diminta ikut malam itu juga, kekasihnya pun menolak. Inilah kenyataan hidup di dunia ini. Kita boleh sehidup, tapi belum tentu kita semati. Jedermann akhirnya dibawa ke hadapan Tuhan sendirian.

Saudara-saudari yang terkasih….

Kisah ini mengingatkan kita bahwa meskipun  hidup kita di dunia ini boleh ada bersama-sama dengan begitu banyak orang; kita berdampingan dengan banyak orang; kita bersenang-senang dengan banyak orang; kita melakukan aktivitas dengan banyak orang; kita merencakan sesuatu dengan banyak orang; namun ketika Tuhan datang menjemput, Dia menjemputnya orang per orang. Sendiri sendiri. Kita kembali kepada Tuhan seorang diri, dan mempertanggungjawabkan hidup kita seorang diri. Maka, selama kita menjalani hidup ini, janganlah kita menggantungkan hidup kita kepada sesama manusia. Kapan saja mereka bisa pergi meninggalkan kita, kapan saja kita bisa terlepas dari mereka. Karena itu, kita mesti sadar bahwa kita hanya punya satu tempat kita bergantung yakni hanya pada Tuhan. Sebab, hanya Tuhanlah yang kekal. Hanya Dialah yang  tidak akan pernah meninggalkan kita sampai kapanpun. Maka, untuk Dia yang setia ini, kita mesti menggantungkan hidup kita sepenuhnya. Sehingga kalau Dia mengatakan bahwa kita mesti siap sedia menanti kapan Dia kembali menjemput kita, kita harus menaatinya.  Karena itu marilah kita menggunakan waktu yang ada dengan bijaksana. Berjaga-jagalah dengan setia menjalankan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing, sambil mempersiapkan hati menyambut kedatangan Tuhan yang kedua.

Penfui, 30 November 2025, Minggu Adven I

RD. Louis Monteiro