Komunitas Fratres Seminari Tinggi St. Mikhael kembali melaksanakan kegiatan diskusi akademik yang ketiga, pada 6 Desember 2025, pukul 08.00-09.00 WITA, yang bertempat di ruang-ruang kuliah fakultas filsafat, kamar makan, aula Unit Ibrani dan aula St. Yohanes Maria Vianney. Kegiatan ini merupakan bagian dari program untuk mengembangkan intelektual dan daya kritis dari para frater serta memperkaya pemahaman di bidang teologi dan filsafat dalam membaca realitas sosial.
Untuk para frater filosofan, tingkat I-IV tema sidang akademik kali ini mengangkat teori dari filsuf Herbert Marcuse, yakni “Manusia satu dimensi” (One-dimensional man). Kelompok-kelompok yang mendapat kesempatan untuk menjadi pemateri mengelaborasi lagi tema umum tersebut dengan menghubungkannya dengan situasi sosial dan perkembangan dunia modern saat ini. Herbert Marcuse (1898–1979) adalah seorang filsuf Jerman-Amerika, anggota terkemuka Mazhab Frankfurt, dan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam teori kritis abad ke-20. Ia dikenal karena kritiknya terhadap kapitalisme modern, teknologi, budaya massa, dan bentuk-bentuk penindasan yang “tak terlihat” dalam masyarakat industri maju. Melalui inspirasi dari teori Marcuse, salah satu kelompok yang menjadi pemateri, yaitu kelompok Bonaventura mengangkat judul sidang akademik tentang “Dunia dalam scroll: pandangan Marcuse tentang mentalitas satu dimensi di Instagram”. Dari judul tersebut, kelompok Bonaventura yang diketuai oleh Fr. Genaro Ndopo dan kawan-kawan, mengkritisi masalah yang timbul akibat perkembangan dari teknologi komunikasi yang terwujud dalam aplikasi Instagram.
Instagram dengan fitur reels-nya disamping memberikan pengaruh yang positif juga memberikan dampak negatif, yakni perilaku scrolling yang membuat penggunanya terjebak dalam ketergantungan penggunaan, reduksi pada daya kritis, serta kurangnya aktivitas positif akibat aktivitas scrolling yang intens dan pasif. Menurut Marcuse, teknologi modern membuat manusia modern menjadi masyarakat yang pasif, terpolarisasi dan cenderung mempertahankan status quo. Manusia modern yang hidup dalam kemajuan teknologi tanpa disadari telah dikuasai dan dijinakkan oleh sistem algoritma. Dalam hal ini, bukan manusia yang bebas menentukan bagaimana sarana-sarana tersebut digunakan, melainkan sistem teknologi itu sendiri yang membangkitkan keinginan pada manusia, sehingga sistem tersebut dapat mempertahankan diri dan terus berkembang. Jadi, dampak yang dialami manusia modern adalah hidup dalam pengontrolan sistem, akhirnya manusia tidak mengalami kebebasan sejati melainkan hanya sampai pada taraf kebebasan atau kebahagiaan semu (palsu).
Melalui diskusi akademik ini, para frater diajak untuk menjadi pribadi yang mampu menggunakan teknologi modern secara bijaksana, terkhususnya media sosial. Media sosial seperti facebook, instagram, maupun tiktok walaupun memberikan dampak yang positif dalam bidang komunikasi dan informasi, tetapi memiliki sisi negatif yang merugikan penggunanya. Penggunaan media sosial yang masif dapat menyebabkan adiksi yang berlebihan dan berakibat pada penurunan daya kritis (brain rot), kurangnya kreativitas, dan pemborosan waktu hanya untuk aktif di dunia maya. Sebagai calon imam, kita diajak agar menjadi tuan atas teknologi bukan sebagai budak teknologi, melalui pembatasan penggunaan media sosial, membaca, berdoa, dan mengakses media sosial untuk kepentingan studi.
Sedangkan para frater teologan tingkat V dan VI mendalami tema, “Pandangan Gereja Katolik tentang Operasi Plastik dan Implementasi Moralitas Manusia sebagai Citra Allah. Dalam materi yang disampaikan oleh Frater Daniel Bili, para frater diharapkan mampu menilai perkembangan teknologi medis secara kritis dengan tetap berlandaskan nilai etis Gereja. Operasi plastik dipahami bukan hanya sebagai tindakan estetis, tetapi juga sebagai fenomena budaya yang dipengaruhi standar kecantikan dan tekanan sosial. Materi tersebut menyoroti martabat manusia sebagai citra Allah harus menjadi dasar penilaian moral. Gereja menghargai tindakan medis yang memulihkan fungsi tubuh, namun mengingatkan agar tubuh tidak dipandang sebagai objek yang dibentuk mengikuti tren. Karena itu, melalui pembahasan ini, para frater diajak memiliki kepekaan pastoral dalam menilai motivasi serta dampak moral dari setiap tindakan.
(Laporan: Frater Marsel Ama Kii)


