Kesaksian dan Kerendahan Hati dalam Hidup Berkomunitas – Yohanes 1:35-41 II Renungan Novena Hari ke-4, Oleh: Fr. Andreas Rivan Oki

Injil yang telah kita dengarkan  menampilkan kepada kita sebuah fakta bahwa kesaksian bisa membawa orang lain untuk mengenal dan berjumpa dengan Kristus. Yohanes Pembaptis tidak mencari kehormatan bagi dirinya sendiri, melainkan dengan rendah hati  memberikan kesaksian kepada murid-muridnya bahwa Yesus adalah  Sang Anak Domba Allah. Dari kesaksian inilah, proses pemuridan  bertumbuh :  Andreas dan seorang murid lain mengikuti Yesus, dan setelahnya  Andreas bersaksi kepada saudaranya, Simon Petrus, dan membawanya kepada Tuhan.

Kalau kita mendengarkan kata saksi, maka pikiran kita langsung tertuju kepada mereka yang secara langsung menyaksikan suatu peristiwa. Karena itulah jika seorang saksi memberikan kesaksian, maka kesaksian tersebut berasal dari pemahamannya secara langsung ketika ia berhadapan dengan sebuah peristiwa. Gambaran demikian diterapkan kepada Yohanes Pembaptis yang datang sebagai saksi. Sebagai saksi tentang Yesus, sudah pasti bahwa Yohanes Pembaptis mengetahui secara benar bahwa Dia yang tentang-Nya ia memberikan kesaksian adalah sungguh-sungguh Mesias, Anak Domba Allah.

Gambaran Anak Domba Allah yang dialamatkan Yohanes Pembaptis kepada Yesus kurang lebih dilatarbelakangi oleh pemahamannya mengenai sebuah kisah tentang tulah ke-10 yang menimpa bangsa Mesir  yaitu kematian setiap anak sulung, baik manusia maupun hewan. Untuk mengantisipasi kematian tersebut, maka orang Israel yang kala itu dibuang ke Mesir diberikan perintah untuk  memoles ambang pintu rumah mereka dengan darah anak domba yang telah disembelih. Darah anak domba yang telah disembelih itu diyakini mampu melindungi rumah orang-orang Israel dari kebengisan malaikat-malaikat maut sehingga setiap anak sulung orang Israel tidak dibinasakan, melainkan tetap mengalami kehidupan. Melalui kisah ini, Yohanes Pembaptis  ingin mengidentifikasikan anak domba yang disembelih tersebut sebagai Yesus yang melalui kematian-nya akan membebaskan manusia dari dosa dan maut.

Selanjutnya, kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah mengundang  reaksi dari kedua muridnya, termasuk Andreas,  untuk pergi meninggalkannya dan kemudian mengikuti Yesus.  Dengan demikian maka kita melihat adanya sebuah  peralihan kemuridan: kedua murid yang sebelumnya berguru pada Yohanes Pembaptis, kini mengikuti Yesus dan menjadi murid-Nya.

Ketika berjumpa dengan Yesus, Andreas bertanya kepada-Nya : Rabi, di manakah engkau tinggal ? Rabi adalah istilah Ibrani yang biasanya digunakan untuk menyebut orang-orang yang mampu menerangkan dan menerapkan hukum Agama Yahudi.  Pertanyaan tentang tempat tinggal  Yesus sesungguhnya dilatarbelakangi oleh keinginan Andreas untuk bisa bercengkrama lebih lama dengan Yesus di tempat di mana Yesus tinggal,  karena di sana mereka akan memperoleh banyak pengajaran dan bisa jadi mereka akan diterima menjadi murid-Nya. Melalui pertanyaan tersebut, Andreas secara langsung telah memposisikan dirinya sebagai murid yang siap dan taat untuk berguru pada Yesus.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Yesus memberikan sebuah jawaban imperatif  “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Melalui ajakan tersebut, Yesus hendak memberikan kesempatan bagi kedua murid untuk datang dan menetap di tempat di mana Ia  tinggal. Penginjil tidak menjelaskan secara eksplisit hal-hal apa saja yang terjadi dalam kurun waktu itu, tetapi yang pasti  bahwa setelah perjumpaan itu ,Andreas medapatkan pemahaman baru tentang identitas Yesus, bukan sebagai Rabi, melainkan sebagai Mesias (walaupun kemesiasan yang dipahami  Andreas  masih berciri Politis). Karena itulah maka setelah perjumpaan dengan Yesus tersebut, Andreas berupaya untuk  menemukan Simon dan memberikan kesaksian padanya bahwa ia telah menemukan Mesias.

Beberapa poin refleksi yang bisa kita renungkan dari bacaan Injil ini

  Pertama, pentingnya memberikan kesaksian iman. Kisah Injil tadi menekankan pentingnya kesaksian sebagai penyebab dari pemuridan. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati bersaksi tentang Yesus, dan karena kesaksian itu, dua muridnya mulai mengikuti Yesus. Dalam hidup berkominitas di Seminari Tinggi Santo Mikhael, kita pun diundang untuk mampu memberikan kesaksian, Kesaksian itu terwujud pertama-tama bukan dalam kata-kata indah, melainkan dalam pola hidup dan kesetiaan dalam menjalankan tugas-tugas sebagai calon imam. Kesetiaan dalam melaksanakan kewajiban di komunitas adalah kesaksian yang bisa kita gaungkan dengan lantang dalam hidup harian kita setiap hari.

Kedua. Perihal kerendahan hati. Dalam Injil tadi kita mengetahui bahwa  Yohanes Pembaptis dengan penuh kerendahan hati menyerahkan muridnya kepada Yesus melalui kesaksian yang ia berikan. Yohanes  tahu siapa dirinya, dan siapa Yesus yang datang sesudahnya. Kerendahan hati bukan sekadar sikap merendahkan diri, tetapi keberanian untuk menempatkan diri secara benar di hadapan Allah dan sesama. Yohanes sadar bahwa ia dipanggil hanya untuk  mempersiapkan jalan bagi Mesias, dan bukan untuk menjadi yang utama. Inilah  sikap kerendahan hati sejati: rela mundur agar Kristus semakin dikenal. Yohanes sadar bahwa panggilannya hanyalah untuk  mempersiapkan jalan, dan bukan menjadi pusat perhatian.

Kerendahan hati Yohanes menjadi teladan penting bagi kita yang hidup di komunitas ini. Hidup berkomunitas adalah tempat di mana godaan untuk menonjolkan diri, mempertahankan gengsi, atau merasa diri lebih unggul dari yang lain bisa muncul. Namun, kisah  Injil ini menegur kita: kerendahan hati sejati berarti berani menempatkan diri secara benar di hadapan Allah dan hadapan sesama.  Maka marilah melalui refleksi ini, kita diundang untuk mampu memberikan kesaksian tentang Yesus dalam hidup harian kita setiap hari melalui kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, sembari merendahkan hati kita di hadapan Tuhan dan sesama. Semoga.

 

 

Fr. Riko Oki membawakan renungan pada Novena St. Mikhael hari ke-4