Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Pengampunan : Jalan Menuju Keselamatan

0 2

Bacaan I : Dan 13: 41-62

Bacaan Injil : Yoh,8:1-11

 

Keadilan dan hukum memang dibutuhkan untuk mengatur kehidupan manusia, namun harus dibuat dan diterapkan dengan benar demi kesejahteraan umum. Kenyataannya sering kali hukum dan keadilan dibuat untuk keuntungan dan kesejahteraan mereka yang kuat dan yang berkuasa.

Hal ini  nyata terjadi dalam kehidupan manusia dan juga secara gamblang terjadi dalam kisah injil hari ini. Ketidakadilan menempatkan perempuan yang dalam kehidupan masyarakat waktu itu sangat lema statusnya sebagai korban. Perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawah kehapan Yesus oleh orang Farisi menjadi bukti tertindasnya kaum perempuan di dalam Kehidupan orang Yahudi.

Yohanes mencatat dalam Injilnya bahwa orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat gencar dan bertekun melakukan banyak hal hanya untuk mempertahankan kedudukan mereka. Termasuk mencari-cari kesalahan untuk menjebak Yesus. Tujuannya hanya untuk menjatuhkanNya dan dengan demikian mereka tetap di kenal sebagai pemimpin yang baik. Sebab kehadiran Yesus membuat mereka tidak nyaman. Kehadiran Yesus membuat Popularitas mereka menurun; sebab mereka semakin kehilangan pengikutnya dan tidak di percayai lagi. Untuk menjebak Yesus mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan Berzinah. Lalu seperti apakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Apakah Yesus mengatakan sesuai hukum Musa perempuan ini layak di rajam dengan batu? Atau apakah Yesus melepaskan saja perempuan itu tanpa tindakan apapun? Yesus menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan itu dilakukannya dua kali. Yesus tidak secara langsung menjawabi mereka,karena Yesus tahu bahwa tujuan mereka datang hanya untuk menjebak-Nya. Mereka datang bukan dengan motif yang baik.  Yesus mengatakan: “Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”(Yoh 8:7).  Mendengar perkataan Yesus itu mereka diam, terkejut, terpaku dan tidak ada seorang pun yang berani melempar batu kepada perempuan itu karena mereka semua merasa diri berdosa. Dan satu persatu mereka pulang hingga tinggal Yesus sendiri dengan perempuan itu. Mungkin mereka tidak berzinah seperti perempuan itu. Tetapi dalam dosa lain mereka berkanjang. Seperti dalam hal dusta; mencobai; mencaci maki orang dan sebagainya. Karena rasa diri berbuat dosa satu persatu pergi meninggalkan Yesus. Lalu bagaimanakah tindakan Yesus terhadap perempuan itu? Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia tidak mengambil batu lalu melempari perempuan itu. Tetapi  memberi penegasan yang sangat menghibur perempuan itu dan mengajukan pertanyaan; Dimanakah mereka? Tidak adakah dari antara mereka yang melempari engkau dengan batu?   “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8: 10). Tidak dapat di bayangkan sukacita besar yang dialami perempuan itu. Benar-benar ia telah terlepas dari maut yang mengancam hidupnya. Sungguh ia tidak menyangka itu akan terjadi padanya. Tadinya dia hanya membayangkan batu-batu yang dilempar menimpah tubuhnya. Sudah  pasti sekujur tubuhnya akan berlumuran darah. Akan tetapi semua itu tidak lagi menimpah dirinya. Tidak ada satu batupun yang di lempar dan tidak ada seorangpun yang berani mengulurkan tangannya mengambil batu dan melemparinya. 

 Yesus telah mengambil batu-batu itu, batu-batu itu tidak mengenai dan menimpah perempuan itu lagi. Tubuhnya tidak lagi menderita sakit karena tertimpa batu. Yesus telah menyelamatkannya. Dosa-dosanya yang banyak itu di ampuni. Pergilah dan jangan lagi berbuat dosa mulai dari sekarang. Itulah pesan Yesus kepadanya. Itulah Injil atau kabar baik yang bukan saja hari itu didengar oleh perempuan itu tetapi juga hingga sekarang.  Kabar baik itu diberitakan kepada kita semua juga hari ini. Kita tidak berbeda dari perempuan, kita layak di rajam dengan batu; kita layak mati karena dosa-dosa kita. Tetapi batu-batu itu telah mengenai dan menimpa Yesus. Ia telah menanggung hukuman itu ganti kita. Tubuh-Nya berlumuran darah. Sekarang kita boleh pergi; kita boleh menikmati kebebasan itu. Kita boleh di lepaskan dari kematian  itu. Karena itu jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. Bukan nanti atau tunggu, tetapi mulai dari sekarang. Bukan besok dan nanti tapi mulai dari sekarang. Jangan tunda dan mengatakan ada waktunya saya bertobat. Sebelum terlambat, sebelum pintu di kunci dari dalam dan sebelum Yesus mengatakan; Aku tidak mengenal kamu. Bertobatlah!!!! dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. (Fr Ignasius Muda)

Leave a comment