Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Manusia, Produk dan Korban Megaproyek Sosial Media (Analisis Film The Sosial Dilemma dalam Perspektif Don Idhe)

0 13

Pengantar

Dewasa ini penggunaan Sosial Media seperti Facebook, IG, Youtube, Tweeter, dan pelbagai aplikasi lainnya semakin tak terbendung. Penggunaan sosial media dari waktu ke waktu semakin besar sehingga tanpa disadari menimbulkan banyak kekacauan dalam realitas terlebih dalam lingkungan sosial dan politik. Secara signifikan, kekacauan yang sama juga dialami setiap pribadi. Pelbagai kekacauan tersebut kemudian menjadi lahan basah bagi para kapitalis dalam meraup keuntungan, namun sejauh ini fakta tersebut belum disadari oleh banyak orang, terlebih bagi mereka yang menggunakannya.

Dalam film dokumenter The Sosial Dilemma arahan Jeff Orlowski yang diluncurkan pada 9 September 2020 seolah ingin menegaskan apa yang dinyatakan oleh Sophokles bahwa : tidak ada hal besar yang memasuki kehidupan manusia tanpa kutukan.” Teknologi digital sebagai suatu tahap evolusi dalam perkembangan manusia, yang disebut juga sebagai revolusi keempat merupakan hal besar yang membawa sekaligus berkat dan kutuk. Di satu sisi, media sosial mampu menghubungkan berbagai orang dari berbagai belahan dunia, memertemukan orang-orang yang terpisah dan seterusnya. Tetapi di sisi lain juga, menampilkan hal buruk, bahkan pada anak-anak media sosial mengambil-alih identitas mereka.

Dalam The Social Dilemma, fenomena penggunaan sosial media dalam masyarakat dianalisis dengan tajam dan ditampilkan pelbagai efek buruk yang ditimbulkannya. Mereka yang pernah terlibat langsung dalam pengembangan berbagai media sosial tersebut mengakui efek buruk yang ditunjukkan oleh media sosial. Misalnya, Tristan Harris, seorang mantan pakar etika di Google mengakui bahwa “teknologi persuasif itu semacam desain yang sengaja diterapkan secara ekstrem, agar kami bisa mengubah perilaku seseorang. Kami ingin mereka melakukan sesuatu dan terus melakukan ini dengan jari mereka. Dalam psikologi, itu disebut penguat intermiten positif. Kita tidak tahu kapan atau apakah kita akan mendapatkannya. Bukan hanya memakai produknya secara sadar, tapi aku mau masuk jauh ke batang otak dan menanamkan kebiasaan secara tak sadar di dalam dirimu agar kau diprogram secara lebih mendalam. Kau bahkan tak sadar.”

Chamath Palihapitiya, mantan wakil direktur bidang pengembangan Facebook menyatakan bahwa “kami ingin secara psikologis tahu cara memanipulasimu secepat mungkin lalu membalasnya dengan stimulasi dopamin. Kami melakukannya dengan sangat baik di Facebook. Instagram dan WhatsApp melakukannya. Snapchat dan Twitter melakukannya.” Sean Parker, mantan direktur Facebook menyatakan bahwa “ide ini dicetuskan oleh peretas seperti saya karena kita mengeksploitasi kelemahan dalam psikologi manusia.”

Jadi, film ini mau menunjukkan kepada khalayak pengguna bahwa megaproyek perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook, IG, Youtube, Tweeter, dan pelbagai perusahaan sosial media lainnya yang bekerja di balik layar monitor memiliki efek menghancurkan yang sedemikian besar. Salah satu alasan paling mendasar yang hendak ditunjukkan melalui film tersebut adalah bahwa algoritma media sosial adalah algoritma keuntungan: maksudnya media sosial itu dirancang menurut logika keuntungan ekonomis, dan bukan menurut logika pemanusiaan manusia.

Don Idhe seorang filsuf teknologi mengungkapkan bahwa pengaruh teknologi bagi manusia mencakup berbagai aspek dan level, mulai dari aspek psikologi, pengalihan persepsi tentang ruang, waktu, dan bahasa, sampai pemahaman tentang tubuh dalam teknologi (Bodies in Technology) yang menjelaskan eksplorasi asli tentang cara dunia maya memengaruhi pengalaman manusia. Beberapa poin analisis Idhe terhadap teknologi dalam kehidupan manusia yang kemudian penulis temukan dalam Film The Sosial Dilemma akan dibahas dalam tulisan ini dengan sederhana.

Leave a comment