Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

SIAPKANLAH JALAN TUHAN

0 7

Konon, beberapa tahun yang lalu, ada sebuah surat kabar yang memuat kisah tentang Al Johnson, seorang pria asal Kansas yang bertobat dari dosa-dosanya dan memilih Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-nya. Yang membuat ceritanya begitu luar biasa adalah kenyataan bahwa, sebagai hasil dari imannya yang baru kepada Kristus, ia mengaku pernah terlibat dalam perampokan sebuah bank ketika berusia sebelas tahun. Karena masih di bawah umur, Johnson tidak dapat diadili atas tindak kejahatannya. Namun, beberapa tahun kemudian, karena perubahan hati yang total dan sempurna, ia tidak hanya mengakui kejahatannya, tetapi dengan sukarela mengembalikan bagian uang yang dicurinya! Itulah pertobatan, metanoia, perubahan hati yang radikal, yang diminta oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini.

Hari ini kita memasuki Minggu kedua Adventus. Bacaan-bacaan suci hari ini mengingatkan kita bahwa kedatangan Yesus ke dunia pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, merupakan penggenapan rencana penyelamatan Allah. Bangsa Israel yang dibuang ke Babel pulang kembali ke tanah airnya, bersama dengan shalom atau damai-sejahtera sempurna; kita pulang bersama Yesus pada Kedatangan-Nya yang Kedua; dan Yesus, Sang Juruselamat, “pulang” ke dalam hidup kita selama masa Adven. Ketiga bacaan suci hari ini fokus pada keharusan mutlak untuk mempersiapkan diri dengan pertobatan dan perbaikan untuk kedatangan Kristus.

Dalam bacaan pertama (Yes 40:1-5, 9-11), nabi Yesaya menenangkan kaum Yahudi dalam pembuangan di Babel, memberikan mereka jaminan dari Yahweh sendiri bahwa 60 tahun pembuangan mereka ke Babel akan segera berakhir, dan bahwa mereka akan pulang sebagai orang-orang merdeka. Sang nabi meyakinkan mereka bahwa mereka akan kembali ke tanah airnya dengan kuasa Allah. Yesaya tidak segan-segan mengatakan bahwa pembuangan itu merupakan hukuman atas dosa-dosa mereka, namun kini dosa-dosa itu sudah diampuni, dan pembuangan pun telah berakhir. Dalam hal ini, Yesaya ingin agar bangsa Israel memandang perjalanan kembali mereka sebagai eksodus kedua, dengan Yahweh yang tetap menjadi Bapa penyayang dan Gembala setia. Yesaya menggambarkan kasih Allah yang ajaib kepada mereka yang tidak layak. Jika kini Yahweh adalah Penebus mereka dan bukannya penghukum mereka, maka hubungan mereka dengan Yahweh pun harus berubah. Sang nabi pun mengarahkan para buangan untuk kembali ke rumah dalam prosesi keagamaan yang megah, dengan Allah sebagai pemimpin mereka. Untuk membuka jalan bagi prosesi ini, lembah dan gunung harus diratakan, dan sebuah jalan raya harus dibuat di padang gurun. Allah akan menuntun mereka kembali ke tanah Yehuda, ke kota Yerusalem, dan ke gunung Sion, tempat Bait Allah mereka berdiri. Membayangkan prosesi ini, sang nabi pun berseru dengan sukacita, “Lihatlah, itu Tuhan Allahmu. Ia datang dengan kekuatan dan kekuasaan….!” Kemudian sang nabi menyajikan gambaran lembut tentang Allah yang menuntun mereka seperti seorang gembala merangkul anak-anak domba.

Aslinya, Yesaya menyampaikan nubuat ini pada abad ke-6 sM. Pada satu sisi, nubuat ini terpenuhi ketika bangsa Persia menaklukkan Babel, dan kaum Yehuda yang dibuang ke Babel diizinkan untuk pulang ke tanah airnya. Allah untuk pertama kalinya memenuhi janji keselamatan yang disampaikan nabi Yesaya dengan membawa pulang para buangan dari Babel. Namun, pada level yang lebih dalam, firman ini meramalkan kedatangan Yesus. Kata-kata Yesaya tentang “suara yang berseru-seru di padang gurun: ‘Persiapkanlah jalan Tuhan, luruskan jalannya’”, adalah prediksi tentang Yohanes Pembaptis. Dia memanggil orang-orang untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan. Dan Tuhan itu adalah Yesus yang membawa pembebasan sejati dari perbudakan dosa bagi seluruh umat manusia. Justru karena makna yang lebih dalam dari kata-kata nabi inilah, maka bacaan ini dipilih untuk masa Adven.

Dalam bacaan kedua (2 Ptr 3:8-14), rasul Petrus menunjukkan bahwa keselamatan yang dijanjikan nabi Yesaya belum sepenuhnya terwujud bahkan oleh kedatangan pertama Yesus. Baru pada kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman, kata-kata Yesaya akan sepenuhnya terpenuhi. Karena itu, Petrus memperingatkan para pengajar palsu yang telah pesimis akan kedatangan Kristus karena penundaan yang lama. Seiring berjalannya waktu, orang-orang non-Kristen mulai mencemooh orang-orang Kristen yang masih mengharapkan kedatangan kedua Kristus. Bahkan beberapa orang Kristen mulai percaya bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Mereka menertawakan apa yang dianggap sebagai kesalahan dan ilusi. Karena itu, Petrus mengingatkan mereka bahwa meskipun Kedatangan Kedua Kristus tampaknya tertunda, namun Ia pasti akan datang sesuai janji. Petrus juga mengingatkan mereka bahwa Allah tidak menghitung waktu seperti yang kita lakukan, karena bagi-Nya “satu hari seperti seribu tahun dan seribu tahun seperti satu hari” (Mzm 90). Dengan kata lain, Tuhan yang telah bangkit adalah kekal dan tak terhingga, maka Ia tak terbatas dan tak terukur oleh waktu dalam memenuhi janjiNya. Selain itu, Allah “sabar” dengan kita, memberikan lebih banyak waktu kepada kita untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan memperbarui hidup kita. Semakin lama kita diizinkan menunggu kedatangan Kedua Kristus, semakin banyak orang yang akan memiliki kesempatan untuk bertobat dan mengambil bagian dalam kemuliaan Allah. Jadi, Petrus meyakinkan umatnya bahwa janji Kristus akan terpenuhi. Itulah sebabnya kita menyatakan dalam Credo, “Ia akan datang lagi dalam kemuliaan untuk menghakimi yang hidup dan yang mati, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”. Selanjutnya, kita diharapkan untuk menunggu, menjalani kehidupan kekudusan dan kesucian. Kita harus kudus dalam perilaku dan kebaktian, menjadi “bersemangat untuk ditemukan tanpa cacad atau cela di hadapan-Nya, dalam damai sejahtera.”

Penginjil Markus dalam kutipan Injil hari ini (Mrk 1:1-8), memulai Injilnya dengan persiapan bagi kehidupan publik Yesus, di mana pelaku utamanya adalah Yohanes Pembaptis. Nabi padang gurun ini memberitakan “kehadiran” suatu peristiwa dan sosok yang telah diantisipasi setiap orang Yahudi. Ia berkata, “Dia yang lebih berkuasa dari padaku, akan datang setelah aku… Aku telah membaptis kamu dengan air, tetapi Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”. Inti dari pesan Yohanes Pembaptis adalah “bertobat dan kembali ke jalan Tuhan”. Ia memberitakan bahwa perilaku yang tepat bagi mereka yang mempersiapkan “jalan Tuhan” adalah dibaptis “sembari mengakui dosa-dosa mereka”.

Markus mengutip Yesaya sebagai sumber dari kutipan lengkap yang membuka Injilnya. Akan tetapi, kalimat pertama ini awalnya muncul dalam nubuat Maleaki (Mal 3:1). Dalam konteks aslinya, ini adalah ancaman dan peringatan dari Allah kepada para imam Bait Suci. Pada masa itu, para imam hidup dengan malas dan gagal dalam tugas mereka dengan mempersembahkan kurban yang cacat dan tidak berkenan kepada Yahweh. Karena itu, utusan itu harus membersihkan dan menyucikan ibadah di Bait Suci sebelum Mesias yang diurapi Allah muncul di bumi. Namun, dengan dikombinasikan dengan “suara yang berseru di padang gurun” dari kitab Yesaya, nubuat itu menjadi undangan bagi seluruh Israel untuk mempersiapkan kedatangan Mesias yang akan diumumkan oleh Yohanes Pembaptis. Dengan demikian, Maleaki mengantisipasi misi Yohanes Pembaptis sebagai misi penyucian. Yohanes Pembaptis memberikan nasihat praktis kepada orang-orang Yahudi untuk mengubah cara hidup mereka menjadi lebih baik. Ia ingin agar mereka dan kita semua mengisi jurang prasangka, meratakan gunung kesombongan, dan meluruskan jalan-jalan bengkok ketidakadilan. Persiapan jalan bagi Allah di hati kita adalah suatu urusan yang membutuhkan waktu dan biaya. Hal ini menuntut kita untuk mendengarkan apa yang Allah katakan kepada kita, dan kemudian melakukan perubahan dalam perilaku kita. Sambutan kepada Allah juga mensyaratkan penyingkiran semua hambatan dan rintangan yang dapat menghalangi-Nya untuk mendekat kepada kita.

Sesungguhnya, pesan Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini memanggil kita untuk menghadapi dan mengakui dosa-dosa kita; untuk berpaling darinya dalam pertobatan yang tulus; untuk menerima pengampunan Tuhan; dan yang paling penting, untuk berpaling kepada Yesus. Disinyalir bahwa pada umumnya ada tiga alasan mengapa kita terkadang gagal menerima pengampunan Tuhan. Pertama, kita gagal mengakui sebagai dosa, apa yang telah kita lakukan atau tidak kita lakukan; kedua, kita mengakui dosa tetapi tidak bertobat darinya; dan ketiga, kita gagal mengampuni orang yang telah menyakiti atau melukai kita. Tentang kegagalan ketiga ini, Yesus pernah berkata, “Sebab jika kamu mengampuni dosa orang, Bapamu yang di sorga juga akan mengampuni kamu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni dosa orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni dosamu” (Mat 6:14-15). Karena itu, jangan pernah biarkan apa yang orang lain lakukan kepada kita menghancurkan sisa hidup kita. Kita tidak dapat diampuni kecuali kita mengampuni. Hendaklah kita memohon kepada Tuhan untuk membantu kita melepaskan kepahitan hidup, dan membiarkan-Nya bekerja menyembuhkan hidup kita. Mungkin kita perlu mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika kita melakukannya, penglihatan rohaniah kita akan menjadi semakin terang dan, dalam kasih-Nya kepada kita, kita akan mengenali dosa-dosa yang sebelumnya tidak kita sadari, dan dengan tulus bertobat darinya, berpaling kepada orang yang kita sakiti dan memperbaikinya, serta meminta pengampunan kepada Tuhan. Seperti ayah dari anak yang hilang, demikianlah Allah akan bergegas menemui kita. Dia akan merangkul kita, mengampuni kita, serta memulihkan kita. Dia akan menerima kita sebagai putra dan putri-Nya. Marilah kita mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Tuhan dengan mendekat pada-Nya, maka Ia pun akan semakin dekat dengan kita. Tuhan memberkati….Amin!!!

Leave a comment