Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 dan Diskusi Kitab Suci

0 10

Pastor Paroki Santa Theresia Kefa, RD Kanisius Oki, mengundang RD Siprianus S Senda, dosen Kitab Suci Fakultas Filsafat Unwira Kupang untuk memberikan sosialisasi Alkitab Deuterokanonika TB2 dan ceramah kitab suci bagi anak Asrama Paroki, putra dan putri. Kegiatan ini terlaksana pada Sabtu, 21/10, bertempat di aula paroki.

Di hadapan peserta sejumlah 167 pelajar SMP dan SMK yang tinggal di asrama paroki, RD Sipri Senda menjelaskan tentang latar belakang adanya revisi terjemahan Alkitab Deuterokanonika TB2 dan contoh revisi. “Alkitab Deuterokanonika yang kita pakai selama ini, yaitu yang ada di tangan kamu sekarang, diterbitkan tahun 1974. Namanya Alkitab TB atau Terjemahan Baru. Bahasa Indonesia tahun 1974 itu tentunya demikian dan dipahami oleh pembaca Alkitab sekitar tahun 70-an dan 80-an. Tapi bagi pembaca masa kini tentu ada kesulitan dengan terjemahan tersebut karena ada banyak ungkapan yang tidak dimengerti. Alasannya bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak istilah tahun 1974 tidak lagi dimengerti. Maka dibuatlah revisi terjemahan ini. Alkitab revisi ini disebut TB2 atau Terjemahan Baru kedua.” Papar RD Sipri, yang disimak dengan penuh perhatian oleh peserta.

Menyebut beberapa contoh revisi, RD Sipri Senda mengajak para peserta untuk membuka kitab suci mereka dan membaca teks, lalu diperbandingkan dengan Alkitab Deuterokanonika TB2. “Contohnya, lihat Matius 1:1-17. Coba baca ayat 1-3. Nanti kita bandingkan dengan Alkitab Deuterokanonika TB2 ini.” Setelah para peserta membaca dari Alkitab mereka, dosen yang menjadi pembina para frater di Seminari Tinggi Santo Mikhael itu membaca dari Alkitab Deuterokanonika TB2 dan menjelaskan perubahan terjemahannya. “Kata silsilah diganti dengan daftar nenek moyang Yesus. Kata memperanakkan diganti dengan mempunyai anak. Jadi, perubahannya kelihatan, Abraham mempunya anak, Ishak. Ishak mempunyai anak, Yakub. Dan seterusnya. Contoh lain adalah kata sorga diganti dengan surga. Kata ceritera diganti dengan cerita. Kata ganja diganti dengan kata balok. Semua contoh perubahan dan alasannya ada dalam buku suplemen warna biru yang disediakan bagi setiap pembeli Alkitab Deuterokanonika TB2.”

Selanjutnya pada sesi kedua, RD Sipri Senda menjelaskan tentang kitab suci katolik agar para peserta mengenal Alkitab Deuterokanonika. Untuk mempermudah pengenalan, para peserta diajak untuk memahami bagian Alkitab secara umum, yakni Perjanjian Lama dan Baru; secara khusus untuk tiap bagian dalam pengelompokan sesuai kekhasan masing masing-masing. Untuk Perjanjian Lama, ada empat kelompok yaitu Pentateukh, Sejarah, Sastra Kebijaksanaan dan Nabi-nabi. Jumlahnya 46 kitab. Sedangkan Perjanjian Baru yang berjumlah 27 kitab dibagi dalam kelompok Injil beserta Kisah para Rasul, Surat-surat Paulus dan surat Ibrani, surat-surat Katolik, serta Wahyu Yohanes.

Dalam sesi diskusi para peserta mengajukan beberapa pertanyaan seputar kekhususan Alkitab Deuterokanonika dan alasan terjadi perbedaan antara Protestan dan Katolik. “Deuterokanonika berasal dari kata Deutero artinya kedua, dan kanonika atau daftar resmi kitab suci yang ditetapkan oleh Gereja. Ketujuh kitab Deuterokanonika adalah Tobit, Yudit, Barukh, Kebijaksanaan Salomo, Putra Sirakh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Ketujuh kitab ini tidak diterima sebagai kitab suci oleh Martin Luther maka dia membuat kanon yang baru untuk Protestan yaitu 39 kitab untuk Perjanjian Lama dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru. Alasannya dia mengikuti Kanon Ibrani yang ditetapkan oleh para Rabi Yahudi di Yamnia tahun 100 Masehi, yang di dalamnya tidak terdapat ketujuh kitab itu. Sedangkan Katolik mengikuti kitab suci berbahasa Yunani atau biasanya disebut Septuaginta yang mencakup pula ketujuh kitab itu.” Jelas RD Sipri, mengakhiri sesi tanya jawab sekaligus kegiatan ini. Hadir pula dalam kegiatan ini, kedua frater TOP, alumni Fakultas Filsafat yaitu Fr Egi Tikneon dan Fr Asa Tuna. Keduanya menjadi pendamping anak Asrama Paroki.

Leave a comment