Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

Allah adalah Keselamatan

0 8

Pekan Prapaskah V

Bacaan I         :Bilangan 21: 4-9

Bacaan II       :Yohanes 8: 21-30

Keterpurukan melemahkan kehidupan manusia dan menjadikan manusia berada di dasar atau berada pada fase kelam hidupnya. Keadaan ini membuat manusia kehilangan harapan dan yang tersisa hanyalah keputusasaan lalu muncul sebuah kepasrahan pada hidupnya. Manusia pada fase ini seaakan memasrakan hidupnya terseret dalam aliran takdir dan seolah-olah hidupnya memamang ditakdirkan demikian. Pada kenyataan hidup demikian manusia sebenarnya lupa bahwa hidup bukanlah perjalanan sebuah takdir, di mana Allah seolah-olah yang mengatur manusia atau menggerakkan kehidupan manusia dan manusia adalah boneka Allah. Hidup tidak demikian, Allah tidak menjadikan manusia seperti itu, manusia sebaliknya adalah otonom mempunyai kehendak bebas di dalam dirinya, ia berhak secara bebas ikut atau tidak ikut pada Allah. Oleh karena itu manusia membutuhkan keselamatan dari situasi terpuruknya. Manusia harus berusaha untuk keluar dari situasi keterpurukan hidupnya dengan dayanya. Dalam situsi itu yang perlu dipikirkan pertama manusia ialah bagaimana ia dapat memperoleh keselamatan. Manusia harus sadar bahwa ia butuh pertolongan. Ia harus menggunakan dayanya untuk meminta pertolongan, sebab hanya dengan dayanya sendiri tidak dapat menolong dirinya sendiri keluar dari situsi ini. Maka dengan itu manusia harus menggunakan dayanya untuk berelasi dan meminta pertolongan pada kekuatan yang lebih besar yang tentu melebihi kekuatan keterpurukan itu sendiri.

Yohanes dalam Injil hari ini menceritrakan pengakuan Yesus bahwa Ia bukan dari dunia ini. Karakteristik penginjil Yohanes nampak pada teks ini di mana Yesus mulai mewartakan lalu muncul kesalahpahaman dan diakhiri dengan keputusan para pendengar, percara atau tidak percaya pada Yesus. Yesus memulai pewartaanNya dengan mengatakan Ia akan pergi dan ke tempat Ia pergi tidak mungkin untuk orang datang sebab mereka akan mati dalam dosa mereka. Ini dikatakan Yesus untuk menyatakan tentang kematianNya dan bahwa Ia akan kembali kepada Bapa. Tetapi orang banyak salah mengartikan maksud Yesus, sangka mereka Ia akan bunuh diri. Memperjelas maksudNya Yesus menyatakan tentang asalNya agar mereka dapat mengetahui tujuan ke mana Ia akan pergi. Yesus mengakatakan bahwa Ia berasal dari atas dan bukan dari dunia sama seperti mereka. Ia mengatakan bahwa Ia bersal dari atas yang dalam pemahaman Yunani berarti Ia datang dari situsi yang sempurna, suci, dari tempat yang tinggi dan bukan dari dunia ini yang merupakan tempat rendah dan tidak sempurna.

Selanjutnya Yesus mengatakan bahwa kita manusia berasal dari bawah dan akan mati dalam dosa jika kita tidak percaya padaNya. Yesus menempatkan diri pada posisi sentral penyelamatan, bahwa keselamatan dapat tercapai dalam Dia. Ia mempunyai kuasa menyelamatkan karena Ia berasal dari atas. Akan tetapi orang-orang yang mendengarkan Yesus membutuhkan kepastian maka dengan itu mereka menanyakan siapa Dia sehingga Ia dapat berbicara demikian. Yesus lalu menegaskan asalNya dengan memperkenalkan Bapa kepada mereka, bahwa yang mengutusNya adalah benar yankni dari atas. Karena yang mengutus Yesus adalah benar maka Yesus senantiasa memberi kesaksian tentang kebenaran itu sendiri. Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengerti bahwa Yesus adalah keselamatan ketika mereka meninggikan Dia. Yang dimaksudkan Yesus ialah ketika Ia ditinggikan pada kayu salib barulah orang akan mengerti bahwa Dia adalah penyelamat sebab Dia yang ditinggikan akan menarik orang kepadaNya dan memberi keselamatan kepadanya. Hal ini tercapai karena persatuan yang intim antara Bapa dan Yesus, Yesus senantiasa taat apada Bapa dengan melakukan kehendak Bapa dan Bapa senantiasa menyertai Dia. Setelah mengatakan itu semua banyak orang menjadi percaya kepada Yesus.

Dosa adalah situasi keterpurukan manusia. Dosa merusak hubungan manusia dan Allah. Manusia tidak lagi mempercayai Allah dan menaru kecurigaan apda Allah karena Allah dilihatnya selalau melarangnya dalam tindakan-tindakannya. Allah seperti myembunyikan sesutau di balik larangan-larangan itu maka manusia terdorong masuk dalam larangan tersebut, dalam situasi ini manusia merubah sikapnya kepada Allah secara fundamental. Akan tetapi Allah tidak merubah sikapnya, manusia yang merubah sikapnya, ia menjadi takut kepada Allah karena dosa yang diperbuatnya. Manusia lalu terpuruk dalam dosa sehingga membuat dirinya menjadi rusak dan dilukai. Akan tetapi Allah tetap memberi kesempatan kepada manusia untuk mengakui dosanya dan berbalik kepada Allah. Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun dan siapa yang melihatnya akan sembuh atau selamat dari bahaya maut akibat pagutan ular, maka Yesus yang ditinggikan mempunyai daya keselamatan bagi mereka yang datang kepadaNya. manusia akan mati dalam dosa demikian kata Yesus akan tetapi mereka yang datang pada Dia akan memperoleh hidup yakni keselamatan. Manusia perlu merasa terpanggil untuk datang pada Yesus sebab hanya melalui Dia manusia ditolong untuk keluar dari situasi terpuruknya akibat dosa. Manusia perlu untuk senantiasa berelasi dengan Allah membuka diri dan mengandalkan Allah dalam hidupnya agar melalui Allah manusi dapat mencapai kemerdekaan hidup yakni kebahagiaan yang abadi.

Allah tentu tidak akan pernah membiarkan orang yang datang padaNya itu binasa melainkan Ia senantiasa memberikan kehidupan kepada mereka yang datang padaNya. Inti dari semua itu adalah sikap kepercayaan manusia pada Allah, artinya mereka yang percaya sajalah yang memperoleh keselamatan, dan untuk itu manusia membutuhkan tuntunan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah pribadi yang mandaya manusia untuk percaya kepada Allah. Fr. Rian Banase

Leave a comment