Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

CINTA AKAN RUMAHMU MENGHANGUSKAN AKU

(Kej 20:1-17; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25) Hari Minggu III Prapaskah/B

0 106

Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengajarkan kita bahwa masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk membersihkan Bait Allah di dalam hati kita, sekaligus menawarkan sembah-bakti yang pantas dan benar kepada Tuhan dengan mematuhi Sepuluh Perintah Allah. Bacaan-bacaan suci juga mengajarkan kita bahwa Perjanjian Baru kita dengan Tuhan menuntut kita untuk menjaga agar Gereja kita tetap suci; agar penyembahan Ilahi kita tetap hidup dengan berpartisipasi aktif dalam liturgi dengan hati yang dibersihkan oleh pertobatan.  Dengan membiarkan Roh Kudus mengendalikan hati dan hidup kita, kita berharap boleh menjadi kudus.

Bacaan pertama berkisah bahwa, di gunung Sinai Tuhan mengadakan perjanjian dengan Umat Israel. Isi Perjanjian Sinai itu dapat diringkas sebagai berikut: “Aku (Tuhan) akan menjadi Allahmu, dan kamu (Israel) akan menjadi umat-Ku”. Karena kasih-Nya, Tuhan memberikan sepuluh Perintah atau sepuluh Firman, sebagai pedoman hidup bagi umat Israel untuk mencapai keselamatan. Tetapi sekian sering, atas nama kebebasan, umat Israel dan juga kita sendiri melanggar sepuluh Firman Tuhan itu. Akibatnya, bukan kebahagiaan dan keselamatan, melainkan  kemalangan dan kebinasaan-lah yang kita alami. Dengan ini, kita diajarkan bahwa Sepuluh Perintah atau Firman Allah adalah dasar dari kehidupan agama dan rohani kita. Perintah Allah bukannya membatasi kebebasan kita, melainkan justru membantu kita untuk mencintai dan menghormati Allah dan sesama kita. Ia menjadi pedoman bagi sembah-bakti kita yang benar dan berkenan kepada Allah.

Di dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita yang berdosa diselamatkan melalui Kristus yang Tersalib; “suatu batu sandungan untuk orang-orang Yahudi, dan suatu kebodohan untuk orang-orang bukan Yahudi”, tetapi bagi kita yang terpanggil, “Kristus-lah kekuatan dan hikmat Allah” (1Kor. 1: 24). Karena itu, dengan gembira kita mengikuti jalan salib Kristus, sebab inilah jalan keselamatan. Dengan demikian, melalui bacaan suci ini, kita diingatkan bahwa sepatutnya kita menghargai dan menghormati “kebodohan” Ilahi yang tampak dalam Salib Kristus, serta menaati perintah-perintah-Nya untuk mencintai, sebagai ungkapan penyembahan kita yang benar kepada Allah.

Injil hari ini berkisah tentang “kemarahan Yesus” ketika Ia masuk ke dalam Kenisah Allah di Yerusalem. Kemarahan Yesus itu disebabkan oleh dua alasan. Pertama,  karena Kenisah atau Bait Allah tidak lagi menjadi rumah doa, melainkan telah menjadi sarang pencuri atau penyamun. Padahal, orang-orang Yahudi menganggap Bait Allah di Yerusalem sebagai tempat kudus sekaligus pusat kehidupan keagamaan mereka. Setiap tahun, selama Paskah, mereka pergi ke Bait Allah. Inilah perayaan untuk mengenangkan kembali peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir melalui tindakan penyelamatan Yahweh. Selama waktu ini, Bait Allah di Yerusalem biasanya dipadati para peziarah yang datang untuk memenuhi kewajiban mereka kepada Allah. Salah satu kewajiban itu adalah mempersembahkan korban hewan. Untuk itu, ada petugas pemeriksa yang akan memastikan bahwa hewan-hewan (sapi, kambing-domba, dan burung merpati) harus tanpa cacad, serta dalam kondisi dan kualitas terbaik. Tetapi, dengan alasan dan motif-motif tersembunyi, para petugas pemeriksa ini dengan mudah menolak hewan-hewan yang dibawa oleh para peziarah, sehingga orang-orang terpaksa membeli hewan-hewan yang dijual di Bait Allah dengan harga yang sangat mahal. Sistem ini mendapat persetujuan dari kalangan para Imam Besar. Sebagian besar orang-orang ini biasanya pulang tanpa bisa mempersembahkan korban karena mereka tidak memiliki cukup uang. Para penukar uang juga mendapat bagian mereka sendiri dalam ketidakadilan terhadap orang-orang kecil dan miskin. Uang sekuler dari luar Bait Allah dianggap tidak layak, najis atau kotor, dan karena itu tidak bisa dibawa ke dalam Bait Allah. Uang-uang itu harus ditukar dengan uang Bait Allah, tentu saja dengan nilai yang sangat rendah. Dengan demikian, jelas terjadi  ketidakadilan, pemerasan dan penindasan, terutama kepada orang-orang miskin. Hal inilah yang membuat Yesus sangat marah. Ritual di Bait Allah yang seharusnya sakral dan suci, telah dicemari dengan praktik-praktik komersial yang kotor. Bait Allah diubah menjadi tempat di mana keserakahan, korupsi, tipu daya, dan kecurangan terjadi (secara terstruktur, sistematis, dan massif).

Alasan kedua kemarahan Yesus adalah karena terjadi praktik-praktik diskriminatif di dalam Bait Allah. Dalam hal ini patut dicatat bahwa, Bait Allah di Yerusalem terbagi atas lima bagian: bagian pertama adalah pelataran bagi orang-orang asing, lalu pelataran bagi kaum wanita, kemudian pelataran bagi para pria, menyusul pelataran Imam-imam, dan akhirnya Ruang Kudus. Bagian terluar dan paling jauh dari Bait Allah adalah pelataran orang-orang asing. Hal ini berarti bahwa, Bait Allah tidak hanya untuk orang-orang Yahudi, tetapi juga untuk semua orang, termasuk orang-orang asing. Namun, justru di pelataran orang-orang asing inilah para pedagang melakukan bisnis dan semua transaksi curang mereka. Dengan demikian, pelataran ini sesungguhnya telah menjadi pasar ramai, dan bukan lagi bagian sakral dari Rumah Allah. Mereka yang datang ke tempat ini untuk berdoa, jelas tidak dapat melakukannya secara efektif, bahkan praktis dihalangi untuk beribadah secara layak di Kenisah Allah.

Menyaksikan semua praktik manipulasi, kecurangan, dan diskriminasi yang menajiskan Rumah Tuhan ini, Yesus menjadi marah dan mengusir para pedagang yang menjual hewan korban di pelataran Kenisah, serta menjungkirbalikkan meja para penukar uang. Dengan tindakan-Nya yang keras ini, Yesus mau membersihkan Kenisah sebagai Ruang Doa umat; tetapi lebih dari itu, Yesus sekaligus juga mau membersihkan Ruang Batin manusia dari keserakahan dan kejahatan yang sering terjadi juga justru di lingkungan Kenisah.

Selanjutnya, untuk mempertanggungjawabkan otoritas atau kewenangan-Nya ini, Yesus berkata: “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tempo tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”. Yang dimaksudkan Yesus dengan Bait Allah di sini ialah “Tubuh-Nya sendiri”. Dengan ini semakin jelas pula bahwa Yesus tidak sekadar “membersihkan” Kenisah Allah, melainkan lebih dari itu, Ia sekaligus “menggantikan” Kenisah itu sendiri. Janji Yesus akan Kenisah yang baru menunjukkan bahwa kemuliaan Allah akan dinyatakan, bukan lagi dalam sebuah bangunan fisik, melainkan dalam diri “Seseorang”.  Pada akhir abad pertama Masehi, setiap kali orang Kristen mendengar kata Kenisah, mereka tidak lagi memikirkan bangunan fisik yang terbuat dari batu, pasir, dan semen, yang awalnya dibangun oleh Salomo dan kemudian diperbaiki oleh Herodes, tetapi mengenai Yesus yang telah bangkit. Dia yang bangkit itu telah menggantikan sekaligus melampaui segala sesuatu yang sebelumnya disimbolkan oleh Kenisah Yerusalem. Melalui tindakan kenabian-Nya di Kenisah, Yesus menjelaskan bahwa Allah yang memberikan Hukum di Sinai, tidak dapat dibeli dengan korban atau pun suap. Yesus-lah Kenisah, di dalamnya para pengikut-Nya berhubungan dengan Allah. Dengan demikian, Iman Kristen berpusat pada Pribadi, dan kita berurusan dengan suatu relasi atau hubungan. Bahkan dalam Suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menegaskan, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah, dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? … Sebab Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu adalah kamu” (1Kor 3: 16-17). Dengan ini, kita juga diberitahu bahwa Kenisah Allah yang sejati tidak dibangun dari batu dan semen, melainkan dari Umat beriman yang dihimpun di sekeliling Yesus. Yesus Kristus-lah Kepala segenap Rumah Allah, dan kita-lah Rumah Allah itu (Bdk. Ibr 3:6). Karena itu, ungkapan: “Cinta akan rumah-Mu menghanguskan Aku”, memiliki arti rohani yang lebih dalam yakni: “Cinta akan umat-Mu menghanguskan Aku”. Karena itulah Yesus rela mengurbankan nyawa di Salib untuk menguduskan dan menyelamatkan kita orang berdosa. Salib Yesus jalan keselamatan kita.

Sesungguhnya Gereja kita bersifat universal. Hal ini merujuk pada kehendak Tuhan agar semua orang dapat diselamatkan. Dia-lah Allah bagi semua orang, milik semua orang, dan bukan hanya milik kelompok, suku, golongan, atau agama tertentu. Karena itu juga, segala bentuk diskriminasi tidak memiliki tempat dalam hidup seorang Kristen sejati, yang sungguh-sungguh mengikuti satu perintah cinta, yakni cinta kepada Allah, kepada sesama, dan bahkan kepada lawan dan musuh sekalipun. Bertolak dari perintah cinta-kasih ini, Yesus Kristus juga tidak hanya mengajak, tetapi sekaligus mendesak para pengikutNya untuk menjauhi praktik-praktik ketidakadilan, manipulasi, pemerasan, dan penindasan terhadap sesama yang miskin, lemah, dan tak berdaya.

Selain itu, Injil pada hari Minggu ini juga dengan tegas mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga, merawat, dan memelihara tubuh kita sebagai Bait Suci Roh Kudus, sesuai dengan ajaran Santo Paulus. Setiap tindakan yang merugikan tubuh kita, seperti kebiasaan buruk, penyalahgunaan tubuh, dan praktik-praktik terlarang lainnya, sesungguhnya  merupakan dosa berat. Jika kita dapat merawat bangunan fisik gereja dengan baik, maka lebih lebih dari itu, kita juga diharapkan merawat tubuh fisik dan diri kita sendiri yang adalah Bait Suci Roh Kudus.

Akhirnya, setiap kali kita berkumpul di dalam Rumah Tuhan  untuk  menyatakan sembah-bakti kita kepadaNya, hendaklah kita terlebih dahulu memurnikan hati-batin kita dari segala bentuk pamrih dan motif-motif  egois lainnya. Semoga hati kita sungguh-sungguh menjadi tempat tinggal yang layak bagi Allah,  dan semoga segala ibadah serta sembah-bakti kita menjadi semakin autentik,  ketika kita berusaha memperdalam relasi cinta kita dengan Allah melalui cinta dan perhatian kita satu sama lain. Mudah-mudahan. Tuhan memberkati….Amin!!!

Leave a comment