Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

DERITA DAN KEMULIAAN : SEBUAH DIALEKTIKA KEHIDUPAN

(Kej 22:1-2.9a.10-13,15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10). Hari Minggu Prapaskah II/Th.B.

0 88

Bacaan-bacaan suci pada hari Minggu Prapaskah Kedua ini menyoroti identitas Yesus sebagai Anak terkasih Allah (sebagaimana terungkap pada saat PembaptisanNya di sungai Yordan dan peristiwa mulia Transfigurasi-Nya di puncak gunung), yang sekaligus diperhadapkan dengan misteri kematian-Nya di atas salib. Karena itu, bacaan-bacaan suci hari ini bertujuan mengajak sekaligus menantang kita untuk menempatkan Iman kita dalam janji-janji Allah yang penuh belas kasihan, yang rela mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita demi mengubah hidup kita. Hidup yang telah diubah ini memungkinkan kita untuk memancarkan kemuliaan dan rahmat Transfigurasi Tuhan kita Yesus Kristus di sekitar kita, melalui kehidupan kita yang dipenuhi oleh  Roh Kudus.

Bacaan pertama menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan nyawa Ishak, anak Abraham, sebagai hadiah untuk Iman Abraham. Karena Iman ini, Tuhan memperbarui janji-Nya kepada Abraham untuk berkat tanah dan keturunan. Hubungan cerita ini dengan bacaan Injil menekankan kasih Allah yang tak terbatas, sebagaimana terlihat dalam korban tebusan Anak-Nya sendiri untuk keselamatan dunia. Jika misteri pengorbanan yang diminta dari Ishak, anak terkasih Abraham itu sulit dipahami, maka misteri kematian Yesus sebagai Anak terkasih Allah, jauh lebih menantang. Itulah sebabnya mengapa dalam bacaan kedua, Paulus mengingatkan kita bahwa ketimbang berusaha menyelamatkan nyawa AnakNya sendiri, Allah Bapa justru merelakan kematian Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Paulus menafsirkan kehendak Allah untuk mengorbankan nyawa Anak-Nya ini sebagai bukti kasih-Nya yang besar kepada umat manusia, dan sebagai jaminan bahwa Allah akan selalu melindungi dan menyelamatkan kita.

Kisah tentang Transfigurasi Yesus sebagai sebuah peristiwa Teofani atau manifestasi keAllahan dalam Injil hari ini (Mrk 9:2-10), menampilkan sosok mulia Yesus, yang jauh lebih unggul dari Musa  dan Elia. Oleh Suara Surgawi, Yesus diidentifikasi sebagai Anak Allah. Dengan demikian, narasi transfigurasi sekaligus adalah sebuah Kristofani, yaitu manifestasi atau pewahyuan tentang siapa sesungguhnya Yesus itu. Lebih dari Musa dan Elia sebagai representasi Hukum dan para Nabi, Yesus adalah puncak yang menggenapi sekaligus mengatasi Hukum serta para Nabi itu. Mengenai teofani, dikisahkan bahwa Musa memang pernah bertemu dengan Tuhan dalam semak yang terbakar di gunung Horeb (Kel 3:1-4). Setelah mengalami Tuhan, wajah Musa bersinar begitu terang sehingga orang-orang ketakutan, dan Musa harus menutup wajahnya dengan kain tudung (Kel 34:29-35). Kaum Yahudi percaya bahwa setelah kematiannya, Tuhan mengubur Musa di tempat yang tidak diketahui (Ul 34: 5-6). Sedangkan tentang Elia, dikisahkan bahwa ia melakukan perjalanan selama empat puluh hari ke gunung Horeb dengan kekuatan makanan yang dibawa oleh Malaikat (1 Raj 19:8). Di gunung Horeb, Elia menutup wajahnya dengan jubahnya dan berdiri di pintu masuk, saat Tuhan datang dan berbicara langsung dengan dia (1 Raj 19:9-18). Akhirnya, Elia diangkat langsung ke Surga dalam kereta api tanpa mengalami kematian (2 Raj 2:11-15). Di sini, jelas terlihat bahwa, meskipun Allah menyelamatkan Elia dari proses kematian biasa, dan Musa dari penguburan biasa, Dia tidak menyelamatkan Anak-Nya dari penderitaan dan kematian.

Peristiwa mulia transfigurasi di puncak gunung di mana terjadi perubahan wajah Yesus menjadi begitu mulia, merupakan momen puncak dan istimewa  bagi  ketiga murid Yesus (Petrus, Yakobus, Yohanes) untuk semakin menyadari  “siapa sesungguhnya Yesus dan apa sebenarnya misi  yang  sedang diembanNya”. Bahwasanya, Yesus adalah  Mesias, Tuhan, sekaligus Putera Allah, yang akan bangkit mulia pada peristiwa Paskah. Itu berarti bahwa, untuk sampai kepada puncak kemuliaan itu, Yesus terlebih dahulu harus menempuh jalan salib. Itulah wujud  ketaatan dan komitmenNya yang total terhadap misi penyelamatanNya  bagi segenap bangsa manusia, yang sekaligus direstui Allah BapaNya. Karena itu juga, kehadiran Musa dan Elia, dua figur terkenal yang mewakili segenap komunitas beriman Perjanjian Lama dalam peristiwa mulia itu, merupakan bentuk dukungan penuh bagi Yesus untuk melanjutkan perjuanganNya, menapaki via dolorosa (jalan sengsara) menuju puncak Golgota. Sementara itu, suara dari langit yang berseru, “Inilah Putera kesayanganKu, dengarkanlah Dia!”, merupakan ungkapan pengakuan Bapa terhadap Yesus PuteraNya, sekaligus restu Bapa bagi AnakNya untuk terus melanjutkan perjuanganNya hingga akhir. Karena itu bagi Yesus, peristiwa mulia di puncak gunung ini sekaligus merupakan sumber kekuatan bagiNya untuk menyelesaikan Jalan Salib yang sedang ditapakiNya. Dengan bekal kekuatan ini, Yesus berani turun kembali dari gunung kemuliaan, melangkahkan kaki ke Yerusalem, menyongsong derita demi derita, hingga berpuncak pada Kalvari. Komitmen Yesus ini sekaligus menantang Petrus dan kawan-kawannya yang, nampaknya enggan turun kembali dari gunung kemuliaan, untuk menghadapi realitas hidup yang keras-menantang, apalagi untuk memanggul salib bersama Yesus, sang Guru.

Sesungguhnya peristiwa mulia gunung Tabor yang sempat disaksikan ketiga murid Yesus, bukanlah hal yang sama sekali asing dan di luar pengalaman hidup spiritual dan insani kita. Ada saat-saat tertentu dalam hidup, ketika kita juga, sebagaimana ketiga murid Yesus dahulu,  mengalami momen-momen puncak bersama Yesus lewat pengalaman-pengalaman rohani yang demikian intens, entah lewat doa,  meditasi, rekoleksi atau pun ret-ret; lewat ibadat atau perayaan ekaristi bersama. Bahkan juga melalui pengalaman-pengalaman lain yang sangat profan, seperti saat-saat liburan ke rumah atau kampung halaman untuk berjumpa dan tinggal bersama dengan segenap keluarga dan orang-orang yang kita cintai; atau saat rekreasi ke pantai atau puncak gunung, dan lain-lain. Pengalaman-pengalaman itu sering begitu dalam dan sarat rahmat, di mana kita merasakan kelegaan, kedamaian, ketenteraman, penghiburan dan sukacita yang meluap-luap. Apalagi di tengah-tengah kesesakan hidup akibat berbagai krisis yang terus melanda dan menerpa, rasanya semua kenangan serta nostalgia indah itu dapat menjadi obat pelipur lara. Namun bahayanya, jika momen-momen puncak seperti itu  membuat kita sedemikian terlena dan melupakan segala realitas hidup yang keras, penuh tantangan dan kesulitan. Lebih parah lagi jika kita sendiri  tergoda untuk melarikan diri dari penderitaan dan tantangan hidup itu.

Jika hal seperti ini yang terjadi maka bagi kita, agama dan segala bentuk perayaan ritualnya bukan lagi merupakan sumber kekuatan spiritual yang membebaskan dan meneguhkan, melainkan lebih sebagai ilusi, candu atau opium, sebagaimana pernah dilansir oleh psikolog kenamaan Sigmund Freud, Karl Marx, dan beberapa filsuf lainnya. Tuhan lalu dianggap sebagai sebuah ilusi, hiburan semu, tempat pelarian orang-orang lemah yang kalah dalam persaingan dan perjuangan hidup yang keras, yang tergilas oleh roda-roda pembangunan atau yang takut menghadapi realitas kehidupan yang keras.

Perlu disadari, bahwa agama-agama pada umumnya, juga agama Kristen pada khususnya, tidak pernah menjanjikan dan menawarkan jalan atau cara yang mudah dan gampang-gampangan kepada para penganutnya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati. Gereja sendiri tidak pernah menghibur umatNya dengan slogan-slogan murahan seperti: “Jangan cemas, segala krisis hidup pasti akan berlalu dengan sendirinya”, dan karena itu kita tak perlu susah-payah berjuang memerangi aneka krisis moral yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, diskriminasi, penindasan, dan seterusnya.  Sebaliknya, Gereja secara terang-terangan mengajarkan bahwa, “Tiada kesuksesan tanpa perjuangan; tiada kebahagiaan sejati tanpa penderitaan dan salib”. Bahwasanya kemuliaan-kebangkitan tidak mungkin lepas dari rangkaian derita, sengsara, dan kematian. Itulah harga termahal yang harus dibayar Yesus lewat perjuanganNya yang gigih dan pantang mundur, yang berpuncak pada pengalaman tragis di ujung kehidupanNya sebagai manusia. Karena itu pula, sebagai orang-orang beriman, apalagi sebagai pengikut-pengikut Kristus, segala pengalaman hidup kita saban hari, entah itu pengalaman rohani bersama Yesus maupun pengalaman insani dan profan lainnya yang sungguh mendalam, seharusnya semakin menguatkan hati kita, meneguhkan pengharapan serta mendorong semangat juang kita untuk tetap tegar menghadapi segala tantangan, kesukaran dan kesulitan hidup. Setelah mengalami momen puncak bersama Yesus di gunung Tabor, hendaknya kita berani kembali kepada situasi hidup kita yang nyata, bergumul dengan aneka kesulitan hidup dan berusaha untuk mengatasi dan memenangkan perjuangan hidup ini. Hanya dengan cara itu, kita dapat memenuhi tuntutan Yesus: “Barangsiapa ingin mengikuti Aku, harus berani menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku!” Semoga, dengan bekal semangat kesetiaan pada salib itu kita sanggup mengalahkan segala tantangan, kesulitan dan penderitaan hidup, demi terwujudnya kebahagiaan, sukacita, dan kemuliaan sejati. Amin!

Leave a comment