Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

DALAM HARMONI DAN DAMAI

(Ayb 7:1-4.6-7; 1 Kor 9:16-19.22-23; Mrk 1:29-39) Hari Minggu Biasa V/B

0 42

Alkisah, ada seorang pasien menemui seorang dokter untuk berkonsultasi tentang penyakitnya. Kebetulan pasien itu seorang lelaki kaya-raya yang agak terganggu kondisi kejiwaannya. Dokter pun menyambutnya dengan sapaan ramah, “Selamat pagi tuan, bagaimana kabar anda….Apa masalah yang anda alami?” Menanggapi pertanyaan dokter itu, si pasien pun berkata sinis, “Anda kan seorang dokter. Masakan anda yang bertanya kepada saya. Terserah apa dugaan, anggapan, dan pendapat anda tentang kondisi saya!” Mendengar jawaban sinis yang tak terduga itu, dokter pun kaget sekaligus sebal. Sejurus kemudian, dokter pun berkata kepada pasiennya, “Baiklah, tunggu sebentar! Saya akan memanggil seorang dokter hewan untuk anda. Dia-lah satu-satunya dokter yang bisa membuat diagnosa tanpa bertanya”.

Ketika menonton televisi, misalnya, kita dapat melihat sekian banyak tayangan tentang iklan obat-obatan dan juga metode healing yang menjanjikan kesembuhan instan bagi para pasien, tanpa perlu diagnosa dan advice dokter. Begitu mempesonanya iklan-iklan itu, sehingga banyak pasien yang membeli dan mengkonsumsi obat-obat serta mempraktekkan metode-metode penyembuhan yang ditawarkan. Dan menurut pengakuan mereka, ternyata semuanya itu mampu menyembuhkan untuk sesaat rasa sakit, stres, depresi, susah tidur, dan berbagai gangguan kejiwaan lainnya, akibat berbagai krisis hidup yang dialami. Anehnya,  jumlah pasien bukannya semakin berkurang, tetapi justru sebaliknya semakin bertambah. Akar dari semua fenomen ini tentu saja berkaitan dengan aneka krisis yang dialami manusia modern, entah itu krisis ekonomi, krisis kepercayaan (terhadap para petugas medis), dan yang terutama adalah krisis “keseimbangan” dalam hidup.

Kondisi yang kurang-lebih sama, juga pernah dialami Ayub, seorang tokoh legendaris Perjanjian Lama, sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama hari ini. Dia berkata: “…Demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur maka pikirku: ‘Bilakah aku akan bangun?’ Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh kegelisahan sampai pagi” (Ayub 7:3-4). Namun, berbeda dengan manusia pada umumnya, Ayub adalah seorang yang sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Meskipun menghadapi krisis teramat berat berupa godaan Iblis yang mencoba merusak imannya, antara lain dengan cara mengambil semua berkat yang telah diterimanya dari Tuhan, serta meletakkan segala penderitaan dan kemalangan ke atas pundaknya,  Ayub toh tetap percaya kepada Allah. Dan karena kepercayaan serta keakrabannya yang intim dengan Allah yang dibangunnya dalam sikap hening dan kontemplatif inilah, kondisi Ayub akhirnya dipulihkan kembali oleh Allah sendiri.

Inilah sikap kepercayaan dan keseimbangan yang ditunjukkan Ayub yang, selanjutnya  didemonstrasikan secara paripurna oleh Yesus dalam hidupNya. Dari kutipan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), kita dapat melihat betapa sibuknya Yesus dalam menunaikan pelayanan publikNya. Ia pergi dari satu tempat ke tempat lain di seluruh Galilea, mengajar dalam sinagoga-sinagoga, menemui orang-orang sakit dan yang kerasukan setan, serta  menyembuhkan mereka.  (Bisa dibandingkan dengan kesibukan para politisi selama masa kampanye jelang Pemilu). Sedemikian sibuknya Yesus, sehingga untuk makan pun, Dia tidak punya waktu. Itulah sebabnya, mengapa bahkan kaum kerabatnya sendiri berkata, “Dia tidak waras lagi” (Bdk. Mrk 3:31).  Berdasarkan kenyataan ini dan, bertolak dari pengalaman serta standar kita, dapat diduga bahwa Yesus pasti saja mengalami stres bahkan depresi dalam hidupnya. Namun, nyatanya tidak. Dia selalu mengalami kedamaian. Rahasianya ialah karena Yesus tetap menjaga keseimbangan dalam hidupNya: antara kesibukan dan keheningan, antara aktivitas dan kontemplasi, antara kerja dan doa (Bdk. Mrk 1:35). Persekutuan intim Yesus dengan Allah BapaNya memberiNya kekuatan, inspirasi, sukacita, dan damai; membuatNya tetap fokus dan bersemangat dalam misi-Nya memenuhi kehendak Bapa.

“Damai” merupakan kenyataan yang sangat berharga, namun sulit digapai manusia  sejak dulu hingga kini. Kitab Suci menggunakan kata shalom untuk menggambarkan keadaan damai itu. Shalom bukanlah sekadar kondisi tiadanya konflik atau perang,  melainkan juga menyiratkan keadaan harmoni, keseimbangan, kesatuan, dan keutuhan. Shalom berarti berada dalam kedamaian dan satu kesatuan. Ia adalah anugerah Tuhan bagi kita.

Dewasa ini, banyak orang mengalami kegelisahan, kepanikan, ketakutan,  stres bahkan depresi, karena ada semacam keterbelahan, keterpecahan, atau ketidakutuhan dalam dirinya sendiri. Singkatnya, ada konflik di dalam diri manusia. Konflik batin yang senantiasa membuat manusia gelisah inilah yang digambarkan Santo Paulus sebagai “hukum dosa yang tinggal di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rom 7:23). Akibatnya, “Bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak kukehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (Rom 7:19). Ketika kita berada dalam dosa, kita merasa gelisah. Kita kehilangan kedamaian karena kita menjadi terbagi di dalam diri kita. Tetapi ketika kita berpaling dari dosa dan mematuhi kehendak Allah, kita mendapatkan kedamaian karena ada harmoni, keseimbangan, dan keutuhan di dalam diri kita. Itulah sebabnya, mengapa Yesus mengajarkan kita dalam Sabda Bahagia:  “Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah!” (Mat 5:8). Murni hati atau tulus hati berarti menjadi utuh. Dan ketika hal ini terjadi, dengan jelas kita akan merasakan kehadiran Allah dalam diri kita. Sesungguhnya, kedamaian adalah kehadiran Allah.

Uskup Agung, Fulton Sheen, mengatakan sesuatu tentang mengapa orang merasakan kekosongan dan kegelisahan dalam hidupnya. Dia mengatakan bahwa Allah mendesain hati manusia dengan bentuk hati valentine (yang biasa dirayakan pada 14 Februari). Tetapi Allah memutuskan untuk membaginya menjadi dua. Dia membawa separuh hati ini bersama-Nya ke surga, dan separuh yang lain ditempatkanNya di dalam dada manusia. Karena itu, selama manusia berada di dunia ini, selalu saja ada perasaan mengenai sesuatu yang kurang di dalam dirinya, yang tidak dapat sepenuhnya dimengerti. Kedamaian total dan kehidupan yang penuh hanya akan dicapai ketika kita bersatu dengan Allah. Itulah sebabnya Yesus bersabda: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Anak Allah menjadi manusia seperti kita, turun ke dunia ini untuk memungkinkan kita bersatu dengan Allah dan memiliki kehidupan yang penuh.

Ada lagu terkenal dari Frank Sinatra (penyanyi, aktor, dan produser rekaman AS abad ke-20) yang berjudul I Left My Heart in San Francisco. Pada saat-saat ketika kita stres dan merasa sangat lelah dan hampa, kita mungkin juga ingat lagu ini dan mengatakan: “Aku Meninggalkan Hatiku di Surga”. Sebagai anak-anak terkasih Allah, kita adalah milik surga. Di dunia ini, kita merindukan surga karena itulah tempat hati kita akan menjadi utuh. Selagi masih di dunia ini, kita akan selalu merasa cemas, gelisah, dan stres, karena ada sesuatu yang kurang dalam diri kita. Santo Agustinus juga memiliki pengalaman dan pengakuan yang sama: “Hatiku gelisah, sampai ia beristirahat pada-Mu, ya Tuhan!”

Gambar terbaik yang dapat kita miliki tentang diri kita adalah seorang anak laki-laki yang berjalan di ladang bersama ayahnya. Sepanjang perjalanan, anak itu memegang tangan ayahnya, dan dengan tangan lainnya ia mengambil batu, atau memetik kuntum bunga, atau mencoba menangkap kupu-kupu yang lewat. Matanya terus memandang ke seluruh ladang yang luas, dan kakinya terkadang bergerak ke arah yang berbeda. Tetapi ia tidak pernah melepaskan satu tangan yang memegang ayahnya. Ketika kita berjalan di ladang luas yang kita sebut dunia ini, kita menghadapi berbagai godaan, arah yang berbeda, dan pilihan-pilihan menarik. Tetapi hendaklah kita tidak pernah melepaskan tangan Bapa surgawi kita, meskipun hanya untuk sebentar saja. Itulah yang dilakukan Yesus. Terlepas dari seberapa sibuk dan lelahnya, Dia selalu meluangkan waktu untuk hening dan berdoa. Itulah cara-Nya untuk senantiasa bersatu dengan BapaNya.  Dengan itu, Dia menemukan kedamaian, inspirasi, arah, dan kekuatan tak terbatas untuk melanjutkan dan memenuhi misiNya.

Ketika kita mengalami stress dan merasa bahwa beban hidup terlalu berat, mungkin itulah pertanda bahwa kita sedang jauh dari Allah. Untuk itu, kita tidak perlu mencari obat-obatan atau metode-metode penyembuhan  apa pun yang sering ditawarkan dalam iklan-iklan. Yang perlu kita lakukan ialah, berhenti sejenak dan meluangkan waktu untuk bersama Allah dalam keheningan dan doa. Yesus selalu mengundang kita: “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, dan Aku akan memberikan kelegaan bagimu” (Mat 11:28)…. “Damai-Ku Kutinggalkan bagimu; damai-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27). Semoga damai dan kasih Allah senantiasa hadir, tinggal, dan menyertai kita, sekarang dan selalu….Amin!!!

 

Leave a comment