Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Laksanakan Rekoleksi Bulan Desember

Penfui, Mikhael News –  Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang, kembali menjadi saksi hening perjumpaan iman dan refleksi filosofis. Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui menyelenggarakan Rekoleksi Bulanan pada penghujung tahun, tepat saat Gereja memasuki Minggu Adven III (Minggu Gaudete). Kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan batin menyambut Natal dan melakukan evaluasi diri ini, berlangsung intensif sejak Sabtu petang (13/12/2025) hingga Minggu pagi (14/12/2025). Di bawah tema mendalam “Mengenal dan Mengakui Identitas Yesus,” rekoleksi kali ini dibawakan dengan apik oleh Romo Gabriel Agustinus Irenius Benu. Seluruh frater dan beberapa imam komunitas hadir, mengikuti sesi materi dan refleksi dengan keseriusan dan antusiasme tinggi.

Sesi materi Rekoleksi dimulai pada pukul 18.00 WITA. Romo Irenius Benu langsung membedah teks Injil Matius 11: 2-11, sebuah perikop yang dinilai “berat” karena menempatkan pertanyaan krusial Yohanes Pembaptis: “Kamukah yang harus datang, atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Dalam pemaparannya, Romo Irenius menyoroti identitas Yohanes Pembaptis sebagai Tokoh Transisi yang unik, “Yohanes Pembaptis berdiri dengan satu kaki tertanam kuat di Perjanjian Lama sebagai nabi terakhir pra-Kristen, dan satu kaki lain sudah menapak di Perjanjian Baru. Ia adalah penghubung. Namun, justru tokoh berprinsip ini yang bertanya. Mengapa?” Pertanyaan Yohanes bukanlah ekspresi putus asa atau keragu-raguan murni dari seorang narapidana, melainkan, menurut Romo Irenius, adalah ungkapan pengharapan dan ajakan yang segera.

Intisari yang ditekankan oleh Romo Irenius adalah bahwa pengenalan tentang Yesus bukanlah sebuah perdebatan intelektual yang berlarut-larut. Sebaliknya, melalui pertanyaan Yohanes yang disampaikan oleh murid-muridnya, Yesus mengajak setiap orang untuk melakukan “ke-segera-an” (sebuah istilah yang menunjuk pada kesiapan batin) untuk pergi dan datang langsung kepada-Nya.

“Kita sering diuji di saat kita paling yakin. Pertanyaan Yohanes adalah undangan bagi para muridnya, dan juga kita, para frater filsafat untuk tidak sekadar berdebat secara rasional, tetapi untuk melihat, mendengar, dan mengalami langsung karya Kristus,” tegasnya.

Materi yang dalam dan reflektif tersebut disajikan Romo Irenius dengan gaya khas: serius dalam substansi, namun diselingi humor satire yang memancing gelak tawa. Hal ini membuat para frater tetap antusias dan serius mencerna materi, terlepas dari kedalaman teologis dan filosofis yang disajikan. Romo Irenius juga menantang peserta dengan refleksi: “Mampukah kita tetap berpengharapan meski di dalam dunia yang rusak, di tengah kaburnya batas benar dan palsu, dan di dalam derasnya arus teknologi seperti AI?”

Analisis terhadap Matius 11 ditutup dengan penegasan Romo Irenius mengenai tiga hal yang dicari di padang gurun: buluh yang digoyangkan angin (tidak berpendirian), orang berpakaian halus (orang kerajaan), dan nabi. Ia menyimpulkan: Yohanes adalah nabi terhebat. Namun, yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripadanya, karena yang terkecil itu telah melihat salib Yesus, sebuah misteri keselamatan yang luput dari pandangan Yohanes.

Setelah sesi materi, seluruh frater memasuki masa refleksi pribadi hingga keesokan paginya, 14 Desember 2025. Proses permenungan ini diakhiri dengan Misa pagi, dan dilanjutkan dengan sesi Katekese/Sharing hasil refleksi pada pukul 09.00 -10.00 WITA, di mana para peserta saling berbagi pengalaman perjumpaan pribadi dengan Kristus.

Puncak dan penutup seluruh rangkaian rekoleksi ini adalah Adorasi Sakramen Mahakudus yang dimulai pukul 10.00 WITA di Kapela Seminari. Momen hening di hadapan Sakramen Mahakudus ini menegaskan kembali pesan utama Romo Irenius: bahwa pengenalan identitas Yesus pada akhirnya harus membawa setiap pribadi langsung kepada perjumpaan nyata dengan Eucharistia, sumber dan puncak kehidupan iman. Kegiatan ini tidak hanya menjadi penanda persiapan Natal yang mendalam, tetapi juga menjadi evaluasi reflektif yang relevan bagi para calon imam di akhir tahun pelayanan. 

(Laporan : Fr. Alex Jolong)