Siapakah Yang Sama Dengan Allah?

SANTA PERAWAN MARIA, BUNDA ALLAH

0 64

Dalam renungannya pada 1 Januari 2021, Paus Fransiskus mengatakan bahwa ada tiga kata kerja dalam bacaan-bacaan suci hari ini yang menemukan pemenuhannya dalam sosok Bunda Maria. Tiga kata kerja itu adalah: memberkati, dilahirkan, dan menemukan.

Pertama, “memberkati”. Dalam Kitab Bilangan, Tuhan memerintahkan para imam keturunan Harun untuk memberkati umat-Nya: “Beginilah kamu akan memberkati orang Israel: Katakanlah kepada mereka, ‘Tuhan memberkati engkau…'” (Bil 6:23-24). Ini bukanlah sembarang dorongan rohaniah, melainkan permintaan khusus. Karena itu, penting bagi para imam untuk terus-menerus memberkati Umat Allah, dan bahwa umat sendiri harus juga menjadi pembawa berkat; bahwa mereka memberkati. Tuhan tahu betapa kita sangat butuh untuk diberkati. Hal pertama yang dilakukanNya setelah menciptakan dunia adalah mengatakan bahwa segala sesuatu itu baik adanya (bene-dicere) dan mengatakan bahwa kita sunggguh sangat baik. Namun sekarang, dengan Anak Allah, kita tidak hanya menerima kata-kata berkat, tetapi berkat itu sendiri. Yesus sendiri adalah berkat dari Bapa. Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam Dia,  Bapa memberkati kita “dengan segala berkat” (Ef 1:3). Setiap kali kita membuka hati kita untuk Yesus, berkat Tuhan masuk ke dalam kehidupan kita.panske teplaky lego friends lego friends lego friends greensandseeds.com blutuszos mennyezeti lámpa jorgensenfarmsinc.com massage pistol bogner overal onlysxm.com panske teplaky blutuszos mennyezeti lámpa panske teplaky greensandseeds.com jorgensenfarmsinc.com onlysxm.com onlysxm.com

Hari ini kita merayakan Anak Allah yang “terberkati” secara kodrati, yang datang kepada kita melalui IbuNya yang “terberkati” oleh rahmat. Dengan cara ini, Maria membawa berkat Tuhan kepada kita. Di mana pun dia berada, Yesus datang kepada kita. Karena itu, kita seharusnya menyambutnya seperti Santa Elisabet yang, segera sesudah mengenali berkat itu, berseru: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!” (Lk 1:42). Kita mengulang kata-kata ini setiap kali kita mendaraskan doa Salam Maria. Dalam menyambut Maria, kita menerima sebuah berkat, tetapi kita juga belajar untuk memberkati. Bunda Maria mengajarkan kita bahwa berkat diterima untuk diberikan. Dia yang diberkati, menjadi berkat bagi semua orang yang dia temui: bagi Elisabet, bagi pasangan nikah baru di Kana, bagi para Rasul di Senakel atau Ruang Atas… Kita juga dipanggil untuk memberkati, untuk “berbicara baik” atas nama Allah. Dunia kita sangat tercemar oleh cara kita “berbicara” dan berpikir “buruk” tentang orang lain, tentang masyarakat, dan tentang diri sendiri. Berbicara buruk mengkorupsi dan membusuk, sedangkan memberkati mengembalikan kehidupan dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk memulai setiap hari dengan segar. Karena itu, hendaklah kita memohon kepada Bunda Maria untuk memperoleh rahmat agar dapat menjadi pembawa berkat Tuhan bagi orang lain, sebagaimana Dia memberkati kita.

Kedua: “dilahirkan”. Santo Paulus menunjukkan bahwa Anak Allah “lahir dari seorang perempuan” (Gal 4:4). Dalam beberapa kata ini, Paulus memberitahu kita sesuatu yang luar biasa, yakni bahwa Tuhan dilahirkan seperti kita. Ia tidak muncul sebagai orang dewasa, melainkan sebagai seorang anak, seorang bayi. Ia datang ke dunia bukan atas kemauanNya sendiri, melainkan dari seorang perempuan. Setelah sembilan bulan berada dalam rahim IbuNya, kemanusiaanNya pun dibentuk. Jantung Tuhan mulai berdetak di dalam diri Maria; Allah kehidupan menghirup oksigen dari dirinya. Sejak itu, Maria telah menyatukan kita dengan Allah, karena melalui dirinya, Allah mengikat diriNya pada daging kita, dan Ia tidak pernah meninggalkannya. Santo Fransiskus mengatakan bahwa Maria “menjadikan Tuhan yang Maha Agung sebagai saudara kita” (St. Bonaventura, Legenda Maior, 9, 3). Dia bukan hanya jembatan yang menghubungkan kita dengan Allah. Lebih dari itu, dialah jalan yang ditempuh Allah untuk mencapai kita, dan jalan yang harus kita tempuh untuk mencapaiNya. Melalui Maria, kita bertemu dengan Allah seperti yang diinginkanNya, yakni dalam kasih yang lembut, dalam keintiman, dalam daging. Yesus bukanlah ide abstrak; Dia sungguh nyata dan terinkarnasi; Dia “lahir dari seorang perempuan”, dan tumbuh dengan senyap. Wanita tahu tentang pertumbuhan yang senyap ini. Para pria, sebaliknya, cenderung bersifat abstrak dan ingin segalanya segera terjadi. Wanita bersifat konkret dan tahu cara merajut benang kehidupan dengan kesabaran yang hening. Betapa banyak wanita, betapa banyak ibu, yang melahirkan dan melahirkan kembali kehidupan, menawarkan dunia sebuah masa depan!

Kita ada di dunia ini bukan untuk mati, tetapi untuk memberikan kehidupan. Santa Perawan Maria mengajarkan kita bahwa langkah pertama dalam memberikan kehidupan kepada orang-orang di sekitar kita adalah menghargainya di dalam diri kita sendiri. Injil hari ini memberitahu kita bahwa Maria “menyimpan semua hal ini dalam hatinya” (bdk. Luk 2:19). Dan sesungguhnya kebaikan itu berasal dari dalam hati. Karena itu, betapa pentingnya menjaga hati kita tetap murni, merawat kehidupan batiniah kita, dan bertekun dalam doa kita! Betapa pentingnya mendidik hati kita untuk peduli, untuk menghargai orang-orang dan hal-hal di sekitar kita. Segala sesuatu dimulai dari hal ini, yakni: dengan menghargai orang lain, dunia, dan ciptaan. Apa gunanya mengetahui banyak orang dan hal-hal jika kita gagal untuk menghargainya? Tahun ini, sembari kita berharap untuk awal baru dan penyembuhan baru, janganlah abaikan perawatan. Tahun ini akan menjadi tahun yang baik jika kita peduli terhadap orang lain, sebagaimana Santa Perawan Maria Bunda Allah peduli terhadap kita.

Ketiga: “menemukan”. Injil memberitahu kita bahwa para gembala “menemukan Maria dan Yosef serta sang Bayi” (Luk 2: 16). Mereka tidak menemukan tanda-tanda ajaib dan spektakuler, tetapi sebuah keluarga sederhana. Namun di sana, mereka benar-benar menemukan Allah yang memiliki keagungan dalam kekecilan, kekuatan dalam kelembutan. Akan tetapi, bagaimana caranya para gembala dapat menemukan tanda yang tidak mencolok ini? Mereka dipanggil oleh seorang malaikat. Kita juga tidak akan pernah menemukan Allah jika tidak dipanggil oleh rahmat. Kita tidak akan pernah bisa membayangkan Allah seperti itu, yang dilahirkan dari seorang perempuan, yang merevolusi sejarah dengan kasih sayang yang lembut. Namun, melalui rahmat, kita menemukanNya. Dan kita menemukan bahwa pengampunan-Nya membawa kelahiran baru, penghiburan-Nya menyalakan harapan, dan kehadiran-Nya memberikan sukacita yang tak terbendung. Kita menemukanNya, tetapi kita tidak boleh kehilangan pandangan pada-Nya. Memang, Tuhan tidak pernah ditemukan satu kali untuk selamanya. Setiap hari kita harus menemukanNya kembali. Dengan demikian, Injil menggambarkan para gembala sebagai orang-orang yang selalu waspada, selalu bergerak: “mereka bergegas pergi, mereka menemukan, mereka memberitahukan, mereka kembali, memuliakan, dan memuji Allah” (Bdk. Luk 2:16-17.20). Mereka tidak pasif, karena untuk menerima rahmat, orang harus aktif.

Selanjutnya, bagaimana dengan kita sendiri? Kita dipanggil untuk menemukan apa pada awal tahun yang baru ini? Syukurlah, bahwa kita dipanggil untuk menemukan “waktu” bagi orang lain. Waktu adalah harta yang kita semua miliki, namun kita menjaganya dengan rasa cemburu, karena kita ingin menggunakannya hanya untuk diri kita sendiri. Baiklah kita memohon rahmat untuk menemukan waktu bagi Allah dan sesama kita: bagi mereka yang sendirian atau menderita, bagi mereka yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan menunjukkan perhatian kepada mereka. Jika kita bisa menemukan waktu untuk memberi, kita akan terkesima dan penuh sukacita, seperti para gembala. Semoga Santa Perawan Maria, yang membawa Allah ke dalam dunia waktu, membantu kita untuk menjadi murah hati dengan waktu kita. Santa Maria Bunda Allah, kepada-Mu kami abdikan Tahun Baru ini. Engkau yang tahu bagaimana merawat segala sesuatu dalam hati-mu, jagalah kami, berkatilah waktu kami, dan ajarlah kami untuk menemukan waktu bagi Allah dan bagi orang lain. Dengan sukacita dan keyakinan, kami berseru: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami selalu!”….Amin.

Leave a comment