Seksi Musik Liturgi Seminari Tinggi St. Mikhael Gelar Bincang-Bincang Musik Liturgi

Penfui_Mikhael News – Pengurus Seksi Musik Liturgi Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui menggelar bincang-bincang musik liturgi pada Selasa (09/12/2025), bertempat di Aula Unit Ibrani. Kegiatan ini merupakan hasil diskusi-diskusi ringan yang dilakukan oleh pengurus Musk Liturgi bersama Romo Iren Benu. Sasaran dari kegiatan ini adalah para frater Tingkat IV juga para pemusik liturgi, cantores, serta dirigen dari Tingkat I-V. Tujuannya sangat sederhana dan praktis yakni sebagai bekal bagi para frater tingkat IV yang akan melanjutkan perjalanan panggilannya di masa Tahun Oreintasi Pastoral (TOP) dan untuk meluruskan pemahaman para pemusik, cantores dan  dirigen dalam hal musik dan nyanyian-nyanyian liturgis. Kegiatan ini pula diadakan sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan-kebutuhan para Frater yang kemudian hari akan beraksi secara langsung di tengah-tengah umat sebagai pelayan liturgi sekaligus pemimpin perayaan liturgi itu sendiri.

Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WITA, dimoderatori oleh Frater Rony yang juga adalah ketua seksi musik liturgi. Sedangkan pamaterinya adalah Romo Patrisius Neonnub dan Romo Gabriel Agustinus Irenius Benu. Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yakni diawali dengan pemaparan materi oleh kedua imam dan dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab di mana para audiens diberikan  kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kiranya dapat didiskusikan.

Dalam pemaparannya, Romo Irenius Benu menegaskan bahwa “nyanyian liturgis merupakan ekspresi paling tinggi dan intens dalam berdoa.” Pernyataan ini menegaskan bahwa musik liturgi seyogyanya merupakan bagian dari  ekspresi keindahan yang dibentuk dari harmoni nada-nada agar doa semakin menarik. Oleh karena itu, nyanyian liturgi tidak bisa dinyanyikan secara suka-suka sebab memiliki asas dan prinsip serta ketentuan-ketentuan objektif  yang selaras dengan ajaran Gereja. Prinsipnya menyanyikan apa yang perlu dinyanyikan dan menjadi sebuah sarana bukan tujuan dalam berliturgi. Pada hakekatnya Musik Liturgi bukanlah hiburan. Musik Liturgi adalah doa yang bersumber dari sabda, ritus dan tradisi Gereja.

“Liturgi itu karya Bersama jadi harus ada partisipasi aktif dari seluruh umat. Prinsipnya ialah memberi jiwa,” tambah Rm. Irenius Benu.

Beliau pun merekomendasikan buku Musica Sacra dan dokumen Sacrosanctum Concillium sebagai bahan bacaan bagi para Frater untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan dalam bermusik liturgi.

Sementara itu, Rm. Patrisius Neonnub memberikan penjelasan yang lebih praktis. Beliau menekankan bahwa musik liturgi merupakan doa yang dinyanyikan dan iman yang dihidupi. Oleh karena itu, perlu diperhatikan alunan-alunan musik yang mengiringi dan dirigen agar tidak terkesan sedang konser. Keduannya adalah petugas liturgi dan pelayan misteri bukan artis. Tugasnya adalah mengiringi dan mengangkat hati umat.

Pemaparan materi oleh Romo Iren dan Romo Patris menggugah minat para frater, yang kemudian mengajukan berbagai pertanyaan untuk memperkaya pemahaman mereka sekaligus sebagai bekal mereka terjun ke tengah umat. Melalui kegiatan ini, para frater memperoleh pemahaman liturgi yang selaras dengan prinsip dan ajaran Gereja.

Pada akhir kegiatan, Rm. Patrisius Neonnub berpesan kepada para frater agar mereka dapat menjadi pelayan yang baik di tengah umat terutama dalam hal-hal praktis berliturgi. Kegiatan ini pula diharapkan menjadi bekal bagi perjalanan panggilan para frater terutama ketika sedang dalam pelayanan pastoral. Sebagai pelayan yang baik, para frater hendaknya menjadi pembimbing dalam berliturgi, bukan mengikuti arus tetapi membimbing selera umat untuk selaras dengan kriteria, prinsip dan ajaran Gereja.

(Laporan: Frater Natalino Seran)