Perwujudan Cinta Erich Fromm Dalam Pembinaan Calon Imam

Hakekat Pembinaan Calon Imam

Pembinaan calon imam senantiasa berpedomankan pada suatu nilai kebenaran yang sesungguhnya. Calon imam dibina, dididik, diproses dan dibentuk pribadinya berdasarkan suatu kenyataan yang sesungguhnya bersumber dari Yesus Kristus yang adalah pemrakarsa panggilan pertama. Kenyataan teologis ini terus menjadi warna kehidupan Gereja itu sendiri, hal mana Gereja dari abad ke abad selalu memelihara benih-benih panggilan imam dengan menimbah ilhamnya dari teladan Kristus.[11]

Kristus sendiri telah memanggil dan memilih para Rasul untuk melanjutkan misi penyelamatan dunia. Setelah memanggil para Rasul, Yesus masih meminta mereka untuk meluangkan waktu bagi pembinaan. Selain itu, pembinaan tersebut dimaksudkan agar mereka boleh menjalin keakraban dengan Yesus yang telah memanggil dan memilih mereka.Yesus melihat betapa pentingnya pembinaan demi masa depan Gereja. Inilah yang kiranya menjadi titik pijak kebenaran sesungguhnya dari proses pembinaan calon imam itu sendiri.

Untuk itu, sebelum menjadi pewarta dan pelanjut karya keselamatan, maka calon imam perlu mendapat pembinaan dan pembentukan pribadi untuk mengenal dan mematangkan tujuan jalan panggilannya dan mengakrabi Yesus Kristus yang telah memanggilnya. Pembinaan itu meliputi pembinaan kepribadian, kerohanian, intelektual dan pastoral.

Implikasi Cinta Erich Fromm Dalam Pembinaan Calon Imam

Cinta Sesama. Hal pertama yang harus dimiliki calon imam adalah prinsip bahwa mencintai sesama berarti menjadi sahabat dan saudara bagi orang lain.[12] Implikasinya dalam aspek kepribadian, calon imam yang sadar akan bakat dan talenta serta kelemahan dan kekuatan, dapat mengembangkan dan memperbaikinya dengan cara melihat dan belajar bersama orang lain. Dalam aspek kerohanian, calon imam mengembangkan kehidupan rohaninya dengan terlibat secara sadar dan aktif dalam kegiatan rohani bersama. Hal itu terwujud dalam kegiatan rohani seperti Perayaan Ekaristi, Salve, doa Rosario, rekoleksi dan sebagainya. Selain itu, calon imam pun dapat mengembangkannya lewat bimbingan rohani secara pribadi dengan pembina rohaninya. Dalam aspek intelektual, bersama orang lain, calon imam dapat mengembangkan pengetahuannya baik dalam bidang filsafat, teologi dan ilmu pengetahuan lain. Hal itu terwujud dalam diskusi bersama pembina, anggota komunitas lain serta sesama lainnya, belajar kelompok dan juga menanyakan serta mencari hal-hal yang tidak dipahami kepada orang lain. Berkaitan dengan aspek pastoral, calon imam membangun persahabatan dan persaudaraan dengan semua umat tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Kecintaannya terhadap sesama diwujudkan lewat bekerja sama dengan umat dalam melakukan sesuatu yang bertujuan bagi perkembangan kehidupan umat dan diri.

Cinta Ibu. Layaknya seorang ibu, calon imam pun harus memiliki cinta keibuan dalam dirinya. Ia harus menanam dan menumbuhkan-kembangjan nilai-nilai kelembutan, kehangatan, kehalusan dan perhatian penuh kasih sayang seperti seorang ibu. Sikap tersebut harus didasari oleh rasa tanggung jawab yang total tehadap segala tugas dan pekerjaan yang diemban. Hal ini jelas tampak dalam pelayanan calon imam baik dalam komunitas yang berkaitan dengan aspek keribadian, kerohanian dan intelek maupun saat berpastoral dengan penuh tanggung jawab, kelembutan dan kesopanan.[13] Ia tidak melihat untung dan rugi di dalamnya. Yang ada bagi dirinya adalah rasa pengorbanan yang tinggi baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *