Perwujudan Cinta Erich Fromm Dalam Pembinaan Calon Imam

Cinta Diri. Implikasinya bagi pembinaan calon imam yakni setiap calon imam menyadari akan kebutuhan dirinya dalam hal jasmani. Dalam aspek kepribadian/manusiawi dan aspek pastoral, calon imam sadar akan bakat dan talenta yang dimiliki dan berusaha untuk terus mengembangkannya dengan fasilitas yang telah disediakan. Bakat dan talenta ini dapat berupa bercocok tanam, bermusik, berbicara, menulis dan sebagainya. Selain itu, calon imam juga mewujudkan cinta diri baginya lewat ketaatan kepada segala aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, ia bukan hanya mencintai dirinya tetapi juga mencintai panggilannya untuk menjadi seorang imam. Dalam aspek rohani, cinta diri menyata lewat keterlibatan calon imam secara sadar, aktif dalam Perayaan Ekaristi, berdoa pribadi, rekoleksi, ret-ret, membaca dan merenungkan Kitab Suci, berkatekese serta kegiatan rohani lainnya baik secara pribadi maupun bersama. Dalam aspek intelektual, kecintaan calon imam terhadap dirinya diwujudkan dengan kesungguhannya dalam belajar. Calon imam mengikuti perkuliahan secara aktif. Selalu menyediakan waktu untuk belajar, baik dalam hal membaca, menulis, berbicara dan lainnya secara pribadi maupun bersama. Semuanya itu dilaksanakan dengan berlandaskan pada kesadaran untuk memiliki pengetahuan yang luas baik dalam hal filsafat, teologi maupun ilmu pengetahuan lainnya.

Cinta Erotis. Dalam hubungan dengan calon imam, hal ini menjadi persoalan yang serius. Cinta ini menjadi halangan bagi calon imam untuk membangun relasi dan keakraban dengan lawan jenis. Bahkan secara lebih ekstrim tidak boleh memikirkan tentang lawan jenis sebab hal itu adalah dosa.[14] Namun, sesungguhnya tidak demikian. Cinta erotis bagi calon imam bukan secara ekslusif atau cinta yang harus memiliki secara pribadi terlebih khusus lawan jenis. Berkaitan dengan aspek kepribadian, kerohanian, intelektual dan pastoral, calon imam harus dibina untuk menyadari dan melihat cinta secara universal dalam pemahaman bahwa ia tidak hanya terikat pada mencintai/memiliki satu pribadi. Mencintai bagi seorang calon imam harus secara menyeluruh dengan berlandaskan kasih sayang yang merata bagi semua orang. Calon imam pun menyadari akan dirinya yang kelak menjadi seorang imam yag tidak menikah. Tidak menikah dilihat sebagai anugerah dari Tuhan yang memilih dirinya secara pribadi dan ingin ditanggapi secara pribadi dengan penuh tanggung jawab.[15] Hal ini harus dilandasi pada kesadaran bahwa peleburan dan penyatuan cintanya secara eksklusif semata-mata hanya tertuju kepada Kristus.

Cinta Kepada Allah. Suatu kebutuhan yang wajib hukumnya bagi seorang calon imam. Mencintai Allah karena IA Maha Pengasih dan Penyayang yang telah memanggil calon imam untuk menjalani panggilan mengikuti Kristus. Dalam aspek kepribadian, kerohanian dan pastoral, calon imam dibina dan membina diri untuk semakin mengalami dicintai dan mencintai Allah dan mendasarkan hidup pada nilai keutamaan iman, harapan dan cinta kasih. Hal ini diwujudkan dengan melaksanakkan perintah dan ajaran-Nya, mencintai Ekaristi dan merayakannya setiap hari, melakukan visitasi, adorasi, menerima Sakramen Tobat, ret-ret, rekoleksi, dan kegiatan lainnya yang berpengaruh bagi kedekatan dan kecintaannya dengan Allah.[16] Tidak hanya itu, kecintaan kepada Tuhan juga dapat terwujud lewat mencintai diri, sesama dan semua yang ada di dunia ini. Dapat dikatakan bahwa cinta kepada Tuhan adalah kepenuhan dari cinta- cinta yang lain. Sedangkan berkaitan dengan aspek intelektual, calon imam semakin berusaha mencintai Allah dengan memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Allah secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Penutup

Cinta dimaksudkan sebagai daya aktif. Cinta dibagi ke dalam lima bentuk cinta yakni cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta diri, cinta erotis dan cinta kepada Allah. Kelima bentuk cinta itu sangat sangat relevan bagi pembinaan calon imam. Dengan konsep cinta ini, calon imam dapat dibentuk dan membentuk dirinya sebagai pribadi yang mampu mencintai dan dicintai semua orang secara universal.

 

[1] Paulus Subiyanto, Love, Sex and Dating; Berpacaran dengan Cerdas, (Jakarta: Fidei Press, 2012), hlm. vii.

[2] Agus Cremers (ed.), Masyarakat Bebas Agresivitas – Bunga Rampai Karya Erich Fromm, (Maumere: Ledalero, 2004), hlm. 3.

[3] Erich Fromm, Memaknai Hakekat Cinta, Andry Kristiawan (penerj.), (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 26.

[4] Agus Cremers, Op. Cit., hlm. 316.

[5] Erich Fromm, Op. Cit., hlm. 59.

[6] Ibid., hlm. 61.

[7] Altruistis adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Ibid., hlm. 62.

[8] Ibid., hlm. 66.

[9] Agus Cremers, Op. Cit., hlm. 327.

[10] Erich Fromm, , Op. Cit., hlm. 80.

[11] Paus Yohanes Paulus II, Dalam Seri Dokumen Gereja, Pastores Dabo Vobis, art. 42, (Jakarta: KWI-Dopken, 1992).

[12] Komisi Seminari, Pedoman Pembinaan Calon Imam; Tahun Orientasi Rohani (TOR), (Jakarta: Kanisius, 2012), hlm. 28.

[13] Ibid.

[14] Paul Suparno, SJ, Saat Jubah Bikin Gerah 1, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hlm. 18.

[15] Ibid,. hlm. 20.

[16] Komisi Seminari, Op. Cit., hlm. 28-29.

 

 

SUMBER:

ALKITAB Deuterokanonika, (jakarta: LAI, 2008)

Komisi Seminari, Pedoman Pembinaan Calon Imam; Tahun Orientasi Rohani (TOR), (Jakarta: Kanisius, 2012).

Paus Yohanes Paulus II, Dalam Seri Dokumen Gereja, Pastores Dabo Vobis, (Jakarta: KWI-Dopken, 1992).

Fromm, Erich, Memaknai Hakekat Cinta. Andry Kristiawan (penerj.), (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005).

Cremers, Agus (ed.), Masyarakat Bebas Agresivitas-Bunga Rampai Karya Erich Fromm, (Maumere: Ledalero, 2004).

Subiyanto, Paul, Love, Sex and Dating; Berpacaran dengan Cerdas, (Jakarta: Fidei Press, 2012),

Suparno Paul, Saat Jubah Bikin Gerah 1, (Yogyakarta: Kanisius, 2011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *