Tipe-Tipe Cinta Erich Fromm
Cinta Sesama. Cinta sesama ditujukan kepada semua manusia tanpa memandang perbedaan antara satu dengan yang lain.[4] Dalam hal ini, tidak adanya eksklusivitas karena bermula dari pandangan bahwa semua orang adalah satu. Cinta sesama bagi Erich Fromm merupakan cinta antar kesetaraan, walaupun disadari bahwa setiap manusia tidak selalu setara dan selalu membutuhkan bantuan orang lain.[5] Namun, kebutuhan akan bantuan itu tidak menjadikan perbedaan antara pihak yang kuat dan yang lemah. Mencintai sesama sama seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci yakni objek pokoknya adalah orang miskin, orang asing dan bahkan musuh sekalipun.
Cinta Keibuan. Cinta yang tanpa syarat. Keterarahan cinta ibu adalah cinta kepada anak. Ibu mencintai anaknya tanpa menuntut imbalan. Cinta ibu adalah suatu kedamaian dan kebahagiaan yang tidak perlu dicari. Erich Fromm mengungkapkan dua aspek berkaitan dengan kehidupan dan pertumbuhan anak yakni pertama, kepedulian dan tanggung jawab dan kedua menanamkan cinta pada diri anak dengan memberi perasaan baik terhadap anak.[6] Kedua aspek ini memiliki pengaruh pada kepribadian anak secara keseluruhan, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Itulah sebabnya karakter altruistis[7] membuat cinta ibu dianggap sebagai cinta yang tinggi dan suci di antara semua ikatan emosional.
Cinta Erotis. Cinta yang mendambakan penyatuan dengan pribadi yang lain. Cinta ini memiliki sifat yang eksklusif dan tidak universal. Cinta erotis lebih dikatakan pengalaman eksplosif “jatuh cinta”.[8] Dalam cinta erotis terdapat ekslusivitas yang tidak terdapat dalam cinta persaudaraan dan cinta keibuan. Cinta erotis sebenarnya merupakan egoisme dua orang yang mana mereka adalah dua orang yang saling menemukan kesamaan. Cinta erotis mengeksklusifkan cinta terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fungsi erotis dan keikutsertaan dengan semua aspek kehidupan orang lain, tapi bukan dalam arti cinta kasih yang mendalam. Untuk itu, cinta erotis adalah cinta yang tidak lahir dari seseorang yang benar-benar cinta, yang mempunyai satu pendirian, bahwa ia sungguh-sungguh mencintai dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya. Cinta ini hanya karena daya tarik fisik belaka.
Cinta Diri. Mencintai diri terkadang bagi orang tertentu dianggap sebagai sikap yang bersifat negatif. Anggapan itu bertolak dari pandangan bahwa ketika mencintai diri, maka telah menutup diri terhadap sesama. Dengan kata lain, mencintai diri sama dengan mementingkan diri sendiri. Mencintai diri bagi Erich Fromm saling berhubungan dengan dengan mencintai sesama. Apabila mencintai sesama dikatakan sebagai suatu kebajikan, maka mencintai diri pun merupakan suatu kebajikan. Ia mengikuti ungkapan yang tertulis dalam Kitab Suci yakni, “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Baginya, cinta diri sendiri tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama.[9]
Cinta Allah. Cinta kepada Allah merupakan suatu anugerah. Melaksanakan anugerah ini berarti menganggap dan sadar akan diri yang kecil dan tidak berdaya. Kesadaran itu bertolak dari hakikatnya bahwa manusia ada karena di-ada-kan oleh Sang Ada.[10] Oleh karena itu, manusia merasa diri lemah di hadapan-Nya. Cinta kepada Allah berawal dari keterikatan yang lemah dan tidak berdaya kepada-Nya; di mana setiap pribadi memasukkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan dalam diri, sehingga menyatuh dengan-Nya hingga tiba pada titik Allah mentransfer kualitas Ilahi kepada dirinya. Ini merupakan tipe cinta yang berorientasi pada watak dan hubungan pribadi dengan dunia secara keseluruhan, tanpa dibatasi oleh objek cinta.